Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Fitnah Iblis


__ADS_3

“Siapa kau berani masuk ke wilayah ku? Apa kau mu mencari mati?” Tanya Capit melotot.


“Kau telah menyihir keluarga ku, Capit cepatlah kau bertobat sebelum Allah murka pada mu!”


“Hahaha, ilmu mu itu masih dangkal ustadz ingusan. Bagaimana bias kau di sebut seolah yang ahli ibadah dan dekat dengan Tuhan mu kalau kau tidak bisa menyelamat kan istri mu! Hahah!”


Ucapan Capit membuat para pengikutnya ikut tertawa. Capit memukul kepala Umar, dia diseret para pengikutnya masuk ke dalam gua bebatuan. Edi berlari memberitahu warga kampung sedangkan ustadz Indra memberitahu pak Genta.


Kedatangan Indra di sembunyikan Genta karena istrinya Atik masih terbaring lemah di kamar. Dia juga sesekali melihat kondisi cucunya yang belum membuka mata. Genta segera menghubung polisi lalu meminta ijin pada istrinya untuk menjemput Umar. Perasaan batin seorang ibu yang merasakan anaknya dalam bahaya bertanya ada apa yang terjadi padanya.


“Sungguh Genta jika memang terjadi sesuatu pada anak kita Umar maka jaga dia, aku akan menunggu bersama Iman..”


Indra dan Genta menyusul Umar, kedatangannya di ikuti Edi dan warga kampong memasuki area pedalaman hutan. Akar hidup itu bias terbuka menunjukkan gua bebatuan hanya dengan sihir Capit. Indra dan lainnya mengucapkan ayat-ayat suci Al qur’an sampai akar patah berjatuhan.


Sadar dari siuman, Umar terkejut tubuhnya di kubur hidup-hidup. Dia kesulitan bernafas mengucapkan surah pendek hingga sekuat tenaga. Menggunakan kekuatan ilmu putihnya dia berhasil keluar dari dalam tanah. Di dalam hutan yang di kelilingi ratusan mayat yang di tegakkan itu salah satunya bergerak mengganggu. Umar membacakan ayat, tubuhnya di banting sekuat-kuatnya. Pocong menyerbu di lanjutkan sosok Capit mengirimkan sihir. Umar kerasukan, di dalam alam lain dia melihat istrinya yang kesakitan di dalam kecelakaannya.


“Kau bukan Amina. Istri ku sudah tenang di sisi Allah” ucapnya berjalan menyusuri kegelapan. Dia mendengar panggilan suara ayahnya, tapi dia sangat sulit mencari jalan keluar.


Setitik cahaya yang Nampak baru menyadarkannya setelah tanpa sadar menghajar ayahnya sendiri, pak Edi dan Indra. Ubun-ubun di hembus Edi, dia menggunakan dua ilmu memisahkan santet yang di kirim saudaranya Capit.


“Ya Allah Umar!” Genta membersihkan darah yang mengalir di kepala anaknya.


“Maafkan Umar Ayah, gara-gara Umar ayah jadi celaka”

__ADS_1


“Tidak anak ku, ini karena gangguan Capit si manusia iblis. Bangkit lah anak ku, kalahkan dia.”


Di tengah keramaian mereka berdebat perihat Iman dan takwa. Kebanyakan warga tidak berani melawan atau mematahkan kata-katanya. Capit melotot, dia menendang Umar dan mengatakan sebagai ustadz sesat yang bias bangkit dari kubur.


“Semua lihatlah sekujur badannya di penuhi tanah yang berlumpur, dia sudah berjam-jam terkubur tapi masih dapat bangkit membongkar kuburannya sendiri. Dia juga menggunakan cara licik mengobati Rusmi dengan menikmati tubuhnya. Bukan kah begitu Indra?”


“Ya benar sekali, aku sendiri yang melihatnya” ucap Indra menyeringai bahagia melihatnya menderita.


“Ini Fitnah! Aku tidak pernah menyentuh sedikitpun kulitnya. Di malam itu aku di damping almarhumah istri ku Amina. Bagaimana bisa kau tega memfitnah ku Indra? Sahabat yang paling dekat dengan ku..”


“Umar, coba kau lihat lebih dalam mengapa tidak aku saja yang menduduki semua posisi mu yang tertinggi itu. Kemarin Amina itu ada sangkut pautnya dengan ku. Semua karena dia menolak ku dan memilih mu” bisik Indra mendekatinya.


