
Pertemuan itu berubah menjadi sebuah ketakutan. Ririn tidak berkata apapun , dia tersenyum datar melihat Erik. Sambutan jabatan tangan terhenti, Ririn segera menarik tangannya melihat wajahnya yang berubah-ubah. Farsya menawarkan mereka bermalam, semula rasa ragu Ririn campur aduk antara ketakutan atau bahagia bias bertemu adiknya lagi. Dia bersama Edo berdiskusi mengenai langkah yang akan di ambil. Edo memberitahu bahwa temannya memiliki seorang kenalan pengobatan masalah mistis.
“Banyak sekali dukun yang kami singgahi mas, tapi tidak ada satupun yang sanggup memecahkan masalah ini..”
Dini hari di ramaikan suara mesin pemotong rumput. Ririn terbangun membuka tirai gorden melihat Erik memotong rumput dengan menggunakan baju serba hitam. Sesekali pandangannya berwujud adik Iparnya berganti penampakan makhluk halus. Gendoruwo, makhluk yang bisa berubah wujud menyerupai manusia yang dia inginkan. Tubuh berbulu memperlihatkan sepasang mata merah menyala. Gigi taring panjang, kuku yang menjuntai. Aroma tubuhnya yang khas menyengat kemenyan.
Dia menutup mulutnya sendiri, Tarak berdiri tegak memakan bangkai tikus yang di berikan pada sosok makhluk berbulu. Berjalan menuruni tangga memberitahu adiknya, kamarnya berkedip di depan sosok gendoruwo menatapnya penuh amarah.
Ririn berteriak minta tolong, dia kembali ke kamar jatuh pingsan di tangkap Edo yang dating dari belakang.
Kejadian tadi malam terlihat jelas di hadapan. Erik bukan lah manusia begitu juga keponakannya. Meja makan hening, suara rintik hujan dan petir menyemai di hari yang gelap.
“Kakak, aku sudah tau siapa anak dan suami ku. Biarkan kami hidup bahagia.”
Ucapan Ririn sama dengan penggambaran suasana hatinya.
Dia menahan menangis menahan perutnya yang mulai merasakan sakit. Sedari pagi dia tidak melihat kehadiran Edo. Mendengar ucapan sang adik membuatnya ingin segera pergi dari rumah tersebut.
“Aku tidak akan mempertanyakan harta warisan atau berharap rumah peninggalan ibu. Kalau adik ku sudah memutuskan pilihannya maka aku tidak akan menghalangi” gumamnya.
Sambil menahan sakit, Ririn mencari suaminya yang tidak ada di dalam rumah. Membuka pintu belakang tampak tawa Edo bersama Erik sedang mencangkul bangkai-bangkai tikus yang bertebaran di atas rerumputan.
“Mas, kamu ngapain? Ayo pulang! Mas!”
“Hahaha! Ririn, lihatlah. Bagaimana bubur pagi ini? Dagingnya sangat lezat bukan?” ucap Edo yang kesurupan.
__ADS_1
Ririn memuntahkan semua isi perutnya, dia melihat penampakan jin merah dari celah jendela. Ketakutannya akan trauma mengenai ingatan gunung Keramat. Semua yang berkaitan masih menghantui hidupnya. Dia berlari keluar di kejar Edo membawa cangkul di tangan.
“Ririn, kamu itu milik ku. Hihih” gema suara jin merah.
Berlari tanpa menoleh ke belakang, Ririn yang tidak kuat mulai merasakan darah mengalir keluar. Dia pingsan, di alam lain melihat Farsya, Tarak dan sosok Gendoruwo tersenyum mengitarinya. Mereka menabur tanah di tubuhnya, Edo memeluk seorang wanita sampai bermesraan di depannya.
“Ririn, buka mata mu. Kau akan melihat kenyataan pahit ini. Hihi”
Jin merah seperti memberikan sebuah tanda rahasia yang selama ini tersimpan. Tepat ketika dia membuka mata melihat wanita yang sama di mimpinya. Jarum infus menggantung, dia tidak lagi merasakan denyut nadi bayinya.
“Suster, mana bayi saya sus?” teriak Ririn.
