
Pintu jendela yang terbanting terbuka lebar menakutinya. Saat dia menemukan benda itu, Tangan Xin yang berubah dingin berlendir menariknya. Xin memakai pakaian kebaya menyeringai terbang di atasnya. Onsu terbanting hingga pingsan, saat dia terbangun dia mencari dimana istrinya. Xin di temukan pingsan di persawahan. Totom dan Kiki melihat jelas penampakan yang berwujud sosok Xin. Mereka tidak sabar ingin memberitahu kejadian itu pada Onsu.
“Ibu mau kemana?” Tanya Onsu.
Ime mengerutkan dahi melihat dahi anaknya yang lebam. Dia masih mengemasi dan mengangkat kopernya. Berusaha tersenyum di depan anaknya dia mengatakan akan menjenguk keluarganya. Onsu ingat ibunya adalah anak tunggal, sama seperti dirinya. Kakek dan neneknya juga sudah meninggal.
“Ibu kan nggak punya saudara, siapa yang mau ibu kunjungi?”
“Pokoknya ada saudara kita yang sedang membutuhkan bantuan ibu. Kamu jangan lupa menjaga Xin sampai ibu kembali. Kalau tidak ibu akan pergi menghajar mu!”
Ime masuk ke dalam mobilnya, Onsu melambaikan tangan di susul Xin yang ikut melambai dari pintu.
Di malam hari, Totom dan Kiki menekan bel rumahnya. Namun terlihat rumah itu sangat sepi, bahkan seluruh lampu tidak di nyalakan. Totom gemetaran menunjuk ke jendela, sosok penampakan hantu Xin yang melayang melihat mereka.
“Lari Ki! Hantu!”
“Ah mana ada hantu atau setan! Ngawur kamu Tom!” jawab Kiki masih terus menekan bel.
Pintu terbuka lebar, dia melihat Xin melayang meneteskan lendir di wajahnya. Suara jeritan Kiki di sambung bi Ndang yang ikut terkejut dari dalam. Kiki berlari pergi tanpa membawa sepeda motornya sedangkan bi Ndang jatuh pingsan.
“Xin, kamu dimana?” panggil Onsu.
Xin berwujud hantu mengejarnya. Onsu berlari kalang kabut, dia tidak berani tidur di kamar memilih tidur di pinggi jalan. Sebelum pagi dia kembali ke rumah, dia tidak mau ada warga atau pekerja ibunya yang melihatnya. Akhirnya Xin mengatakan sebuah rahasia pada dirinya.
“Makhluk di Gunung Keramat hampir membunuh ku. Seorang dukun yang bernama kek Langsat mengatakan kalau darah ku wangi. Aku di sembunyikan makhluk halus memakai kebaya di dalama air terjun. Kek Langsat menolong ku, semenjak itu sosok itu selalu menghantui ku Xin. Maafkan aku dan ibu ku yang tidak jujur pada mu.”
“Jangan khawatir, semua masalah ada solusinya. Aku akan memberikan nyawa ku untuk mu.”
Perihal nasib bi Ndang yang di berikan ijin cuti selama satu minggu malah meminta berhenti bekerja. Dia menyayangkan keputusan pekerja rumah yang telah lama berjasa di keluarganya. Setelah bercerita, Onsu mendengar suara perut Xin yang keroncongan. Wajah Xin memerah malu menekan perutnya. Setelah di bersama Onsu, dia jarang makan atau memasak di dapur.
“Aku akan segera kembali Xin. Kamu mau makan apa?”
“Sama saja seperti mu..”
__ADS_1
Mengemudikan kendaraan membayangkan sosok istrinya yang berubah di malam hari. Dia membeli beberapa makanan, di tengah perjalanan mengingat-ingat siapa salah satu dari kelima temannya yang bisa di percaya menyimpan rahasianya untuk memberitahu dimana dukun yang bisa dia datangi.
