
Suara tangisan Sumiatik terdengar sampai keluar rumah, para pekerja melanjutkan pekerjaannya. Tratak masih terpasang, aroma daun pandan, kursi-kursi bekas para pelayat dan sisa bunga yang berjatuhan. Dia mengobrak-abrik ruangan khusus suaminya, patung-patung berbentuk aneh di angkat ke luar gerbang. Tidak ada pekerja yang berani membantu, melihat amarah Sumi membanting benda-benda hingga membakar di dalam tong besar.
Yama sambil membawa kantong belanjaannya berjalan mendekatinya. Dia melirik sebuah patung berwarna emas, ada permata yang menempel di bagian kepala. Menyentuh bagian benda yang menyilaukan matanya. Tangannya di tepis, Sumi melotot meminta dia menjauh.
“Jangan main-main dengan benda terkutuk ini, kau akan menyesalinya”
“Hihh, bu Sumi jangan buat aku takut deh! Patung ini benda mati mati bu mana mungkin bisa buat sial! Dari pada di buang buat saya saja!” ucapnya mengamati lekukan patung.
Sumi masuk ke dalam rumah, dia tidak memperdulikan lagi kalau patung itu benar-benar akan di bawa. Yama mengangkat patung membawa ke rumahnya. Dia meletakkan di sudut ruang tamu. Karena terlalu menyukai patung itu, dia melupakan kantung belanjaan.
“Salsa ibu ke luar sebentar ya, belanjaan ibu ketinggalan..”
Anak kecil berusia lima tahun itu sering di tinggal sendirian berjarak sepuluh menit kedatangan pekerja rumah yang menjaga selama Yama ke kantor. Dia tidak pernah meninggalkan sebelum menelepon bi Ija. Kata sebentar meninggalkan anaknya, sama dengan durasi lebih dari sepuluh menit. Belanjaannya menghilang di depan gerbang luar rumah, dia terpaksa kembali ke kedai membeli bahan belanjaan baru.
......................
Patung jelmaan sosok makhluk jadi-jadian yang di ambil dari gunung keramat mulai berubah wujud aslinya. Yama menangis ketakutan, dia di tarik masuk ke dalam laci dapur. Suaranya tidak lagi terdengar, ibunya mencarinya di dalam kamar. Dia memeriksa bagian halaman dan menanyakan ke orang yang melintas di luar.
“Dimana anak ku?” dia masuk ke kamar meraih ponsel menghubungi polisi.
Suara tawa anaknya terdengar keras. Di dapur yang gelap, Yumi bermain-main dengan pisau. Dia mengarahkan ke mata ibunya, Yama menahan tangannya. Tenaga anaknya sangat kuat sampai pisau menggores tangannya.
__ADS_1
“Lepaskan Salsa!”
Brakk__
Anaknya kesurupan melotot menggerakkan kepala miring ke kanan dan kiri. Dia masuk ke dalam kamar, Yama mengejar terhenti melihat sosok hitam masuk ke dalam anaknya. Pintu terkunci dari luar, dia berlari ke gudang mengambil palu. Keanehan pada pintu sedikitpun tidak tergores palu yang dia pukul. Peri yang mendapat kabar Salsa langsung permisi pulang dari kantor. Dia membawa dua pria berpakaian hitam. Proses pemanggilan jin di lakukan, dua pria itu mengucapkan kata aneh lalu menyemburkan air yang di kumur ke pintu.
Dubragh (Pintu terbuka).
Di dalam, Salsa merayap di dinding meneteskan lendir berbau busuk. Pria berbaju hitam yang memakai tongkat di lehernya menarik tubuhnya, dia mengikat dengan kawat berduri. Kawat yang tajam menusuk kulitnya, dia kesakitan meringis di dalam tangisan darah.
“Apa yang kau lakukan pada anak ku? kau membuatnya terluka!” Peri tidak tega melihat Salsa kesakitan.
“Ayah tolong aku ayah hiks!”
“Ada apa ayah? Kenapa kau tidak bisa menolong ku? apakah karena bayi yang di perut wanita pelacur itu? kau membohongi Yama? Ahahah!” suara serak pria tua keluar dari rongga mulut Salsa.
“Tutup mulut mu setan!” Tanpa sadar dia memukul Salsa.
