Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Kesesatan


__ADS_3

Rumah bagi para pendaki, gunung Keramat mengisahkan perjalanan panjang menguras air mata dan kenangan. Kemuning enggan menuangkan di dalam tulisannya. Hatinya luluh lantak tidak menemukan cara bagaimana bertemu dengan neneknya. Bayangan biasanya muncul walau sekejap, dia masih terus berharap, menunggu walau tidak tau kapan waktunya.


Puing-puing pesawat yang berjatuhan, daging manusia yang menggantung dan potongan tubuh yang terpisah. Kecelakaan pesawat E73 jurusan penerbangan ke Utara mengisahkan penderitaan yang mendalam.


Dua orang yang berusaha keluar dari tanah cekung yang sedalam lima meter. Dedi dan Sri mencoba keluar ke atas permukaan. Mereka meraih akar-akar pohon dan menggunakan tanah-tanah yang mereka kikis untuk meraih setiap tanjakan. Selama berjam-jam Dedi mengikis dengan sepotong kayu, sampai pada pertengahan dia terhempas jatuh. Kakinya terkilir, dia juga mengerang kesakitan menahan luka di siku.


“Biar aku yang mencobanya” ucap Sri.


Sri memakai celana pendek dan kaos tipis, kaki dan tangannya terluka. Dia meminjam celana yang di kenakan Dedi agar kulitnya yang terluka tidak tergesek tanah. Untuk saja pria berumur itu memakai celana pendek berukuran sedengkul. Dia berharap Sri bisa meneruskan kikisan tanah.


Angin bertiup kencang, patahan ranting berjatuhan. Mendung membawa gumpalan awal tebal merata. Suara gemuruh mulai terdengar kuat. Air hujan menetes, semakin deras sehingga keseimbangan Sri tidak terkendali. Dia terjatuh, kakinya tertimpa bebatuan menangis kesakitan. Dedi mengangkat batu yang menimpa kakinya.


“Kau tidak apa-apa Sri?”


“Tidak apa-apa, hanya cedera ringan. Air hujan akan menghanyutkan kita sebelum kita mencapai permukaan. Sangat mustahil kita berenang dengan keadaan seperti ini.”

__ADS_1


“Aku yakin kita bisa melalui semua ini Sri.”


Di guyur hujan selama berjam-jam. Mereka berdua mulai menggiggil kedinginan, rasa haus berganti rasa lapar. Mereka terjebak selama dua kali dua puluh empat jam. Dedi terpaksa menangkap dua ekor katak, dia membanting lalu memberikan seekor pada Sri yang terlihat jijik menerimanya.


“Kita tidak ada pilihan lain Sri. Kita harus bertahan hidup.”


Sri terpaksa menerimanya, dia mengunyah sambil memikirkan memakan sepotong daging rendang dan meminum guyuran air hujan seolah minum air bening yang sangat dingin. Namun tetap saja lambungnya menolak, dia memuntahkan hingga pingsan dalam kedinginan.


Air hujan sudah seleher mereka. Dedi memeluk Sri, dia pasrah jika harus meninggal berdua dengan wanita yang sangat dia cintai.


Di depannya ada sosok makhluk yang memberikan kebahagiaan bahkan mengabulkan semua keinginannya. Di bagian jalan hitam yang harus dia lewati dengan bara api yang sangat panas. Sedangkan Dedi ada di sisi lain, titik yang menghubungkan hanya bertali satu.


Keduanya sama saja, tidak ada harapan atau titik terang. Sri tidak sanggup lagi menahan rasa lapar, tubuhnya mulai mati rasa membeku karena tidak sanggup lagi menahan rasa dingin. Sri semula hanya berpura-pura menyetujui keinginan sosok makhluk itu.


“Setelah dia membantu ku keluar maka aku juga bisa menyelamatkan mas Dedi” batinnya.

__ADS_1


Sri menyambut uluran tangan jin merah. Sekali lagi jin merah bertanya apakah dia benar-benar memilihnya. Sri mengangguk setuju menerima genggaman tangannya yang dingin dan kaku. Perlahan suhu tubuhnya normal dan tidak merasakan hawa dingin sedikitpun. Dia membuka mata melihat wajah Dedi yang sangat pucat. Suara ledakan melubangi tanah. Sri membangunkan Dedi, dia tersenyum bahagia menemukan jalan keluar.


“Uhuk, uhuk. Kita mau kemana Sri?”


“Aku akan membawa mas keluar dari sini. Kita akan bebas bersama mas” jawab Sri yang tidak sabar naik ke permukaan.


Di mata Dedi, dia tidak melihat jalan keluar yang Sri katakan. Dia hanya melangkah mengikuti arah jalan Sri yang menopang tubuhnya.


Keyakinan Sri berujung malapetaka kematian Dedi yang tersangkut di dalam himpitan tanah bebatuan. Sri tanpa sadar menariknya sangat kuat. Jin merah membisikkan agar terus menarik tubuh Dedi.


"Arghh! " teriakan terkahir Dedi terdengar olehnya.


Melihat jalan keluar, dia menarik tangan Dedi yang terputus. Teriakan Sri melihat jasadnya yang tertinggal.


"Mas Dedi! "

__ADS_1


Dia meminta jin merah agar menyelamatkan nya. Makhluk itu menolak karena sesuai perjanjian hanya menolong Sri seorang.


__ADS_2