
Para pendaki tiba di rumah masing-masing. Mereka bersemangat masuk ke rumah merebahkan tubuh. Di dalam pikiran Rapa, inilah hidup yang sesungguhnya. Tidak terjebak di dalam hutan belantara, tanpa ada gangguan hewan buas, makhluk halus atau tersesat di alam lain.
Terlelap dalam alam mimpi kembali berdiri di kaki gunung keramat. Sosok nyata yang mengikuti tidak pernah absen mengejar. Dia berdiri mengenakan pakaian yang sama, kabut putih pekat datang bersamaan dengan panggilan namanya. Dia tidak mau terjebak lagi di dalam hutan yang membinasakan kewarasannya. Jeritan keras menjambak rambutnya sendiri berlari mencari jalan keluar.
Jalan pintas yang terletak di area kawasan kaki gunung di jaga ketat berbagai penampakan manusia berwajah pucat. “Kak Kemuning! Filza! Dedek!” panggilnya ketakutan.
Sosok jin merah mulai menggoda, dia menggunakan segala cara. Di depan Rapa melihat semua teman-temannya menunggu dengan senyuman. Kecuali Kemuning menggeleng kepala menyuruhnya pergi. Bagaimana dia memilih? Ketakutan meraih tangan Filzah terhenti mendengar suara dengusan aneh yang keluar dari nafasnya.
Dia berjalan mundur, pandangan melihat semua teman-temannya menghilang.
“Rapa, kau bisa berkumpul lagi bersama teman, saudara atau mendapatkan semua yang kau mau. Cukup genggam tangan ku ini.”
Sosok jin merah menyebarkan kata-kata manis di dalam sihirnya. Rapa berbalik meninggalkannya, dia tersandung masuk ke dalam sungai yang berisi darah. Terbangun menahan nafas hampir tenggelam ke dasar. Dia membuka mata melihat sekujur tubuhnya bermandikan darah. Berlari masuk ke dalam kamar mandi, dia mengguyur tubuhnya sambil menangis.
Dimana semua orang? Rapa baru tersadar rumah sepi. Semua keluarganya menghilang, dia menggunakan telepon rumah menghubung Filza. Nomornya tersambung, keduanya bertemu di salah satu Cafe. Rapa yang hadir terlebih dahulu, dia memesan segelas kopi karamel coklat. Dia mengambil beberapa foto selfi. Wajahnya sedikit tirus, lingkar mata hitam dan ada sosok bayangan yang lewat di belakangnya.
“Mungkin aja ini salah satu pekerja yang terburu-buru lewat” gumamnya.
Kedatangan Filzah membuat dia tersenyum membalas lambaian tangannya. Di belakang ada makhluk lain ikut melambai, pandangannya memastikan lagi bahwa sosok itu telah pergi. Filza terlihat lebih pucat, tangannya terasa sangat dingin.
“Kamu lihat apa Ra?”
“Nggak apa-apa. Oh ya tumben kamu nggak pake lip gloss. Bibir kamu pucat banget” ucap Rapa melihat rambutnya Rapa yang rontok saat jemari tangannya merapikannya.
__ADS_1
Filza mengambil cermin kecil dari dalam tas. Berkaca melihat bibirnya tampak merah merona. Dia mengambil Lip gloss menambah merah pada bibir. Sebelum memulai pembicaraan, dia memesan segelas Kopi yang sama seperti Rapa. Pandangan beralih melihat Rapa mengambil beberapa helai tisu, dia memasukkan ke dalam gelas lalu makan tisu-tisu itu begitu lahap.
“Hei Ra! Kamu kok makan tisu sih! Yang fokus dong!”
“Huek ! aku nggak sadar Fil! Aku lagi mikir gimana ceritanya kita setelah pulang ke rumah di buntutin hantu? Apa ini karena terkahir kali kita meninggalkan Roy yang kesurupan ya?”
“Bisa jadi dan bisa nggak. Duh kamu jangan nakut-nakutin gitu dong. Aku jauhi tisu ini deh. Oh ya nanti sore aku mau ke rumah mbah Keriting. Aku mau berjuang selamatkan si Roy, kasian dia.”