“Kembalikan anak ku jin merah! Kenapa kau tidak membunuh aku saja! Hiks”
“Ririn, kalau kau tidak hidup maka kau tidak akan tau siapa pria yang selama ini kau percayai dan jika kau mati maka bayi mu akan di urus ibu tiri yang sangat di cintai ayahnya. Hihih.."
Dering suara ponsel melirik nya mengangkat sebuah sama yang terbaca Santo. Dia berpikir pasti teman sekantornya yang menelepon. Ririn mengangkat telepon mendengar suara wanita bernada suara manja merayunya.
“Halo mas kamu dimana sih? Aku kan kangen. Oh ya jangan lupa sesuai janji kamu ya transfer aku uang bulanan. Dah sayang..”
Suara itu sangat mirip dengan suara sahabatnya Santi menutup telepon lalu menghapus panggilan masuk. Saat melihat Edo terbangun, dia menutup mata melirik suaminya meraih telepon. Ririn masih belum percaya sepenuhnya, dia tetap menganggap jin merah mengganggunya.
Tepat di hari kepulangannya suara bunyi bel di kejutkan dengan kedatangan sahabatnya Santi. Dia gadis berumur telah menyelesaikan kuliahnya tahun lalu. Seharusnya mereka wisuda sama-sama jika Ririn tidak sibuk mengurus pembangunan atau melakukan pendakian.
Wajah yang terawat, rambut tebal, kulit putih dan pakaian seksi. Dia membawa buah tangan, dua keranjang berbagai macam buah-buahan.
__ADS_1
“Satu untuk sahabat baru ku Edo dan satu lagi untuk sabahat lama ku Ririn” ucapnya tersenyum.
Edo dan Santi saling memandang sangat lama sampai terhenti di tepuk Ririn yang mengajak mereka ke dapur. Edo adalah tipe pria yang suka memasak, seolah dia tau kesukaan Santi. Ayam sambal saus merah dan indomie kuah bertabur cabai rawit.
“Wah masakan mas Edo lezat! Terimakasih ya mas..” ucap Santi meliriknya manja.
Ika sahabat yang tidak menganggapnya ada. Dia duduk mendekati Edo, menuangkan makanan dan minumannya. Malam ini dia minta menginap, Ririn memberikan kamar khusus tamu yang berada di lantai bawah. Sikapnya semakin aneh dan selalu bertanya mengenai suaminya.
“Ririn, kalau kau mau maka aku akan membunuhnya. Kau masih tidak mempercayai ku kan? Hihih. Cuma satu tarikan maka jantung itu milik ku..”
“Pergi!” teriak Ririn.
Ririn terbangun dari atas sofa, setelah mengantarkan Santi ke dalam kamar tanpa terasa dia duduk di sofa sampai tertidur karena memikirkan kelakuan suami dan sahabatnya yang Nampak sangat akrab. Menolak jin merah untuk melepaskan belenggu jin gunung Keramat. Awal hari ini adalah akhir hari baginya, dia melihat suaminya tergesa-gesa mengemasi lembar kertas kerja lalu pergi berpamitan ke kantor.
Di dapur sudah ada Santi membuatkan kopi dan membawakan bekal untuknya.
“Eh aku udah siapin semuanya mas. Semoga suka ya” ucap Santi yang masih mengenakan gaun tidur.
Terdetak di hati Ririn yang mulai menyadari sikap santi menganggap suaminya seperti miliknya. Hari kematian Ririn di mulai, Santi mengemasi barang-barangnya meminta ijin untuk pulang. Dia memeluk Ririn, mengucapkan kata berpisah dengan senyuman yang menyeringai.
“Bunuh dia Ririn. Hihih..”
“Nggak, nggak mungkin aku membunuh sahabat ku sendiri. Aku tau semua maksud Santi baik, aku baru mengalami keguguran. Dia meringankan semua tugas ku, pergi kau!”
Jin merah menghilang, Ririn mulai melakukan kegiatan pekerjaan rutin dari membersihkan rumah dan lainnya. Selesai mengerjakan tugas rumah tangga, dia mandi air hangat sambil menikmati aroma lilin bunga aroma terapi. Suara keras mendobrak pintu mengagetkannya. Berdiri meraih handuk, di balik pintu ada lima orang pria yang memakai topeng menangkapnya.
__ADS_1
“Ahhh…”