Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Kembaran Jaja dan Jeje


__ADS_3

Urusannya belum selesai, Kemuning masih mau menyelamatkan sukma teman-temannya yang bergentayangan tertahan di gunung. Dia juga harus membawa pulang Farsya yang pergi tanpa meninggalkan jejak. Hantu Ayu mendesak untuk segera meninggalkan gunung, tapi hati manusia yang tersisa di sosok arwah itu ikut tidak tega meninggalkan mereka.


“Sosok yang paling aku tuju kali ini adalah engkau. Sahabat yang selalu membantu ku. Aku akan membawa mu menuruni gunung."


“Tidak Kemuning, jasad ku di puja dukun iblis itu. Bagaimana aku bisa tenang?"


“Aku akan mencarinya, di dasar sungai aliran air terjun..”


“Aku tidak mengizinkan mu sampai di tempat terkutuk itu. Disana lah semua para pendaki terbunuh, termasuk aku dan teman mu Jaja. Walau engkau bisa menuntun arwahnya keluar gunung tapi dia akan kembali lagi sebelum jasadnya di temukan.”


Kemuning ingin membunuh Capit, atau meminta Ayu membantunya menancapkan pisau tepat di perut pria itu. Tapi, dia tidak mau tangannya di kotori perbuatan membunuh. Hatinya masih menolak, semua kematian sahabatnya bersumber dari si pria iblis.


“Aku baru bisa menyelamatkan Hana. Penampakan sosok Hana juga masih sering aku lihat di gunung, bagaimana menghentikan semuanya? Aku tidak mau ada korban jiwa lagi!”


Suara tangisan mirip seorang bayi mengagetkannya, di atas langit wilayah hutan tampak kerlip cahaya kunang-kunang. Dia mengikuti sampai pada sebuah perumahan berbentuk bebatuan berlapis benda aneh. Sudut pandang meluas ketika melihat kehidupan lain yang memperlihatkan berbagai bentuk makhluk sebangsa jin atau siluman.


Kegiatan mereka mirip dengan apa yang di lakukan keseharian manusia. Mulai dari menjemur pakaian, menumbuk padi, memasak hingga menggunakan sebuah kendaraan yang mirip dengan sepeda angin. Salah satunya terkejut karena ada manusia yang bisa melihat mereka. Kemuning semula akan di tahan, beberapa makhluk aneh mengambil senjata mengarah mengelilinginya.


Sosok anak kecil mendekati, tubuhnya kecil tapi wajahnya seperti orang dewasa. Kemuning menggendong berjalan menuju ke salah satu rumah bangunan aneh. Dia memberikan anak itu ke sosok yang memakai penutup bagian setengah tubuh berwarna hitam berlapis daun.

__ADS_1


“Mereka berdua sangat mirip, kemungkinan ini adalah anaknya” gumam Kemuning.


Sosok anak jin penghuni gunung itu mengambil kalung milik Kemuning. Benda pemberian neneknya yang paling dia sukai. “Bagaimana ini? dia mengambil kalung ku!” gumam Kemuning.


“Kemuning, sesuatu yang di sukai makhluk itu jangan di minta. Bisa jadi itu sebagai tanda pertukaran kamu bisa lepas dari gunung ini” ucap Ayu membawanya menghilang.


Dia belum memutuskan apakah kalung miliknya di biarkan begitu saja untuk sosok jin atau di minta di berikan kembali. Ayu membawanya berpindah berdiri sedikit lebih jauh, di balik tubuh mereka terlihat sosok lain yang memiliki wajah di belakangnya.


Pergantian hari di gunung yang lebih cepat memasuki waktu malam, Kemuning mendengar lagi suara tangisan anak kecil. Kali ini suaranya terdengar sangat jauh, dia juga melihat penampakan Farysa yang sedang tertawa menggandeng sosok makhluk hitam mengerikan berjalan menuruni gunung.


Jalanan licin, setiap dahan dan daun yang basah terlilit ular-ular kecil. Ular hijau adalah ular yan paling di takuti karena dapat terbang hingga warnanya sama seperti dedaunan. Kemuning ingat pesan sang nenek, kalau melintas di depannya ada ular maka harus segera berbalik badan membatalkan niat meneruskan langkah ke depan.


