Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Terkuak


__ADS_3

Sikap mbok setiap hari semakin berbeda. Dia menjalankan tugasnya usai itu melakukan hal-hal malpraktek ilmu perdukunan. Pak Darmo tidak mengira dia akan membunuh seseorang. Darmo adalah pekerja yang berkewajiban membeli sesajian, mengantarkan sajen ke gunung dan mengikuti semua perkataan si mbok yang lainnya. Dia melakukan semua itu demi uang, tapi kali ini dia mempertanyakan sebab mengapa harus ada yang lenyap.


“Apa salah pria itu mbok? Aku akui dia pria yang tidak bertanggung jawab. Dia mendukung membuang bayi yang tidak berdosa.”


“Kau sudah mengetahui jawabannya pak kenapa masih bertanya? Ya benar pak, bahkan hewan saja sanggup membunuh anaknya. Dia sangat kasar pada Enil.”


......................


Berjalan keluar rumah mencari sinyal, dia berhenti di bawah pohon menelepon ibunya. Dia mau protes mengapa ibunya sanggup membohonginya menyimpan rasa pada Karyo. Dia tidak tau ada sosok yang mengawasi dari atas. Mata-mata setan menunggu santapan dan menduduki bayinya.


“Halo bu, kenapa ibu memberi uang sama Karyo demi menjaga ku disini? Aku pikir dia tulus dengan ku”


“Enil, ibu nggak mau kamu kenapa-napa disana. Setelah selesai kalian langsung pulang”


“Dia udah pergi bu, kami bertengkar hebat. Bu suara ibu putus-putus.”


Dia menjatuhkan ponselnya, ada makhluk tanpa wajah menghampiri. Berjalan berjingkat-jingkat menarik kakinya membuat dia terbanting hingga pingsan. Si mbok menemukannya lalu beralih wajah melotot ke makhluk yang mengincar Enil.


“Kalian jangan mengganggunya, aku sudah memberikan sesajian yang lengkap. Dan kau pak Capit, kau akan segera mendapatkan tubuh bayi itu. Tapi sekarang belum saatnya.”


Si mbok membersihkan tubuh Enil dan mengganti bajunya. Dai meramu bahan racikan ramuan aneh dan tidak lupa meneteskan darah dari mayat Capt. Adukan yang terbuat dari kayu kering di kaku gunung keramat sebagai tanda Capit mendiami kawasan itu.


Dalam alam bawah sadar, tubuhnya bermandikan darah. Banyak sosok-sosok makhluk halus yang bentuknya menakutkan meraba perutnya. Enit berdiri mencari penyangga, dia kesakitan menahan perutnya.


“Serahkan bayi itu! Ahahah!”


“Arghh!”

__ADS_1


Membuka mata merasakan ada makhluk di pinggir kasur menarik perutnya. Kasur berubah lautan darah, di dalam ada sosok Capit tersenyum mengusap perutnya. Jeritan Enil menyadarkannya lagi membuka mata, kembang kempis mencari dimana makhluk yang tadi mengganggu.


“Mbok, mbok dimana?”


Enil mencari si mbok sekaligus mencari senjata tajam untuk berjaga. Mendadak wanita itu berdiri di belakangnya. Dia menggandeng duduk di kursi, seperti biasa wajahnya selalu tersenyum, Si mbok hari ini berpakaian memakai kebaya berwarna hijau, wajahnya terlihat lebih awet muda, ada banyak daun kering yang terselip di rambutnya.


“Non Enil, bagaimana ayo baringkan tubuh mu. Aku akan mengambil bayi itu. Ahahah!”


“Ahhh! Sakit! Tidak!”


Enil berlari masuk ke dalam kamar, dia mengunci pintu bersembunyi di balik lemari mengusap perutnya. Hatinya terdetak tidak mau berpisah dengan bayinya. Semula dia sangat membenci bayi itu, tapi setelah semua yang dia alami, dia tidak akan rela memberikan bayinya pada siapapun.


Kringg__


Suara dering ponsel yang memanggilnya. Dia menerima panggilan dari seorang pria yang mengusulkan solusi masalah cepat apapun dengan menemui Capit. Enil baru mengingat suara pria itu sama persis dengan pak Darmo.


“Pergi!”


