
Kabut putih berselimut rintik hujan, dingin menusuk tulang. Jaket tebal, bakaran api yang mati, tumpukan kayu basah, suara aneh dari dalam hutan dan penampakan yang terlihat. Suasana ini tetap sama, ketakutan tidak akan pernah berhenti di rasakan.
Mayat-mayat para pendaki yang menghilang, kematian dan beraneka ragam jenis gangguan yang di rasakan. Tetap saja banyak manusia yang nekad memasuki kawasan berbahaya tersebut.
Bata mengingat bagaimana dahulu ayah dan ibunya memperjuangkan kehidupannya. Dia menangis setiap malam merindukan kehadiran keduanya. Tepat dua puluh lima tahun lalu, dia kembali mengarungi alam lain melihat seperti apa kejadian dirinya yang akan di kaitkan dengan kematian memasuki angka dua puluh enam. Angka genap yang di sebut sebagai kesialan gangguan dari gunung Keramat.
đź’€Sebelum kelahiran Bata
Pernikahan Onsu dan Xin di gandrungi banyaknya masalah. Xin yang tidak pernah tersenyum, dia terlihat seperti menahan kesedihan yang mendalam. Dalam acara pernikahan dan pesta yang di gelar, Xin tidak sedikitpun membalas tatapan mata Onsu.
Wajahnya sangat cantik, kulitnya mulus seperti kapas, tubuhnya ramping.
Teman-teman Onsu memuji kecantikan Xin, mereka bersanding si atas pelaminan dengan mengenakan pakaian khas adat yang ada di daerah itu. Suasana pesta meriah, ibunya Onsu memberikan banyak mahar dan memberikan semua keperluan pesta sampai yang terperinci.
Baju-baju baru yang terpajang di dalam lemari pakaian, kaca rias lengkap penuh dengan semua kebutuhan Xin dan rumah besar bertingkat dua yang di wariskan untuk anak dan menantunya. Di tengah lantunan suara musik, teman-teman Onsu yang ikut berbahagia semalaman bergoyang, berkaraoke sambil bersenda gurau.
“Hei Onsu! Kemari kau biar aku ajarkan cara malam pertama yang baik dan benar. Hahah” ucap Kiki.
“Dasar kau bujang lapuk. Belum menikah saja udah tau bagaimana cara malam pertama! Kau pria yang sangat nakal! Aku sarankan Onsu tidak mendengarkan ucapan mu atau di akan sama buayanya seperti mu!” kata Kiki melanjutkan tegukan minuman keras.
“Aku sukanya binik yang pintar dalam segala hal. Kalian lihat itu si Ega sangat patuh pada ku! Tinggal d bentak sedikit aja dia pasti takut! Gue gitu loch!”
Toton menepuk dada sangat bangga dengan dirinya sendiri. Dia tidak mengetahui sedari tadi ada Ega yang berdiri mendengarkannya duduk di belakang. Dia membawa sepiring makanan, kepala mengangguk-angguk melihatnya.
__ADS_1
“Duh aku mules nih, aku duluan pulang ya Su! Dah!” ucap Sotoy.
“Tunggu gue ikut Sot!” Ruben berlari di ikuti Gege.
“Yauda kalian nikmati makanan dan minumannya ya aku istirahat dulu” kata Onsu sambil tersenyum melihat ke belakang.
“Oke Su sukses ya! Ahahah. Nah lu mau kemana Ki? Masa aku di tinggal sendiri!”
“Mau ke belakang!”
“Bilangin sama si Ega, bawakan makanan untuk ku! Dia pasti takut dan langsung membawakan! Ahahah, kita sebagai lelaki tidak boleh takut istri. Kita adalah raja! Ahahah!”
“Raja kepala mu botak!” gumamnya melihat sorot mata Ega seakan mau menelan si Totom. Dia hanya mengangguk ketakutan bak melihat hantu lali pergi membawa sendalnya. Tepukan pelan di pundak Totom menyadarkan ada Ega di belakang. Dia mengambil setumpuk makanan lalu di suapkan ke mulutnya.
“Makan yang banyak ya raja! Huruf A lebar nya mana?”