“Yasuda ntar aku temani, tapi aku heran kenapa keluarga ku nggak ada di rumah. Mereka nggak meninggalkan pesan apapun.”
Rapa mencoba lagi menghubungi nomor kedua orang tua atau kakaknya. Tetap saja panggilan tidak tersambung. Besok jadwal aktif perkuliahan, setibanya kembali di rumah. Dia terkejut melihat rumahnya yang berantakan. Mengambil sebuah payung pajangan, dia melihat siapa penyusup yang masuk ke dalam rumah. Memeriksa kamar, ruangan kamar, kolong lemari dan bawah meja namun tidak terlihat ada tanda-tanda apapun. Dia memeriksa brankas, perhiasan dan semua benda berharga masih pada tempatnya.
Kamarnya tercium aroma amis yang menusuk. Dia sudah mengganti sprei sebelum pergi. Tapi darah hitam membekas di atas kasur. “Rapa, kamu tidak bisa terlepas begitu saja. Kamu masih ada janji di gunung Keramat. Hihihih” bisikan jin merah.
Rapa menggunakan tas selempang mengayun meraih balon-balon kecil itu. “Kamu ngapain Ra?”
“Habis bantuin adik-adik kecil tadi ambilkan bolanya.”
“Adik kecil laki-laki dan perempuan? Mereka udah meninggal tahun lalu Ra” ucap Filzah melirik dimana kejadian kedua anak itu terjatuh dari tangga.
Rapa berlari ke luar di susul Filzah, ketakutannya terlihat jelas di matanya. Filzah menepuk pipinya, dia mulai mengemudikan mobil berharap Rapa tidak sampai kesurupan. Mereka melajukan kendaraan menjemput Dedek, di sebuah rumah memasuki wilayah pedesaan itu dia melihat warga berjalan sambil melihatnya. Seorang nenek mengetuk pintu kaca, dia melotot menakuti Rapa yang semakin histeris menutup rapat kaca jendela.
“Cepat jalan Fil!”
__ADS_1
Mobil mereka terparkir di bawah pohon dekat rumah sederhana yang berjejer jemuran kain di depannya. Dedek berlari dari dalam, tubuhnya basah memperlihatkan matanya yang sembab seperti orang habis menangis.
“Tolong! Ada yang mengejar ku!”
Mereka segera masuk ke dalam mobil melajukan kendaraan kencang. Perlahan kemudi Filza mulai stabil, dia mencari alamat rumah mbah Keriting. Rem mendadak Filzah mengejutkan Rapa dan Dedek yang masih ketakutan. Filzah keluar melihat benda terbang apa yang menabrak mobilnya.
Kabut putih merasa menutupi jalan, suara yang sama seperti suasana di hutan. Filzah masuk ke dalam melanjutkan mengemudi terkadang melihat ke arah kaca mobil bagian belakang.
“Tadi apa yang kita tabrak Fil?” tanya Rapa.
“Nggak ada apa-apa...”
Tiba di sebuah pemondokan bambu, orang –orang bertopi blangkon berdiri berjejer di pintu masuk. Ketiganya berjalan ke perkumpulan orang-orang yang sedang mengitari api. Pria bertubuh gemuk menggiring mereka memasuki upacara ritual.
Mengambil posisi duduk sedikit lebih mendekati api yang semakin berkobar menyebar hawa panas. Upacara itu berlangsung selama beberapa jam. Dedek merasa tubuhnya sangat lemas. Pria yang memakai kalung hitam berdiri memberikan sekepal nasi pada mereka.
“Di habiskan” ucapnya.
......................
Semua situasi carut marut, kepergian Mena masih menjadi momok yang menakutinya. Edi meredam semua ketakutan mencoba memulai hidup baru bersama Bela. Perpindahan rumah, suasana baru menghilangkan segala jejak mengenai masa kelam. Tetap saja dia di kejar bayangan kaitan cerita yang belum terhapus.
Bela dan Edi memutuskan mengadopsi anak agar memancing segera mendapatkan anak kandung. Ceril berusia enam tahun, dia tergolong anak yang penurut dan cepat berbaur dengan lingkungan. Edi dan Bela memberikan kasih sayang berlimpah ruah. Apapun keinginannya selalu di turuti.
__ADS_1