Yama menarik Peri menjauhkan dari anaknya. Dia menampar, memukul hingga menendangnya. Ucapan dari si setan membuatnya mengingat gerak-gerik Peri yang mencurigakan. Seringkali dia melihat suaminya mengangkat telepon di tengah malam. Meracau dalam tidur menyebut nama wanita lain. Dia juga selalu masuk ke kantor di akhir pekan.
“Cepat katakana pada ku, siapa wanita itu mas?”
“Halah berisik!"
__ADS_1
“Kamu mau kemana mas? Anak mu lagi sakit! Mas Peri!” teriak Yama mengejarnya keluar.
Dia terkejut melihat patung yang baru dia ambil dari rumah Suratmi berada di tengah jalan, suaminya bertingkah kasar menolak tubuhnya. Dia meminta cerai dan memilih istri mudanya. Dari arah depan, kecepatan tinggi laju mobil melintas cepat. Peri meninggal tepat di depan matanya, dia menjerit histeris. Orang-orang yang menyaksikan berpikir pria itu di tabrak pria tua yang keluar dari dalam mobil. Kemudi kendaraannya di gerakkan setan sehingga tanpa sadar melebihi kecepatan berkendara.
Di dalam ruangan, anaknya tampak tenang. Dua pria berpakaian hitam berpikir berhasil mengeluarkan setan dari tubuhnya. Mereka melepaskan kawat, menyiram tubuhnya dengan air mantra. Sosok iblis yang masuk di dalam tubuhnya menahan semua perlakuan mereka sampai keduanya berpamitan pergi. Para pelayat mulai berdatangan melihat jenazah Peri. Kain kafannya basah mengeluarkan darah dari kepalanya. Yama memindahkan patung ke tempatnya, tepat di depan rumah Sumiatik. Dia tidak mau kejadian buruk lainnya menimpa keluarganya.
Taman pemakaman umum menjadi saksi wanita lain yang berdiri di samping makam suaminya. Dia mengusap perutnya yang besar menangis memeluk batu nisan Peri. Pakaiannya yang sangat seksi, lipstick merah di padu padankan dengan tas dan sepatunya. Hatinya bertambah hancur melihat mertuanya ternyata selama ini tau perselingkuhan suaminya itu. Bu Meri yang menginginkan anak laki-laki, dia memperlakukan wanita itu melebihi rasa sayang terhadapnya.
Satu persatu orang-orang meninggalkan makam, Yama mendekati Meri yang meliriknya sinis.
“Jadi ibu sudah kenal wanita ini?”
“Ya, dia adalah menantu ku yang sangat baik. Dia akan melahirkan cucu laki-laki yang tidak akan bisa aku dapatkan dari mu..”
“Tega sekali engkau bu..”
Yama yang memiliki riwayat mandul setelah pemeriksaannya di kota penang. Dia telah melakukan berbagai cara agar rahimnya subur, sampai mengadopsi anak dari panti asuhan demi memancing kehamilannya. Dia tidak pernah putus asa agar bisa hamil dan memberikan keturunan untuk Peri, tapi dia tidak akan pernah menyangka suami dan mertuanya tega menyakitinya.
Harta warisan yang di tinggalkan hanyalah rumah beserta isinya, perusahaan itu seutuhnya milik istri kedua dan calon cucunya yang akan memegang alih perusahaan. Tangisan Yama di dalam kamar, dia merobek semua foto pernikahan. Menurunkan semua foto-foto yang terbingkai indah di dinding. Yama tidak sanggup lagi menggaji pekerja, dia memberikan upah gaji terakhir dan uang tambahan. Bi Ija mengangkat tasnya, dia berpamitan pada Yama dan memeluk erat Salsa yang mendorongnya enggan di peluk.
“Ada apa? Bayi kecil yang selalu menempel pada ku ini terlihat berbeda. Dia bukan Salsa, ada sosok lain yang mengganggunya” gumam bi Ija memperhatikan Salsa berlari masuk ke dalam kamarnya.
“Bibi pamit ya nyonya. Kalau nyonya butuh sesuatu, panggil saja bibi..” Manik mata bi Ijah tidak terlepas melihat Salsa berdiri di depan pintu.
__ADS_1
“Ya bi, hati-hati ya..”