“Ya Allah Indra, teganya kau memfitnah anak ku!” bentak Genta yang tubuhnya di tahan pengikut Capit.


Umar di seret menggunakan rantai yang mengikat tubuhnya, dia di gantung di atas gua bebatuan. Tawa Capit dan para pengikutnya menyaksikan penderitaannya. Dia menawarkan supaya menjadi pengikutnya dan bersama-sama menguasai dunia. Umar tidak henti mengucapkan ayat suci Al qur’an yang membuat Capit semakin murka. Dia di lempari batu hingga mata sebelahnya tidak lagi dapat melihat.


“Cukup hentikan! Jangan siksa anak ku!”


“Umar, aku jadi merasa bersalah pada mu” gumam Indra mengalihkan pandangannya.


“cukup Capit, kau sudah menyuruhku memfitnahnya maka lepaskan ustadz yang tidak bersalah itu. Kau sudah berjanji tidak membunuhnya!” ucap Rusmi.


“Diam kau! Ilmu lebih tinggi dari si manusia yang agamanya setengah-setengah ini. Sihir ku saja tidak mampu dia lepaskan dari tubuh mu! Ahahah!”

__ADS_1


“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan beribadah dengan penuh ketulusan, kekhusyukan, dan tawakal. Hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan dalam segala urusan dan keadaan kami, sambil kami berusaha keras. Kami memohon, tunjukilah kami jalan yang lurus, dan teguhkanlah kami di jalan itu, yaitu jalan hidup yang benar, yang dapat membuat kami bahagia di dunia dan di akhirat, serta dapat mengantarkan kami menuju keridaan-Mu. Alalhuakbar!”


Capit melemparkan bola api ke arah Umar, ayahnya berlari menghalangi kiriman sihir itu. Teriakan umar melihat ayahnya terjatuh meninggal dengan sepasang mata terbuka. “Ayah! Allah jangan tinggalkan kami sendirian! Allahuakbar!”


“Diam! Cepat lempari lagi dia dengan batu!” bentak Capit mengerang.


Ribuan batu yang menghantamnya membuat dia setengah sadar menatap langit tidak henti-hentinya berdo’a meminta pertolongan kepala Allah, Tuhan semesta Alam. Tiba-tiba petir menyambar Capit dan semua para pengikutnya. Indra meminta ampun kepada Allah atas dirinya yang ingkar dan mendustakan agama. Para pengikutnya lenyap seketika begitupula dengan Capit sambil menggenggam tongkat milik penghuni gunung keramat.


Ajal menjempul Umar, sebelum kematiannya dia mengucapkan dua kalimat syahadat. Kiriman Capit sirna membangunkan Iman dari dalam tidur panjangnya. Kabar kematian anaknya Umar dan suaminya Genta merobohkan tubuh Atik yang tidak sanggup menapak.


......................


Kejadian itu sudah lama sekali tapi rasa sakit kehilangan tidak akan pernah terhapus. Dia tidak mau lagi kehilangan cucunya di samping rasa rindu ingin bertemu. Dia berharap cucunya selamat dan bias melepaskan sihir yang belum hilang. Kabar hidupnya Capit kembali sebagai symbol pengikut iblis.


“Nenek, aku mendengar sosok Figo adalah Capit. Pasti gua bebatuan itu masih menjadi sarangnya disana. Aku jadi khawatir pada kak Nisa dan teman-teman nek. Kemarin si Jeri di cekik nya, kelakuannya juga sangat mencurigakan.


“Kalau kamu mau menolong mereka, maka kamu harus mempunyai persiapan yang matang. Melawan manusia iblis tidak cukup dengan seseorang yang berilmu putih seperti ayah mu.”|


“Lalu bagaimana aku bisa mengumpulkan semua ilmu itu nek?”


“Allah yang akan memberikan petunjuk atas semua takdir dan kehendaknya. Sebagai umatnya kita tidak henti memohon petunjuk, meminta pertolongan dan pengampunan dari Nya.”


Kepergian Iman menjadikan sebuah momok yang mengembalikan tayangan pikirannya mengingat cerita lalu. Kematiannya bersumber dari kedatangan ayahnya. Setiap malam dia mengasah ilmu agar dapat membunuh keturunan musuhnya itu dari jarak jauh. Iman yang mendirikan sholat di sepertiga malam agar terlindung dari serangan sihir, santet dan teluh. Dia berjanji pada diri sendiri akan menyelamatkan neneknya.

__ADS_1


“Aku yang akan melenyakanmu Capit” gumamnya.


__ADS_2