
Pria yang meninggalkan mereka melirik dari kaca mobil, di salah satu pohon terlihat makhluk menggantung mengeluarkan gigi taring. Tambahan makhluk yang tertawa menggema di udara menerbangkan teriakan lain menyusul menakutkan. Suara itu selalu mengganggu warga yang berada di dekat kaki gunung.
Knalpotnya yang mengepul asap tertinggal membuat sesak pernafasan. Keempat pendaki itu mengambil jalur lain, mereka mencari jalan lebih tenang dan jalanan yang tidak terlalu terjal.
“Gais kita nggak bisa sembarangan memilih jalan. Aku nggak mau tersesat terus berakhir seperti para kaka senior.”
“Eh kamu ngomong apa si No! ucapan itu adalah do’a!” kata Indro yang mulai merasa ada yang mengikuti.
Bolak-balik dia menoleh ke belakang. Lemparan-lemparan batu di antara pepohonan yang jaraknya dekat dekat Pana berdiri. Dia terkejut berlari menghindari batu, Indro berlari memeriksa pohon, bayangan masih terlihat menjauh ke sisi kanan hutan. Memasuki area kawasan terlarang, pembatas maupun tanda jalan. Anak panah yang terbuat dari papan terbelah, penopang terangkat, tidak ada tanda penunjuk jalan lainnya.
“Woy! Kalian dimana?” teriak Indro berkeliling.
Dia kehilangan teman-temannya, dari belakang pundaknya di tepuk seorang wanita memakai pakaian kebaya. Cerita wanita kebaya yang pernah dia dengar benar adanya. Namun di depannya tampak manusia biasa tersenyum membalas tatapannya.
“Cantiknya natural! Suit.. suit!” ucapnya sambil bersiul.
Tangannya di tarik berjalan mengikutinya, sedetik dia mencium aroma bunga kantil. Dalam benak yang berkecamuk segera menghentakkan genggaman tangan lalu berlari sekencang-kencangnya. Sosok wanita kebaya mengerang, wajahnya berubah wujud menjadi tulang tengkorak yang membusuk.
“Jeje. Kenapa kau suka menganggu manusia? Bukan kah aku menyusul mu untuk pulang, tapi setelah kau tiada malah aku mengikuti dimana kau pergi” ucap Jaja mendekatinya.
Sosok jeje tidak menjawab apapun, dia menghilang di dalam kabut putih pekat. Masih dalam kata beruntung, Indro kembali bertemu teman-temannya. Nafasnya sesak tidak teratur, dia menekuk lutut mengusap keringatnya.
“Kamu dari mana Ndro?” Tanya Dono memperhatikan pakaiannya yang kotor.
“Iya nih kamu ngilang gitu aja, pikiran kami jadi macam-macam” ucap Rati.
“Aku tadi tersesat, untungnya aku bisa menghindari hantu yang memakai pakaian kebaya!”
__ADS_1
Ketiganya merasakan hawa panas dingin, Dono mengomando jalan melihat peta jalan Gunung Keramat yang dia cetak sebelum berangkat. Menekan tombol pencarian kompas yang tidak terdeteksi, jalan pada peta terlihat semakin lama semakin jauh berbeda.
Berjam-jam mendaki, mereka berjumpa pohon beringin tua yang di katakan bisa membantu melancarkan keinginan. Pana penasaran mendekati, dia tanpa sengaja muntah mengenai salah satu daun-daun pincuk sesajian.
“Wah! gawat Pan, kamu nggak sopan banget rusak makanan mereka. Hati-hati aja” ucap Rati.
“Kamu nggak menakut-nakuti dong. Aku kan nggak sengaja”
Tepat setelah kejadian itu, semakin lama tubuh Pana semakin terasa berat. Perjalanan mencari pos berlangsung selama empat jam. Pana meminta istirahat karena tidak sanggup lagi berjalan. Indro berinisiatif mendirikan tenda, gerimis mulai datang. Tenda yang baru saja di tegakkan adalah tenda miliknya. Dia membantu Pana dan Rati mendirikan tenda mereka sedangkan si Dino mencari kayu.
Tetesan darah dari atas pohon mengagetkannya. Dino menjerit ketakutan meninggalkan kayunya. Sesampai di tenda, dia tidak melihat satupun temannya.
“Kalian dimana gais? Bercandanya nggak lucu! Keluar dong aku takut nih!"
Suara lari Dino memutar pandangannya, dia mengejar hingga terjatuh di depan batang pohon yang tumbang. Lumut, serangga kecil dan hujan rintik-rintik. Dia melihat seorang pendaki berteduh di bawah pohon di samping kanannya. Menghampiri menanyakan arah jalan, ketakutannya melihat wajah pucat si pendaki.
“Dedi..”
Jawaban pria itu terlalu singkat, tatapan kosong berjalan mirip robot. Tas pendakinya terlihat sangat besar tapi dia sama sekali Nampak tidak keberatan. Indro mengejar, dia mau bertanya arah jalan pos satu.
“Tunggu! Ada yang mau aku tanyakan!” ucap Indo.
Pendaki itu menghilang, di depan melihat Pana mencabik perutnya sendiri. Indro menahan tubuhnya, jari Pana yang tiba-tiba memanjang sendiri. Teriakan Indro minta tolong, dia berlari menabrak wanita berambut pendek. Penyamaran yang sukses hantu ayu sama sekali tidak tampak pucat menimbulkan suara aneh meringkik.
Indro berlari sampai terjatuh di depan Pana. Dia itu hanya tersenyum menyeringai menakuti. Ketiganya bergerak masuk ke dalam tenda lalu menutup rapat. Pana mengeluarkan kotoran dari setan, perlahan membuka tidak sadarkan diri.
“kalian kenapa? Indro! Pana!” panggil Dino.
__ADS_1
Keduanya berhenti berteriak melihat sosok yang mengganggu nya. Tersadar akan mimpi buruk, Pana menerima botol air, meneguk habis isi air lalu melihat mereka tidak seperti yang di lihatnya tadi.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Pana.
"Wajah kamu pucat banget!" ucap Indro.
"Aku tadi lihat makhluk lain menyerupai kalian. Kita balik aja yuk"
"Cemen banget sih No! bukannya kamu yang punya usul buat kesini. Aku jitak juga nih kepala kamu"
"Tapi ini beda Dro! aku yakin gunung Keramat ini nggak bisa di anggap enteng. Terus aku tadi jumpa pendaki yang namanya Dedi."
"Hueek! uhuk!" Pana mulai kembali muntah.
Isi perutnya mengeluarkan hewan-hewan kecil menggeliat di atas tanah. Dia berteriak ketakutan, tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang mengganjal di rongga tenggorokan. Dia Menarik ekor ular kecil, semakin lama tarikan semakin panjang.
Suara teriakan Ratih, dia tidak berani membantu menarik kepala ular yang tidak mau keluar. Tangan bergetar Dono menarik gerakan cepat hingga ular keluar. Pana pingsan di angkat masuk ke dalam tenda. Sekitar mulutnya berlumuran darah dan lendir di bersihkan sambil menahan rasa mual.
"Cepat cari air No!" ucap Ratih.
"Ya tapi di temenin Indro"
Mereka hanya berani berdiri mematung di depan tenda. Ketakutan, trauma, hal aneh lain menakutkan.
Ratih menangis melihat keadaan Pana. Memeras handuk. Di dalam hati dia berharap semua akan normal kembali.
Bermalam di hutan belantara, suara hewan buas dan makhluk aneh menggema.
__ADS_1