
Tipu daya setan mengelabui pandangan mata manusia melihat hal ghaib yang seolah nyata.
Pintu rumah terkunci, hari itu semua pekerja permisi cuti bekerja. Hanya ada Nia dan Hana, di dalam terdengar suara jeritan Hana memanggil ibunya. Hamdi menggedor pintu, tidak ada yang menjawab panggilannya. Dia memecahkan jendela bagian belakang rumah, masuk ke dalam melihat rumah di penuhi gumpalan asap hitam.
“Ibu, jangan pergi!”
Hana terjatuh dari kursi roda, dia menyeret tubuhnya menuju ke arah ibunya yang berdiri di depan sosok makhluk besar bersayap. Ini lah perjanjian atas balasan membantu mengembalikan sukma anaknya. Nia siap sedia di jemput iblis, menangis melambaikan tangan pada Hana yang tampak kesulitan bergerak.
“Tidak! Ibu! Hiks.”
Pintu di dobrak, Hamdi melihat istrinya di bawa terbang makhluk jadi-jadian. Memegangi kaki ibunya, Hana ikut terangkat ke atas. Hamdi menarik Hana, sosok iblis membawanya menghilang. Tangisan Hana memukul dirinya sendiri, dia membenturkan kepala di tahan Hamdi.
“Ibu..”
Suasana rumah duka meninggalnya bu Nia banyak di datangi para tetangga sekita. Menyambangi rumah duka tanpa jenazah. Setiap orang yang masuk menyalami sambil mengucapkan turut bela sungkawa. Pergi di bawa makhluk lain demi kepulangan sukma anaknya yang masih terjebak di gunung keramat. Hana memeluk tanda kuburan ibunya yang kosong. Hanya sebuah papan nama dan tanah kuburan yang basah.
“Ibu, kenapa ibu meninggalkan ku! hiks”
Setelah ibunya meninggal, sang ayah jarang sekali berada di rumah. Dia memberi kabar pada anaknya via suara dan mentransfer kebutuhan rumah. Hana sendiri menatap jendela yang berembun, ke hampaan yang sama tepat ketika dia sendirian di dalam hutan.
......................
Dini mengikuti segala bentuk ritual, cara mencari ilmu hingga semua hal yang menyangkul ilmu klenik Capit. Demi menguasai semua itu dia terlebih dahulu melindungi dirinya dengan penjagaan sosok lain. Semua yang di dapat harus memutuskan semua rantai ikatan masa lalunya. Dia harus meninggalkan bahkan melupakan ketiga anaknya agar tidak ikut terbawa atau terkena dampak dari ilmu yang dia anut.
__ADS_1
Mengetahui si pria dukun berwujud iblis itu memiliki istri di kota, dia berencana membunuhnya agar Capit merasakan bagaimana rasanya kehilangan. Pemikiran itu hanya sebatas hati yang masih rapuh, karena Capit si iblis yang tega menumbalkan anaknya.
Menemukan Suratmi yang sedang tertidur, Dini dengan cepat menghembuskan sihir. Wanita itu merasa tercekik. Dia meregang nyawa mengeluarkan hewan-hewan kecil dari dalam mulutnya. Malam mengabarkan sihir menguasai bumi. Bersekutu dengan jin bukan berarti dia bisa di jadikan tempat sebagai pelindung. Mbok Mijan menjatuhkan nampan sesajian yang akan di letakkan di bawah kosong kamar Suratmi.
Prangg__
“Nyonya!” dia bergetar ketakutan.
Tidak berani menyentuh, Mijan memanggil memanggil para warga untuk membantunya mengurus jenazahnya. kematian Suratmi di kaitkan karena ilmu yang di anut Capit memakan anak dan istrinya. Rumah besar itu tercium aroma pandan bercampur amis, mereka segera mengebumikan tanpa menunggu kehadiran Capit. Para warga tidak berani melakukan doa bersama di rumah yang di sebut angker itu.
Ustadz yang baru saja pindah di desa itu memberikan saran pada mbok Mijan agar nanti malam diadakan takziah di rumah duka. Namun si mbok menolak dengan mengatakan belum mendapatkan persetujuan dari majikannya.
