
Lingkar kelopak mata menghitam, pemandangan wajah-wajah menunggunya duduk di samping sambil memainkan benda-benda aneh. Udara di dalam gubuk berbau anyir, tenaga terkuras bergerak di bantu Siy yang menyodorkan segelas air minum. Sosok Ayu menjatuhkan di atas tanah. Siy melotot melihat Kemuning vakum, semua tau kalau benda itu terbang sendiri dari tangannya.
“Tempat ini berhantu, kita cabut aja yuk!” Ngah mengusap ujung pundaknya.
“Dimanapun tempat pasti ada hantunya. Kita nggak ada pilihan tempat lagi___”
Bangunan sederhana tersimpan misteri di setiap sudutnya. Kamar satu-satunya di tempati Ngah dan Siy, mereka seakan berjaga jarak dengan Kemuning setelah penolakan satu kamar dengannya. Di dalam pikiran keduanya, Kemuning pasti mencari perhatian. Sarang laba-laba tidak tampak, keanehan muncul melihat pintu yang terkunci. Rantai besi berlendir, bekas darah di bagian bawah. Kemuning mencari alat untuk membuka pintu, dia terkejut melihat sosok hitam berdiri di depannya.
“Arggh!”
“Kemuning ada apa?” Otong melihatnya berjongkok ketakutan.
“Lari! Dia bukan Otong!” Ayu menariknya menembus pintu.
__ADS_1
Ini suasana hutan di dalam gunung Keramat yang di sulap para penghuninya merubah pandangan berbeda. Rumah itu jelas-jelas peninggalan Sri, tulang-tulang tengkorak bertaburan di dalam tanah. Kamar di bagian bawah kasur ada kerangkaa ibunya yang selalu dia gali dan lihat setiap hari.
Kemuning masih berada di dalam rumah, ke empat orang yang masih terlihat asing melihatnya masuk tanpa bertanya sepatah kata.
“Kok gubuknya jadi Vila?” ucap Otong berkali-kali mengusap mata.
“Berarti ini gubuk yang di ceritakan tante Zakum.”
“Kemuning, aku menawarkan mu dua pilihan. Kau bisa selamat dari asal kau mau jadi pengikut jin merah atau nyawa mu berakhir di tangan ku..” bisikannya yang pelan nan mematikan.
Kursi rumah makan raksasa, Kemuning di persilahkan duduk di sampingnya. Manik mata Sri melengos di sebelah kanan korban yang paling utama dia incar. Sri meninggalkan mereka bersama seorang wanita yang penampilannya sama seperti dia. Wajahnya kaku, dia meletakkan makanan dan minuman. Ruang meja makan penuh, air yang di tuang ke dalam gelas-gelas kosong berwarna merah pekat.
“Biar ku tebak. Ini adalah minuman darah. Huhu, bagaimana aku bisa keluar dari jebakan ini?” batin Kemuning melihat Ngah dan Kenzi lahap menghabiskan makanan.
__ADS_1
“Selamat menikmati, hidangannya! Perkenalkan nama saya Desi. Semoga kalian betah disini.”
Nada suaranya serak basah, Kenzi membalas senyumannya kemudian melanjutkan makan. Kemuning berlari mencari pintu keluar. Dia menepis tangan Ngah dan Siy, pintu hitam yang sama terdapat rantai pengunci.
“Kamu kenapa? Kalau pulang sama-sama. Bu Zakum menitipkan kamu sama kami.”
“Lepasin aku! Siy, kamu nggak lihat tempat ini sarang jin merah? Percaya sama aku.”
“Siy, kamu percaya Kemuning atau kita tiga?”
“Kemuning benar Ken, aku nggak mau kalu. Huekkk!” Siy memuntahkan semua makanan yang dia makan tadi.
Cacing yang menggeliat, cairan hitam dan ular yang di tarik dari dalam mulutnya. Sementara Ngah berteriak melihat Desi berubah menjadi wanita menyeramkan.
__ADS_1