Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Ditarik kematian


__ADS_3

Catatan Kemuning


Aku lebih sering melihat penampakan wujud nenek. Mulanya aku hanya melihat sebagai penghuni gunung yang mengikuti sosok nenek saja. Tapi ternyata aku salah, nenek seolah nyata setiap hari menemaniku. Hari ku yang dingin di hutan belantara berubah hangat. Kehadiran nenek membuat ku merasa sangat nyaman. Aku berhenti melepaskan sukma untuk menembus dimensi lain mencari sisa arwah teman-teman yang terjebak atau memberi tanda menemukan mayatnya.


...🔥🔥🔥🔥...


Di tengah perjalanan, Kemuning berhenti memperhatikan kaki neneknya yang lincah melompat melewati penghalang kayu kering atau menyebrang dari aliran titi kecil. Nenek lebih semangat darinya, ada yang janggal di penglihatannya melihat wajah neneknya sangat pucat.


“Kamu pasti haus, kita istirahat sebentar Biar nenek saja yang mencari kayu.”


“Nek, nenek disini aja ya Kemuning nggak jauh-jauh kok__”


Di bagian ilalang yang menghubungkan semak rimbun dekat jurang, Dia mendengar suara tapak kaki kuda. Bersembunyi melihat rombongan kereta kuda hantu yang di ikuti para arwah manusia yang bergentayangan, kali ini dia melihat Jaja ikut berjalan di bagian kereta paling belakang.


“Jaja! Pstth!” panggilnya menarik Jaja.


“Kamu ngapain ngikutin mereka? Itu kan wanita kebaya yang sering manga manusia! Ja! Kamu dengar nggak sih?”


Kemuning melihat Jaja berlari mendekati kereta kuda. Dia mau mengejar tapi Ayu menahannya, lagi-lagi dia hadir di situasi genting. Menjaga keselamatan Kemuning yang keberadaannya hampir di ketahui.


“Nggak usah, dia itu ngikut saudara kembar nya” ucap Ayu.


Jaja mendaki gunung mencari saudara kembarnya, harapannya telah terkabul tapi menemukan saudara kembarnya menjadi sosok makhluk halus. Dia ikut bersamanya, Jaja dan Jeje mematuhi semua perintah hantu kebaya.


“Kemuning..” panggilan suara neneknya yang semakin terdengar jelas.


Dia sangat terkejut, neneknya berdiri di belakangnya. Senyuman nenek terlihat menyeramkan, dia merangkul badan cucunya menggiring ke bawah pohon dekat bakaran api yang menyala. Kemuning keheranan, sang nenek bias menyiapkan tumpukan daun lebar dan membakar kayu dalam sekejap.

__ADS_1


“Nek. Maaf Kemuning belum sempat mencari kayu. Tadi kemuning melihat rombongan kereta kuda” “Tidak apa-apa sayang. Selama ada nenek, tidak ada yang bisa menyakiti mu..”


Wadah yang menggantung pada batang kayu berukuran tebal mengepul di atasnya ada jamur yang siap di santap. Kemuning tertegun, dari mana neneknya menemukan semua itu. Nenek tidak merasakan panas ketika mengambil wadah dari pengaitnya. Menggunakan ranting yang di siram air, nenek mengambil bagian potongan badan jamur lalu memberikannya pada Kemuning.


Pemandangan seperti wisata keluarga d alam bebas, ada nenek yang membuat dia merasa aman dan terlindungi. Nenek menyeduh teh hangat, menyuapinya dan memastikan dia tidak di gigit serangga. Kemuning melihat kesedihan di wajah nenek, dia selalu mengusap dan mengecup dahi cucunya.


“Nenek menjemput Kemuning pulang kok sendirian? Kemana ayah dan ibu? Terus, nenek pesan kalau di hutan kita nggak boleh mengambil apapun terutama hutan anger ini” tanyanya sambil mengunyah makanan.


“Mana duluan ya yang nenek jawab, yang penting nenek bahagia ketemu cucu nenek.”


......................


Kaki Bob kram, dia menekuk lutut meminta yang lain berhenti. Langit gelap beralas kabut putih pekat, dia takut terpisah dengan teman-temannya. Bob meminta teman-temannya tetap memegang tali agar mereka tetap terhubung. Suara-suara mengerikan bersahutan, Bambang mendekati Santi sampai tanpa sengaja mengenai pinggangnya. Tanda tangan lima jari tergambar di wajahnya.