“Ada yang tidak beres dengan rumah itu ustadz. Pemiliknya menganut aliran sesat. Sejujurnya kami sangat resah dengan semua penampakannya.”
Dengan jelas pria itu mendengar kabar kematian istrinya, akan tetapi pria itu tidak bersedih atau menunjukkan duka. Dini berdiri di depan meja ritual, tangannya mengayun keras memukul Capit yang sedang bermeditasi. Pukulan batu yang keras memecahkan kepalanya, dia mematahkan lehernya. Serangan terakhir menusuk perutnya dengan keris miliknya sendiri. Mencabik-cabik perut pria itu seperti dia membunuh suaminya saat di hutan.
Dendam Dini terbalaskan, dia tidak mau si iblis bangkit kembali merasuki tubuh lain. Dini memasukkan sisa tubuh Capit ke dalam bakaran api yang menyala.Suara kesakitan, di depan api dia mengucapkan mantra melenyapkan sosok ganas yang mulai menyerangnya. Melawan iblis penunggu gunung keramat, tangan setan itu menarik Dini ikut masuk ke dalam api.
......................
“kemuning..”
Panggilan suara Ayu dari dalam air. Kemuning mengingat semua pesan sahabatnya, tidak mungkin pula Ayu mau membunuhnya. Dia berlari sampai berhenti lagi keramaian orang yang berlalu lalang. Mata pandangan lurus berjalan seperti robot. Ada Farsya yang sedang tersenyum menggandeng sosok gendoruwo.
__ADS_1
“Lepaskan sahabat ku! pergi!” bentak Kemuning melepaskan pegangan.
“Kemuning, kamu kenapa? Dia suami aku. Erik mau menunjukkan arah pulang..”
“Dia bukan Erik, kamu lihat siapa yang ada di depan kamu Far.”
Farsya tetap tidak percaya, dia memilih mengikuti Erik. Sejak hari itu keduanya terpisah di petengahan gunung di dalam hutan. Kenyataan Farsya pulang sendiri tanpa bersama siapapun. Bel pintu yang terbuka, dari seorang wanita mengerutkan dahi melihat Farsya berbicara sendiri menoleh ke sisi kirinya.
“Maaf anda cari siapa?”
“Saya Farsya. Kamu yang siapa? Ini rumah aku dan mas Erik.”
“Maaf mbak, ini rumah yang baru kami beli beberapa bulan lalu. Kami membelinya dari tuan Erik, beliau berpesan pembayaran setengahnya lagi di berikan pada mbak Farsya. Apakah mbak istrinya tuan erik?”
Farsya tetap menyangkal dia turun daru gunung tanpa bersama Erik suaminya. Dia mencari ke sekeliling rumah, tapi suaminya menghilang. Sisa uang yang di hitung, surat jual beli rumah dan keterangan lengkap lainnya. Farsya tidak menyangka sumiatik menjual rumah tanpa sepengetahuannya.
“Untuk apa dia menjual rumah ini?” gumamnya.
Waktu mulai senja, dia mencari penginapan sementara sebelum menemukan kontrakan. Dia mencari kabar informasi teman-temannya, hanya ponsel Hana yang masih aktif. Keesokan harinya dia datang menanyakan keanehan apa yang terjadi pada dirinya selama di gunung. Hana menceritakan melihat Erik berwujud sosok besar berbulu memperlihatkan cahaya mata merah.
“Apa yang aku lihat sama dengan yang sebelumnya Kemuning lihat terlebih dahulu. Mana mungkin kami berani membohongi mu. Lihatlah, aku sekarang menjadi gadis lumpuh, Jaja juga masih tertinggal di gunung dan kabarnya belum terdengar sampai sekarang. Perlu kau tau mengenai nasib sial ku menginjakkan kaki kesana, hidup ku hancur Far! Ibu ku meninggal demi menyelamatkan aku yang lagi koma! hiks”
Gunung keramat mengambil semua kebahagiaannya. Isak tangisnya meratapi nasibnya yang buruk. Di dalam hati Farsya masih menolak semua perkataan mengenai suaminya. Dia harus meyakinkan sendiri kebenarannya. Sesekali Farsya ling lung melihat ke luar memastikan suaminya menunggunya.
__ADS_1
“Mas Erik, kamu dimana?” gumamnya sambil menangis.