Di dalam kamar pengantin, Onsu mulai mengganti pakaiannya, dia tersenyum melihat Xin tertidur membelakanginya. Pakaian tidur yang belikan ibunya sangat pas dan seksi di tubuh wanita yang menyandang gelas sebagai istrinya.
Perlahan dia mau menyentuh Xin, tapi dia terdengar mendengkur sehingga Onsu mengurungkan niatnya.
“Tidurlah Xin, kau pasti sangat lelah hari ini” ucap Onsu memandanginya tubuhnya dari belakang.
Sebelum melangsungkan pesta, ibunya memberikan jimat gelang dan kalung di tangannya. Benda berwarna hitam terbuat dari tali dan bandul yang di jahit dengan benang merah. Sepanjang malam dia berpura-pura mendengkur menahan ketakutannya.
__ADS_1
Lantai atas terdengar suara tempat tidur yang berderit. Suara yang sangat kua membangunkan ibunya berpikir mereka sedang melakukan malam pertama. Sosok makhluk yang berada di dalam tubuh Xin merasukinya menimbulkan getaran yang sangat hebat. Onsu terjatuh dari tempat tidur melihat Xin seperti sedang bermimpi buruk. Tetap saja pria pemalu itu membiarkannya dan tidak berani membangunkan.
Menjelang pagi, dia tidak menemukan Xin di kasur, dia berlari mencari ke seluruh tempat sampai bertanya pada bi Ndang. Mendengar ibu dan istrinya berada di kebun, dia segera berlari menemui mereka. Wajah bangun tidur, pakaian hanya memakai kaos singlet dan celana pendek. Sesampainya disana ibunya mencubitnya lalu mengusirnya. Xin melihat aksi amarah Ime dari belakang.
“Cepat pulang dan ganti pakaian mu! Kebiasaan mu tidak pernah berubah!”
“Maaf bu.. Xin! Ayo temani aku pulang” ucap Onsu menarik tangannya.
Setiap malam tempat tidur itu seperti mengalami gempa, lagi dan lagi Onsu melihat Xin mengalami mimpi buruk. Malam ini Onsu mencoba menyentuh tangannya, Xin menolak menggeser tubuh menjauhinya.
“Baiklah Xin, aku akan tidur di bawah."
Onsu mengambil bantal berharap Xin merubah pikirannya. Namun wanita itu tidk bergeming, posisi tidur tetap sama membelakanginya.
Semalam berpikir apa yang urang pada dirinya sehingga Xin tidak mau dia sentuh. Dia melihat wajahnya di cermin, tidak ada yang cacat begitu pula dirinya. Dia tau pasti Xin ingin dirinya memilik pekerjaan tetap. Perkebunan dan persawahan itu milik ibunya. Di pagi hari Onsu mengemudikan mobil berpakaian rapi membawa map berisi ijazah dan surat lamaran pekerjaan. Beberapa perusahan yang dia datangi sama sekali tidak menerimanya.
Onsu sangat menyesal dahulu malas sekolah, lebih suka bekerja mencangkul dan membajak sawah hingga bolos sekolah. Dia mengirim pesan kepada teman-temannya untuk membantu mencarikan pekerjaan. Sebelum pulang, dia singgah ke toko perhiasan.
Dia ingin memberi kejutan pada Xin. Tepat setelah makan malam, Xin selalu tidur duluan dan posisi tidur selalu membelakanginya. Onsu mengganti kalung dan gelang hitam Xin. Dia memberikan kalung emas yang dan gelang berlian.
“Apa yang kau lakukan On? Mana gelang dan kalung ku? Aku hanya mau pemberian ibu ku!”
“Xin, aku hanya mau menggantinya dengan yang baru. Aku pikir kau tidak suka sekotak perhiasan dari ibu ku”
__ADS_1
“Mana Kalung dan gelang ku! Cepat carikan!” teriak Xin histeris.
Ime mengira pertengkaran hebat sedang terjadi antara anak dan menantunya. Suara bantingan pintu dan jendela, teriakan Xin dan benda-benda yang terlempar. Dia menahan diri agar tidak mencampuri urusan rumah tangga anaknya. Sementara Onsu mencari benda kesayangan istrinya itu. Lampu tidak bias dinyalakan membuat dia kesulitan mencari.