Ajakan Farsya sambil merangkul sosok makhluk hitam di sampingnya. Berhenti beristirahat di dekat tepi sungai, dia melihat Farsya tidak menyadari makhluk itu. Di atas tungku api, Farsya mengatakan akan memasakkan hasil bahan yang di bawa suaminya.


Pasir yang di campur cacing di taburi daun kering di atasnya. Farsya melahap makanan itu, menawarkan satu pincuk pada Kemuning agar mencicipi masakannya. Kemuning yang tidak sanggup melihat, memilih berlari menjauh.


“Kemuning! Ini aku Nardi!” teriak sosok arwah gentayangan yang mengira masih hidup karena bisa menemukannya.


Nardi berlari tersenyum melihatnya, senyuman sosok arwah memperlihatkan bagaimana kondisi tubuhnya yang tidak lagi memiliki organ tubuh di dalamnya.”Nardi, kamu nggak merasa sakit?”

__ADS_1


“Sakit apa? Aku baik-baik saja kok. Oh ya aku mau ngomong kalau si Jaja udah jadi hantu. Aku lihat dia mati di bunuh pak Capit. Tapi tadi siang aku lihat dia seperti tidak terjadi apapun. Tertawa bahagia mengatakan aku telah bebas dari Capit!”


Kemuning menunjukkan jasadnya ada di dalam dasar sungai. Mengetahui dia telah meninggal, Nardi berlari sampai langkahnya tidak terdengar lagi. Semua penyelamatan tidak berarti apapun, para sahabat masih berputar-putar di dalam hutan. Mimpi-mimpi buruk Hana tidak terlepas pada gunung keramat. Mimpinya kali membuat dia tidak kuasa menahan rasa takut. Para makhluk yang pernah menampakkan wujud mau membunuhnya.


Kedatangan bu Hamza dan nek Mindun menanyakan semua hal mengenai gunung yang di beritakan angker dan memakan korban. Tangisan ibunya Kemuning berharap anaknya segera di temukan, segala upaya telah mereka coba tapi sampai saat ini TIM pencarian belum menemukannya.


Nek mindun meminta Hamza tidak terlalu memaksakan Hana. Dia merasa iba dengan musibah besar yang di alami wanita muda di depannya. Kaki sebelah yang di amputasi, tubuh kurus kering, nafas tersengal-sengal, terlihat tubuhnya yang gemetaran.


Hana mengakuinya, Kemuning membatalkan janji tidak mau ikut tapi mereka memaksa sampai dia ikut mendaki. Semua hal di ceritakan, segala kejadian yang ada di gunung. Mindun pingsan tidak kuat mendengar mengenai cucunya.


......................


Di depan halte bus, Jaja mulai melihat wujud aneh yang berjalan terbalik. Suara retakan tulang, kaki mirip daging tanpa di bungkus kulit, Kepala tengkorak berlendir mengeluarkan lendir. Sosok lainnya datang, penampakan wanita kebaya yang pakaiannya mirip saudara kembarnya Jeje.


“Kembalikan Jeje!” bentaknya bergetar berdiri sambil menunjuk.


Sosok wanita kebaya tertawa terbahak-bahak, dia menepis tangannya. Pandangan ke arah seberang jalan. Jeje menangis di tarik sosok hitam masuk ke dalam hutan. Jaja mengejarnya, dia tertabrak bus yang melaju kencang.


“Arggh!”

__ADS_1


Dia tetap berdiri di tengah jalan, melihat tidak ada luka di tubuhnya. Jaja baru percaya dia telah tiada. Mencari Jeje yang di bawa makhluk penunggu hutan, Jaja menepuk pundak Kemuning yang sedang tertidur bersandar dekat bebatuan. Akar menjalar dari dalam air hampir menempel di tubuhnya, Kemuning yang tidak bangun membuat dia menjadi panik. Mengangkat tubuhnya sambil berpikir apakah Kemuning ikut tiada.


__ADS_2