
Mengabaikan ucapan Tom hanya membalas dengan anggukan sampai punggung mereka yang tak lagi terlihat. Sebelum pulang ke kontrakan masing-masing ketiganya membeli perlengkapan Camping. Gege sebelumnya singgah ke ATM mengirim uang untuk kedua orang tuanya. Berselang beberapa jam sampai ke dalam kontrakan, ibunya menelepon mengatakan bermimpi buruk tentangnya.
“Kamu sehat-sehat saja kan nak? Ibu khawatir sekali..”
“Sehat bu. Oh iya bu, Gege baru saja mengirim uang ke rekening ibu. Maaf ya bu jumlahnya tidak banyak. Gege masih pegawai biasa. Ibu mimpi apa bu?”
“Terimakasih nak. Tapi ibu lebih mengkhawatirkan keadaan kamu. Lebih baik kamu pulang bantu bapak dan ibu meneruskan jualan dari pada kamu jauh dari kami. Kamu nggak kasihan sama ibu setiap hari nangis mikirin kamu Le? Pokoknya mimpi ibu seperti pertanda. Kamu besok pulang, ibu nggak mau tau” ucap bu Kesya.
“Bu, sebenarnya Ge mau minta ijin mendaki. Setelah itu Ge janji akan pulang ke kampung.”
“Nggak boleh, ibu nggak ridho. Firasat ibu tidak baik. Besok kamu pulang!"
Panggilan di via suara di telpon terputus. Baterai ponsel Gege low, dia mulai mengemasi peralatan dan benda-benda yang akan di bawa saat mendaki. Terdetak di pikiran akan ucapan ibunya, Ge menggeleng kepala mengingat janjinya kembali sepulang mendaki.
......................
Kasus lama belum terpecahkan, kalung bandul merah yang di pakai Pi seolah memiliki tanda misteri keluarganya. Pi memberanikan diri kembali ke Apartemen, Gemoy dan Oni menahan karena takut hantu yang mengejar mereka masih mengikuti.
“Percaya sama aku kalau aku baik-baik saja. Kalung ini ada hubungannya sama tempat itu. Kalau dalam waktu satu jam aku nggak balik, kalian boleh menyusul.”
“Serius? Kami nggak mau kamu di ambil si setan!” ucap Gemoy.
“Kami ikut ya Pi” kata Oni memelas memeluk sahabatnya.
“Nggak, kalian tunggu di depan, siapkan kendaraan kalau terjadi apa-apa sama aku. Ingat, jangan menyalakan penerangan sekecil apapun. Aku nggak mau ada yang melihat keberadaan kita.”
Pi melangkah masuk ke dalam, dia melewati garis pembatas polisi. Dia menahan rasa takut, meneruskan langkah membuka pintu.
__ADS_1
“Pi, Pi! Tolong aku!” gema suara wanita tanpa memperlihatkan wujudnya.
“Siapa kau? Mau apa kau?”
“Pi, apakah kau lupa ayah mu pernah membunuh ku saat akan melahirkan mu? Hihih!”
Sosok kuntilanak terbang masuk ke tubuhnya. Pi kerasukan mengerang, sosok tersebut keluar merasakan hawa yang sangat panas. Pi pingsan, di alam lain dia sosok itu menunjukkan bagaimana kelakuan iblis ayahnya membunuhnya.
Di kala hujan turun sangat deras, pandangan sam tidak jelas melihat jalan melaju kencang mendengar rintihan istrinya yang mau melahirkan. Di depan jalan terlihat seorang wanita menabrakkan dirinya. Keduanya terkejut terutama Diyah sangat panik meminta suaminya segera memeriksa.
“Kamu mau melahirkan Diyah, bagaimana mungkin aku meninggalkan mu mencari siapa yang aku tabrak?”
“Kita harus bertanggung jawab mas! Cepat sana!” ucap Diyah di sela kesakitannya.
Sam memeriksa wanita yang dia tabrak adalah selingkuhannya Mawarni. Di kala itu Mawarni telah hamil Sembilan dan menunggu Sam yang tidak kunjung mengangkat teleponnya. Mawarni kejang-kejang merasakan tubuhnya sangat sakit, dia merasa mau melahirkan. Ketubannya pecah bersama darah yang mengalir deras.
“Siapa yang kau tabrak tadi mas?” Tanya Diyah.
“Tidak tau, hujannya sangat lebat dan petir menyambar menumbangkan pohon di sisi kiri. Kita tidak bias mencarinya lagi, aku akan segera mengantar mu ke rumah sakit” jawaban Sam terbata meneruskan perjalanan.
