
Pria hidung belang, buaya darat yang lupa habitat asalnya. Selepas melihat Sri, dia tidak henti mengamati kecantikan paras rupawan dan lekukan tubuhnya. Dia tidak sedang flu, namun pria itu mengusap hidungnya tanpa henti. Berjalan masuk ke dalam hutan, mengikuti jalan setapak kemana dia berhenti. Sri tersenyum melepaskan tusuk kondenya, rambut panjang kecoklatan melambai menggiringnya lebih mendekat.
Dia berhenti di tepi sungai, Mey menepuk pundak melihat di melingak-linguk tanpa memperdulikan istrinya yang sedari tadi memanggilnya mengajaknya berbicara. Mey kali ini memukul keras pundaknya, Oto mengusap tubuhnya yang sakit lalu mengikuti langkahnya kembali ke Vila. Sepanjang jalan. Pria itu masih saja memikirkan Sri hingga sampai di dalam ruangan dia enggan meraih piring dan sendok di atas meja.
“Ayah nggak makan?” tanya Soni memperhatikan ayahnya yang tidak henti melihat ke arah jendela.
“Ayah makan kok_”
Jawaban singkat Oto ingin menuntaskan wanita yang dia membuat dia begitu penasaran.
Mey melihat sikap aneh suaminya, di tengah malam dia melihat Oto berjalan keluar kamar perlahan berjalan pelan. Mengikuti langkah suaminya masuk ke wilayah belakang hutan. Dia berhenti di sebuah gubuk yang terbuat dari atap rumbia. Ketidak percayaannya melihat suaminya berdiri mengetuk pintu rumah wanita si pemilik Vila.
“Mas Oto, cepat sekali kau berubah seperti ini!” gumam Mey menutup mulutnya.
Suaminya masuk ke dalam rumah, sepasang tangan berkulit putih menariknya. Dia tersenyum, Mey mendekat melihat dari jendela tampak suaminya bermesraan. Tanpa rasa ragu dia mendobrak pintu, tangisan di tahan melihat di dalam tempat itu kosong gelap gulita.
“Kemana mereka berdua?” gumamnya memeriksa di sekeliling.
“Hihih, Mey! Kenapa kau sangat mencurigai suami mu sendiri? Apakah kau tidak benar-benar mencintainya?” Penampakan jin merah mengulurkan tangannya yang berlendir.
Mey berteriak ketakutan, pintu terkunci dari luar. Tubuhnya seolah tenggelam masuk ke dalam dasar air. Dia melihat banyak tulang tengkorak menyemai, sebagian air berwarna kecoklatan dari atas berubah –ubah bercampur darah. Berenang mencapai permukaan, dia merangkak sambil berlari melihat sosok putih terbang melayang melewatinya.
Dia menahan jeritan merangkak mencari tempat persembunyian. Badan pepohonan yang berduri terlihat banyak darah keluar dari dalam. Dia meneruskan langkah hingga di depan pintu merengkuh tubuh terjatuh. Kedua anaknya masih terlelap, beberapa makhluk yang ada di gunung keramat menghembuskan mantra terlelap membuat mereka terbawa di alam lain.
“Kakak, kakak! Bantu aku menemukan jalan pulang! Aku rindu ibu ku!” seorang anak kecil merengek memeluk tubuhnya.
Kemuning membiarkan tubuh anak kecil yang bermandikan lumpur itu menempelkannya. Dia menggendong menanyakan arah jalan dimana dia menunjuk terakhir kali tersesat. Langkah berhenti di pembatas area terlarang. Dia menyebut bangunan tepat dimana jin merah dan para pengikutnya. Di pemakan organ tubuh manusia tidak pernah dia lupakan yang pernah membunuh teman-temannya. Farsya tidak mau kembali lagi ke rumahnya, dia lebih nyaman tinggal di gunung.
“Adik, kamu jangan ke tempat itu. Disana ada makhluk jahat. Kakak akan membawa mu turun gunung dan mencari informasi dimana orang tua mu.”
__ADS_1
“Nggak, aku mau ibu kak..! hiks” tangisannya meraung meminta kembali ke hutan.
Panggilan kakak laki-laki yang mencari adiknya, Soni menemukan sandal sang adik di tepi sungai. Hari mulai petang, hewan-hewan liar menggema menakuti. Dia berjalan menuju pos dua, melewati tepi sungai mencapai di atas pos. Tempat yang terbuat dari papan dan bambu terlihat selalu terang di bawah sinar percikan rembulan dan kuku-kuku setan.
Terbangun di depan pintu masuk mendengar suara teriakan anak laki-lakinya. Aungan seekor serigala menghentikan langkahnya. Dia berjalan mundur, masuk ke dalam rumah mengambil pematik membakar kayu dengan tangan gemetaran. Serigala yang menghalanginya tadi telah pergi, memasuki hutan mengikuti suara keras anaknya.
“Bu! Tolong aku!”
Di bawah pohon besar Soni memeluk lutut membenamkan tubuh dipangkuan sosok makhluk bertubuh hitam. Dia menoleh melotot mengeluarkan sepasang mata merah menyala. Soni tidak mau melepaskan pelukannya walau ibunya menangis meminta untuk ikut dengannya.
