Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Korban berjatuhan


__ADS_3

Bayang-bayang kelam tidak selalu ada. Dunia tidak akan mengenal si penjelajah waktu, karam tidak akan ada lagi semak penarik kehampaan kalau terlalu memikirkan segala angan menghalangi carut marut sudut kelam.


Buku catatan diary lama yang telah lama dia tinggal kini terbuka kembali. Dia berandai-andai bisa bertemu lagi dengan arwah sang nenek. Dia berhenti menangis, mengambil pulpen yang di antara selipan buku menumpahkan sesak di dada.


...🔥🔥🔥...


#Catatan Kemuning


Gunung Keramat, sebuah wadah kepiluan yang membuat ku berkali-kali bertanya pada diri sendiri. Apakah aku harus menyesal atu malah bahagia dengan semua ini?


Jauh di dalam lubuk hati terdalam, rasa menyesal pasti ada. Kalau dia tidak pergi maka nenek tidak akan tiada. Keputusan menjauhi di ubah karena ketertarikan detak hati ada yang tertinggal disana.


Kepada para makhluk penghuni Gunung


Surat di dalam salah satu lembar buku diary ini tidak akan pernah sampai. Aku sangat membenci makhluk-makhluk berjiwa aliran iblis yang mengambil nyawa manusia. Nenek tiada karena mengorbankan diri demi melindungi dan mencari ku, amarah dan dendam ku masih sama membenci para makhluk yang membuat nenek pergi selamanya.


Tidak sampai hari ini, keyakinan ku yang kuat akan bertemu sosok arwah nenek lagi dan aku pastikan tidak akan terpisah dengannya. Kalian akan tetap sama, bahka akan lebih terpuruk di dalam lubang neraka.


Aku tidak akan tinggal diam lagi jika ada nyawa para pendaki yang terancam.


~Kemuning


...🔥🔥🔥...


Keempat para pendaki mulai merasakan keganjilan perubahan gunung. Mereka berpikir mudah keluar dari dalam mulut gunung setelah memasuki kawasan tanpa permisi bahkan mengeluarkan muntahan mengenai sesajian tempat makhluk halus. Berlari menahan perut yang lapar, Indro sampai terlebih dahulu di sebuah warung sederhana di dalam hutan.


“Woy tunggu Ndro!” ucap Dono.


“Rat, kamu kok berhenti?” Tanya Pana melihatnya memasang posisi berbalik.


“Aku curiga kok ada warung di hutan pedalaman. Kita jauhi tempat itu aja deh”


“Duh jangan buat aku takut. Kepala ku pusing banget nih” Pana menekan kepalanya, pandangan tidak stabil jatuh pingsan.


Warung yang tampak sepi, Indro terlebih dahulu mencomot makanan yang tersaji di atas daun. Dono melompat kecoa pada tiang kayu penyangga warung.

__ADS_1


“Hihh!” Dono mengusap tangannya.


“Nyam_nyam. Enak juga nih makanan.”


“Eh Ndro, kamu jangan asal makan” ucap Dono melirik isi dalam warung yang kosong.


Melihat si pemilik warung tiba-tiba berdiri di depan mereka, Indro mempercepat kunyahan menelan makanan. Tatapan pria itu dingin, kumis dan janggutnya yang tebal menutupi mulutnya. Dia tidak mengucapkan sepatah kata, tangan kiri mengayun gerakan mengusir. Mereka berlari ketakutan, Rati tampak menangis sambil memeluk Pana.


“Pana kenapa Rat?” Tanya Dono membantunya mengangkat membawa di bawah pohon.


“Aku nggak tau dia tiba-tiba aja pingsan” jawab Pana mengusap air matanya.


“Stthh! Don! Warung tadi menghilang! Padahal aku mau minta tolong buat bawa Pana di rumah kakek tadi.”


“Berarti warung hantu!”


“Huek!” Indro memuntahkan darah berwarna hitam dan cacing kecil.


Kini ada dua orang yang tidak sadarkan diri. Dono dan Rati kebingungan tidak tau harus berbuat apa. Indro berdiri di sebuah tempat yang sangat gelap. Dia meraba jalan menyentuh benda lunak berlendir, ada rongga bolong menggeliat hewan menempel di jarinya.