Dia menggendong istrinya, di depan rumah sakit para suster menyediakan kasur mendorong masuk ke ruang bersalin. Sam berbalik ke mobilnya, dia menyetir menuju sampai ke perbatasan kota mendekati hutan di wilayah gunung keramat.
Sam membuka bagasi melemparkan Mawarni hingga jantungnya tertancap ujung permukaan batang kayu yang keras. Sebelum meninggal dengan sepasang mata terbuka dia mengucapkan sumpah serapah akan kutukannya selalu menghantui keturunannya. Dia tidak akan memaafkan Sam sepeninggal kematiannya.
Kelahiran anaknya Pi di dunia begitu juga lahirnya anak dari Mawarni di alam lain. Sosok Mawarni berubah menjadi arwah gentayangan. Kelahiran Pi di ikuti gangguan makhluk halus mengincar nyawanya. Diyah mengorbankan nyawanya sendiri demi menyelamatkan anaknya dari mau sosok arwah Mawarni. Kalung bandul merah berisi tetesan darahnya sendiri sebagai pelindung dirinya.
“Ibu, aku tidak mau seperti ini. Terpisah dari mu! Kini aku baru tau siapa wanita lain di rumah itu. Dia bukan ibu kandung ku” gumam Pi.
__ADS_1
Tangisan tidak akan selesai walau di tahan dengan bendungan penopang hati yang berusaha di kuatkan. Dia akan terus mencari dimana jasad ibunya setelah keluar dari apartemen itu. Tubuh di seret sosok sundel bolong yang tidak lain adalah Mawarni. Kalung terlepas di tarik tangan sosok tersebut.
“Tidak perduli aku kehilangan satu tangan agar bisa melepaskan jimat mu. Sekarang kau tidak punya pelindung apapun! Ihihihhh!”
“Pi! Awas pi!” teriak Oni mendorongnya.
Dia meninggal tepat di tangan makhluk yang penuh dendam itu. Pi berteriak mau menarik tangannya akan tetapi Gemoy menahan membawanya berlari keluar. Nyala mobil sirine ambulance pihak aparat kepolisian dan para peliput berita. Pi merontah tetap mau menyelamatkan Oni, dia di tahan dia polisi yang berdiri di depan Apartemen. Gemoy menariknya lagi meminta dia tenang. Sepanjang jalan dia mengusap air matanya.
“Bukannya aku melarang mu menyelamatkan Oni. Tapi kalau kamu sentuh jasadnya ntar kamu yang di jadikan tersangka. Kamu mau di penjara seumur hidup? Orang tua Oni itu orang berpengaruh di daerahnya. Terlebih lagi Oni anak perempuan kesayangannya.”
“Tetap gara-gara aku jadinya Oni meninggal! Mana kalung ku? Gawat! Kalung pemberian ibu ku hilang!”
Kembali mengambil kalung di Apartemen sama saja menjemput maut. Sosok Mawarni terbang di atas atap menunggu dia terjerat tidak bisa kembali. Dering telepon Ros terangkat panggilannya yang tidak dia jawab. Wanita itu bukanlah ibu kandungnya, pantas saja selama ini tatapannya begitu dingin dan setiap malam memberikan segelas susu hingga dia tidur sangat lelap sampai pagi hari.
Kali ini Pi ingin tau apa yang terjadi kalau dia tidak meneguknya. Wajahnya tetap sama, tersenyum lebar penuh keterpaksaan mengusap rambut Pi.
“Kamu dari mana saja sayang? Seperti biasa segelas susu hangat biar kamu sehat” ucap Ros dengan balutan pakaian santainya yang seksi.
“Habis main bareng Gemoy bu. Terimakasih ya bu.”
“Loh, biasanya kamu minum di depan ibu. Duduk di kursi kesukaan kamu sambil melahap cemilan yang tersedia di atas meja.”
“Pasti Pi minum bu. Oh ya bu, kapan ayah pulang?”
“Tumben kamu Tanya ayah kamu? Kerjaannya banyak, semua demi membahagiakan kita. Pasti ibu kasih kabar kalau pulang. Jangan lupa tutup jendela ya.”
“Baik bu..”
__ADS_1
Di dalam kamar, dia membuang susu dari atas blangkon. Kali ini Pi bersiap mengintip aktivitas apa yang di lakukan Ros. Berjalan merangkak mendekati sela tangan tangga melihat dari ukiran menatap ke bawah. Ruang tamu di penuhi asap mengepul, ibu angkatnya duduk di atas selembar kain menyatukan tangan dengan menutup kedua mata.