“Oto, kenapa kau tidak berpaling saja lalu menjadi pengikut ku? Kau akan memiliki segalanya, berikan mereka semua pada ku. Aku tau kau sangat menginginkan Sri kan?”
“Ya, benar sekali. Aku menginginkan wanita cantik itu.Tapi apa maksud mu memberikan mereka pada mu jin merah?"
“Hihih, tidak perlu kau mempertanyakannya. Bukan kah hidup mu akan jauh lebih bahagia dengan wanita pilihan mu! Hihi!”
Jin merah memperlihatkan di masa depan kalau Sri berada di dekapnya. Tanpa rasa ragu, Oto menyetujui perjanjian itu. Perubahan langit gelap menyebar kabut putih pekat. Dari balik asap hitam. Dia melihat Sri berjalan tersenyum mengusap dagunya. Hatinya yang berbunga-bunga mendapatkan apa yang dia tunggu. Pria itu tidak mendengarkan panggilan istrinya, tidak sedikitpun menoleh ke belakang. Dia berjalan masuk tanpa sadar seluruh tubuhnya terbenam di dalam air.
Tubuhnya basah kuyup seperti tersiram darah. Dia melemparkan tubuhnya keluar jendela.
Prang__
Suara pecahan kaca menambah ketakutannya. Mey menggendong Soni berlari keluar, dia memasuki daerah pepohonan, berlari mencari tempat bersembunyi.
“Sttthh, jangan menangis nak. Dia akan mendengar kita.”
Di depan sana jalan buntu, semak belukar tidak cukup untuk menutupi kedua tubuh mereka. Mey meminta Soni tetap bersembunyi. Dia berjanji akan menemui anaknya kembali. Berlari mengalihkan perhatian Mey menjauh sejauh-jauhnya dari persembunyian anaknya.
Suara jeritan ibunya terdengar keras. Burung gagak berterbangan menambah tangisan Soni menunggu ibunya. Dia di tarik seorang wanita pergi menaiki bebatuan terjal. Perlahan dia menapak di bantu Kemuning yang berusaha meyakinkannya agar terus mengikutinya.
__ADS_1
“Cepat raih batu yang ada di sisi itu. Wanita pemakan organ itu pasti mengejar kita! Apakah kau tidak mau bertahan hidup untuk menyelamatkan ibu mu?” ucap Kemuning.
Dia tidak sanggup memberitahu kalau ibu anak laki-laki pasti sudah tewas. Keganasan Sri melebihi hewan liar memangsa korban dan tidak akan pernah melepaskan tetesan darah sekalipun. Kemuning membawanya ke Pos dua, seolah itu tempat yang aman untuk mengumpulkan sisa pendaki atau orang-orang yang berusaha dia selamatkan.
“kemuning, kamu tidak bisa membawa mereka semua menuruni gunung. Aku pun hanya bisa menyelamatkan mu dengan sisa kekuatan yang aku punya.”
“Ayu, aku sangat bersyukur engkau selalu membantu ku. Tapi aku tidak tega meninggalkan mereka semua.”
“Kemuning, aku kan menyelimuti pos ini dengan kabut pekat. Jangan nyalakan api di sekitarnya."
......................
💀
💀
💀
Penyesalan datang di akhir, melihat anaknya di ganti batang emas di bawah pohon membuat dia histeris. Pria itu melihat sendiri bagaimana jin merah membunuh anaknya. Bahkan sisa tubuh Sasya yang tidak bisa dia peluk. Belaian lembut Sri meniupkan nafas di lehernya, dia menggoda sampai tangisan pria yang tidak bisa menipu dirinya sendiri itu menunjukkan sifat aslinya. Mendengarkan ucapan si wanita iblis dia menggandeng tangannya membawa menuju Vila.
Di tempat lain, tepatnya di kaki gunung. Wanita itu berhasil keluar dari jeratan gunung Keramat, dia menoleh lagi berhenti berlari mencari dimana terakhir kali melihat suaminya. Dia tidak mau melepaskan suaminya ke pelukan wanita lain.
“Hei, jangan kau pergi Villa terkutuk itu!” gema suara wanita yang tidak terlihat wujudnya.
Mey mempercepat lari masuk ke dalam hutan.
......................
Tidak hanya satu atau dua keluarga, puluhan orang sampai jutaan terjebak di dalam gunung Kematian. Musibah mengenai penduduk yang bermukim di bawah kaki gunung. Aliran sungai membawa benda-benda yang sengaja di hanyutkan dengan maksud tujuan tertentu. Benda yang tersangkut di batang pohon di temukan salah satu warga. Sambiloto, si anak bolang yang suka berpetualang. Beberapa jam yang lalu ibunya berteriak meminta dia masuk sekolah. Teman-temannya yang lain hanya menonton tingkah konyolnya. Selama satu jam membenamkan diri di dalam air, merasa ada tangan menariknya.
__ADS_1
“Loto!” teriak ibunya berlari masuk ke dalam air.