“Hih! Apa ini!” Indro berlari, tubuhnya terpelanting masuk ke dalam jurang.


Patung besar berdiri mengeluarga mata yang seperti tampak hidup. Gerakannya mengitu setiap langkah Indo, pria itu berlari mengetuk pintu. Dia mengetuk berulang-ulang, tapi tidak ada yang membuka pintu. Melihat tombol bel, terdengar suara pintu yang terbuka berbunyi suara menggeret.


Seorang wanita berambut acak-acakan tersenyum, dia langsung mempersilahkan Indro masuk sambil menarik tangannya.


“Sebentar saya ambilkan minum ya..”


“Jangan repot-repot mbak kedatangan saya kesini mau minta tolong di ijinkan menginap semalam. Saya terpisah dari rombonga pendaki.”


“Oh kebetulan sekali Villa ini di sediakan khusus untuk para pendaki. Kamu pasti lapar, saya mau ke dapur.”


Suara wanita itu terdengar menggema di bawa langkah kakinya yang terdengar berdecak. Lampu berkedip, jendela kaca terbanting, suara aungan serigala semakin terdengar sangat dekat. Dia merinding, punggung di usap sebuah tangan dari belakang.


“Indro! Kenapa kau tidak bangun? Hihih..”

__ADS_1


“Argghh!” Indro terjatuh dari kursi.


Di depannya wanita itu tersenyum menyeringai meletakkan semangkuk sup dan segelas meinuman berwarna merah. Dia membantu Indro berdiri, tangannya kasar dan kaku terlihat urat akar berwarna hitam di pipinya.


“Terimakasih mbak. Kalau boleh tau nama mbak siapa ya?”


“Saya Sri, silahkan di nikmati hidangannya selagi masih panas.”


“Oh kenalin saya Indro. Sekali lagi terimakasih banyak mbak” ucap Indro memperhatikan pakaiannya yang serba hitam dan sangat seksi.


Dia duduk di depannya, kaki wanita itu di lipat. Wajahnya pucat, rambut terurai aroma khas anyir di tambah aroma sup yang tidak kalah amisnya. Dia meneguk minuman, menyeruput sendok demi sendok. Ketika mengunyah daging, dia merasakan rasa nikmat daging yang sangat lezat. Tanpa terasa sup habis sampai tetesan kuah terakhir yang di tegak.


“Heheh! Nikmat banget supnya mbak.”


“Kamu mau tambah? Sebentar ya saya ambilin..”


Dia memberikan wadah lebih besar porsi jumbo. Setengah mangkuk yang masih menggantung, Indro kehilangan kesadaran. Dia di rantai menggantung, lehernya di ikat selama satu jam tersadar merasakan sekujur tubuhnya sangat sakit.


Syat__


“Arggh!” teriakan suara kesakitannya.


Sri si pengikut iblis, tertawa memotong jari kakinya, Indro kesakitan tancapan gigi taringnya mengisap darah pada luka. Dia mengambil potongan jari, menunjukkannya lalu satu-persatu mengunyahnya. Sri menunjukkan sisa makanannya lalu memasukkan jari kelingking Indro ke dalamnya.


“Bagaimana rasa masakan ku mas Indro? Lezat bukan? Sekali kau memakannya maka kau akan ketagihan” bisik Sri.


“Jadi tadi tubuh manusia? Hook! Hekk!”


Isi perutnya keluar semua, dia mencoba membuka rantai namun usaha itu hanyalah sia-sia. Sri mengasah pisau besar, dia menyiramkan darah di atasnya. Pandangan menakutkan dengan gerakan yang sangat cepat berjalan mendekat Indro sambil tertawa keras.


“Lepaskan aku! Tidak!”


“Santai saja mas. Aku akan mengakhiri penderitaan mu.”


“Hihihi, ayo Sri. Aku sudah tidak sabar menikmati jantungnya. Hihih” jin merah menggerakkan jarinya menunggu makanan.

__ADS_1


Suara Indro tidak terdengar lagi, riwayatnya telah tamat. Sosok Sri yang bersekutu pada jin merah setelah membebasan itu mengubah dirinya menjadi monster. Makhluk jin iblis merah kesenangan menerima jantung manusia. Sekali telan merasakan kekuatannya semakin bertambah.


“Hihih…”


__ADS_2