Sesampainya di rumah Onsu melihat kotak perhiasannya masih utuh. Dia juga meninggalkan kalung dan gelang yang di belikannya. Xin pergi meninggalkannya, dia tidak mau Onsu celaka. Di dalam bus dia melihat jendela, air matanya berderai secepatnya di hapus karena dia ingin Onsu memiliki kehidupan yang lebih baik. Onsu yang segera mencarinya perjalanan satu hari satu malam sampai takdir yang masih mempertemukan mereka. Tepat ketika mobil Onsu mogok dan Xin turun dari bus karena mulai merasakan dirinya akan berubah menjadi hantu.
Di seberang jalan dia melihat istrinya pingsan. Membawa Xin pulang meski tubuh istrinya berubah bentuk hantu. Dia di kejar sampai terjatuh terbentur lantai. Benjolan di dahinya bertambah, di pagi hari Xin sudah menyiapkan masalah untuknya. Dia yang selalu pendiam tidak mau berkata kini lebih sering mengucapkan kata maaf melihat dahi dan lukanya. Sebelum makan, Xin mengobati lukanya.
Makanan yang tersaji dari hasil memetik sayuran di kebun membuat Onsu sangat bahagia.
“Masakan kamu enak banget Xin…”
Mereka berkemas melakukan perjalan menuju kuil. Namun seorang biksu muda itu mengatakan kalau Xin hanya mengalami halusinasi. Dia tampak tidak mau menangani masalah ghaib. Seorang pria yang bekerja membersihkan Kuil menanyai masalah mereka. Onsu bertanya dimana dukun yang dapat menyembuhkan gangguan mistis. Mendapatkan alamat, langkah mereka yang kelelahan sampai pada rumah tua bertingkat. Pria berdiri menanyakan ada keperluan apa mereka menemui si dukun.
“Dukun yang kalian cari alamatnya tidak disini. Dia sudah pindah, kebanyakan orang mencarinya demi kepuasan dunia semata. Setelah mereka menyadari kesalahannya maka meminta semuanya kembali seperti semula. Oh ya, dari mana asal kalian?”
“Kami dari wilayah Barat kek.”
“Jauh juga ya. Kalau begitu kalian menginap saja di rumah ku.”
Pria itu sangat baik memberikan ruangan yang besar dan luas. Di malam hari, Xin berubah wujud menjadi sosok hantu wanita kebaya. Dia mencekik Onsu, si dukun mengucapkan mantra mendorong tubuhnya terhentak tidak sadarkan diri.
Pria itu ternyata si dukun, perjalanan jauh memasuki gunung Keramat. Tubuh Xin sangat lemah sampai Onsu menggendongnya selama bermil-mil. Di bekali mantra pelindung, mereka selamat dari berbagai gangguan. Si dukun hanya memberi waktu selama dua hari, karena makhluk-makhluk penghuni gunung sangat ganas.
Tiba-tiba Xin menghilang, dia melihat Xin di samping sosok hantu wanita kebaya yang memperlihatkan senyuman tumpahan darah berwarna hitam. Mereka selamat atas bantuan si dukun, namun tetap saja sosok penganut iblis di gunung lebih kuat dari kekuatannya. Setelah kelahiran Bata yang menjadi incaran makhluk gunung Keramat, Onsu mengorbankan diri menukar jiwanya untuk keselamatan anaknya.
......................
Bingkai foto usang, bekas-bekas peninggalan benda bersejarah yang di pakai kedua orang tuanya dan rumah di kaki gunung yang harus dia tinggalkan. Kali ini dia berdiri di tempat dimana dia dilahirkan. Panggilan suara wanita minta tolong, wajah wanita yang mirip di foto memperlihatkan wujudnya. Kemuning hadir lagi di depan pintu masuk, dia melarang keras Bata mengikuti panggilan sosok itu. “Kakak, aku harus menjemputnya. Keluarganya mencari Ririn.”
“Dia bukan lah Ririn yang kalian kenal. Pulang lah, aku tidak mau kamu celaka.”
Kemuning melihat dua sosok yang sama pada diri Bata, seolah wanita itu akan mendapatkan masalah buruk. Bata masih penasaran, berpura-pura meninggalkan pintu masuk. Dia bersembunyi menunggu Kemuning pergi.