“Ampun San, aku janji nggak dekati kamu lagi!” ucapnya kesakitan.


Hanya satu tenda dan satu tikar khusus berjaga di luar. Santi yang bersifat jantan tidak mau kalah ikut berjaga di luar. Kantil tidur sendirian di dalam, dia seperti mimpi atau melihat secara nyata ada sosok besar berjalan di belakang tenda. Di tangannya seperti membawa senjata, dia menjerit membuka tenda melihat semua teman-temannya tidak ada.


“Mbang, Bob, Santi!” panggilnya.


Pandangan terbatas karena kabut pekat menutupi. Sosok makhluk mengejarnya, Kantil berlari di tengah gelapnya hutan. Terjatuh, bangkit lagi sampai terlempar ke jurang. Dia seperti memiliki nyawa kucing yang tetap hidup, selamat dari kematian.


“Tolong!”


Kantil melihat sosok tubuh berbulu mirip wajah ayahnya. Tanpa terasa dia berhenti di depan pohon yang sangat besar. Di tengah-tengahnya berongga terbuka, sepasang mata menyala melihatnya.


“Kantil! Kamu kemana aja sih? Jauh banget sampai kesini” ucap Bob.

__ADS_1


Santi dan Bambang menghampiri mendekatinya. Mereka berhenti di sebuah tempat yang di penuhi tulang tengkorak, ada ayahnya yang duduk menghadap ke makhluk aneh bertubuh kayu yang mengeluarkan tetesan darah dari matanya.


“Ini dimana? Kita kok nggak balik ke tenda?” Tanya Kantil melihat sikap teman-temannya berubah aneh.


Keinginan manusia yang terlalu serakah, telah mendapatkan apa yang dia mau namun merasa kurang dan ingin lebih dari segalanya. Segala tanda firasat buruk di depan mata tapi dia mengabaikan bahwa yang di lihat bukan anaknya. Kantil berwujud makhluk halus berdiri menembus dinding bebatuan. Akan tetapi Hendro meneruskan ritualnya.


“Pak Capit, beritahu aku bagaimana bias menjadi sosok hebat seperti mu. Aku juga mau mempunyai ilmu yang tidak terkalahkan”


“Ahahah! Kau harus sanggup melupakan semuanya. Anggap gunung keramat ini rumah mu. Mereka yang di luar sana akan berbondong-bondong mencari mu.”


“Ya, aku setuju dengan persyaratannya..”


Dia terlalu bernafsu mendapatkan ilmu tinggi, bisikan setan melupakan keluarga menganggap tunggal hidup sendiri. Tidak ada lagi mantra pelindung untuk anak dan istri, dia juga rela melepaskan mereka.


“Tunggu, aku hanya berpura-pura mengiyakan kata pria tua yang busuk ini. Aku tidak akan setuju kalau sampai terjadi sesuatu pada keluarga ku! Kalau aku sudah mendapatkan semuanya maka aku akan kembali!” gumamnya.


Dia melakukan persemedian di dalam gua bebatuan, mantra terhenti mendengar suara teriakan Kantil. Dia mengabaikan perkataan Capit, keluar gua melihat anaknya di seret Capit, bajunya robek menampakkan bagian setengah tubuh.


“Lepaskan anak ku Capit!”


“Apa? Santapan ku ini adalah anak mu? Bagus kalau begitu, jantungnya dapat kau ambil untuk melengkapi ilmu mu. Bukan kah itu yang kau inginkan? Memiliki kehebatan melebihi ku?"


Capit mengangkat keris menusuk pundak Kantil yang menghindar sampai dia merangkak menjauh. Melepaskan keris, darahnya keluar mengubah Capit mendengus mirip hewan akan memangsa. Hendro membantu mengangkat Kantil, dia merasa tubuhnya ada yang menggerakkan. Capit komat-kamit mengucap mantra. Tangan Hendro mengambil keris mengayun ke tubuh Kantil.


“Cepat pergi!” bentak Hendro menahan tangannya sendiri.


Kantil berjalan pincang sambil menekan lukanya menjauhi tempat itu. Capit mengejar di tahan Hendro menggunakan semua kekuatan hitamnya.

__ADS_1


__ADS_2