“Non kenapa? Tadi si mbok dan pak Darma melihat non pingsan di luar. Bibi baru pulang dari pasar non”


Seketika langit menggambarkan suasana pagi, gorden yang tersibak angin kencang membuat dia percaya pada perkataannya. Dia membuka pintu memeluk si mbok. Di dalam kamar, dia menceritakan semua mimpi buruk yang dia alami.


“Itu pasti non lagi banyak pikiran jadi halusinasi lagi. Bibi paham non lagi marah sama pak Karyo. Tapi bukan berarti non tidak menjaga kesehatan bayi yang non kandung.”


“Tapi mbok, saya merasa semua itu seperti nyata. Mengenai Karyo, saya tidak menginginkannya lagi.”


“Non jangan gelisah ya, ada bibi”

__ADS_1


“Terimakasih banyak bi..”


Enil meneguk minuman yang di buatkan si mbok, dia menekan kepalanya yang masih sakit. Dia mulai mengalami gangguan. Duduk melayang di kursi mengingat setiap si mbok memberikan minuman pasti bayi di dalam perutnya beraksi hebat. Jalan sempoyongan melihat di kejauhan ada pak Darmo membersihkan halaman. Terlihat dia tidak henti mencangkul hingga tanah menggunung tinggi. Setelah mengetuk pintu kamarnya, si mbok tersenyum meminta ijin pergi ke kota.


“Non jaga diri baik-baik di rumah ya, si mbok akan cepat. Mbok mau membeli keperluan bayi.”


“Ya mbok hati-hati di jalan.”


Tanda keanehan pada wanita itu semakin terlihat. Hari ini baju kebaya hijau mirip penampakannya semalam. Wanita itu pergi bersama pak Darmo, sebelum masuk ke dalam mobil dia keluar kembali memastikan benar-benar mengunci semua pintu. Melihat si mbok sudah pergi. Dia mulai menggeledah kamar Capit, seisi kamar berantakan sampai dia menemukan benda-benda aneh yang tergulung kin mori.


“Apa ini? Mirip kerangka janin bayi. Hihh”


Dia terkejut mencampakkannya merasakan ulat dan belatung menggeliat di tangannya. Mengingat pernah ada kuburan kecil di belakang rumah, dia terkejut mengingat perkataan ibunya dulu bahwa sosok pak Capit adalah seorang dukun besar.


Dia mempercepat jalan masuk ke dalam kamar si mbok. Membuka lemari pakaian, banyak baju kebaya yang menggantung di dalamnya. Meja rias banyak berisi kotak perhiasan, dia melanjutkan pencarian membongkar laci. Dokumen kematian kematian Capit dan Suratmi membuatnya semakin ketakutan.


“Lantas, dimana Jaja? Apa di belakang rumah itu kuburan Jeje? Jadi milik siapa mayat bayi yang membusuk itu?” gumamnya.


Di menuruni tangga, pintu terkunci di sisi lain suara makhluk halus mulai menampakkan rupanya yang menakutkan. Enil melangkah cepat sambil memegangi perutnya. Dia mengambil mencoba benda apapun yang dia temukan untuk mendobrak pintu. Masuk ke dalam sebuah tempat di penuhi tulang tengkorak, Enil menahan rasa takut menutup pintu. Di atas meja ada fotonya, dia semakin terkejut mengambil jari manis yang melingkar cincin milik Karyo. Dia memastikan lagi, mengambil cincin melihat cetakan ukiran namanya dan Karyo.


“Arghh!”


Gerakan Enil jatuh terduduk menyandarkan tubuh di dekat meja, suara pembatas papan membuatnya terdetak mengetuk apa yang ada di baliknya. Dia mengetuk sebanyak tiga kali, dari dalam suara ketukannya di jawab dua kali. Enil menjebol papan dengan melemparkan benda berat sampai membalikkan meja yang berisi benda mistis.


Dubragh, pragh.


Di dalam, ada sosok anak kecil yang mirip dengan Jaja. Dia memeluk boneka tanpa mata. Tubuhnya basah kuyup menangis mengeluarkan darah. Enil bejalan mundur, dia lagi-lagi pingsan di temukan si mbok. Malam tepat perhitungan waktu peralihan penempatan sukma. Capit yang jiwanya telah di tempati iblis telah bersiap menunggu si mbok yang mulai menggunakan semua benda ritual.

__ADS_1


__ADS_2