Melewati pergantian hari, dia mulai memasuki gunung Keramat. Dia mengikuti panggilan memasuki garis terlarang penghubung benang hitam dari satu pohon ke pohon lain.
__ADS_1
Dia tau tanah tanda hitam berbahaya, tapi keyakinannya menemukan Ririn mengantarkan penglihatan sebuah gubuk tua.
Bekas peninggalan rumah Sintya yang kehadirannya masih sering memperlihatkan wujud pada orang-orang yang masuk ke dalam hutan. Seorang nenek membungkuk. Rambut putih acak-acakan, tangannya di lipat ke belakang. Dia menghentikan Bata berjalan dengan sorot mata tajam.
“Kau mau apa? Apa tidak sayang dengan organ tubuh mu? Pergi!” usirnya.
Suaranya mirip raungan serigala melemparkan tubuhnya membuka mata. Di atas kasur, dia melihat sosok Ririn melayang memberikan organ tubuhnya di tangannya, Bata berlari ketakutan, dia tidak sempat mengucapkan mantra atau membakar dupa. Di depan pintu, seorang anak kecil berwajah tua tersenyum menarik tangannya.
Bata melepaskan genggamannya, dia berlari ketakutan menuruni tangga. Berlari sejauh-jauhnya sampai sebuah bangunan kosong. Dia bersembunyi melihat lima orang memakai topeng menyiksa seorang pria yang ada di dalam gedung.
“Halo bos, pria ini nggak mau membuka suara. Dia tidak memberitahu dimana barangnya”
“Paksa dia agar mau mengakui”
“Baik perintah di laksanakan bos."
Pria berkumis itu menutup telepon, dia menendang tubuh pria yang dia ikat. Badannya sudah babak belur, darah bercampur genangan air hujan. Di dalam gedung terbuka, pria bertubuh gemuk membuka topengnya memegang sebuah pisau mengayunkannya.
“Jangan kau bunuh dia sebelum memberikan jawabannya! Apa kau mau juga di bunuh bos?” ucap Popon melarang menahan.
“Aku sudah muak dengan pria ini! Arghh! Sial!”
Untuk melampiaskan rasa kekesalannya, Ganjang menyayat kakinya si tahanan. Dia bahagia melihatnya berteriak kesakitan. Di sepanjang kubangan air ada bekas darah para tahanan yang terlebih dahulu mereka bunuh. Terlihat bekas bahan-bahan sesajian dan bunga-bunga yang layu.
“Duh udah mau sore gini pasti aku merinding kalau di tempat ini. Kita tinggalkan aja dia sendirian dan menginterogasinya besok pagi”
“Kamu jangan ngada-ngada yang Kambing! Sama aja kamu menyuruh dia kabur!” ucap Obet.
“Sudah kita jangan ribut hanya karena pria tidak berguna ini. Pan, nyalakan bakaran api. Tempat ini mulai gelap” kata Ganjang mengambil handphonenya pergi keluar gedung.
Di depan gedung atau berjalan lebih menjauh, sinyal terputus di tambah suara berisik dari balik pepohonan rindang. Aura mencekam, merasa sosok bernafas dingin mengendus di tengkuk lehernya. Ganjang berlari mendekati perkumpulannya.
“Wajah kamu kayak habis ketemu setan Gan” ucap Obet gerakan melempar bekas putung rokok.
__ADS_1
“Nggak apa-apa..”
Bermalam di tempat itu salah satu dari kelima pria yang suka memakai topeng itu menodongkan pistol ke kepala si tahanan. Dia tidak tau tali yang mengikatnya sedikit lagi terlepas. Saat akan menembak dia mendorong tubuhnya lalu berlari kencang. Tembakan pelurunya mengenai kaki kiri dan tangan kanannya. Ganjang menginjak tubuhnya, sepatu boot berat dan fostur tubuh gemuk dan besar. Dia menghentakkan keempat kawannya hingga kekacauan berhenti ketika si Kambing merampas pistol menembak di udara.