Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Farsya di bawa pulang Genderuwo


__ADS_3

Mardi terbangun dari mimpinya, dia mendengar suara tangisan orang berteriak minta tolong. Suaranya melengking, dia yang semula enggan turun dari kasur mencari sumber suara. Dia menaiki tangga, langkah kaki terhenti melihat sosok wanita mengusap rambutnya bergerak melayang mendekat. Dia menarik masuk ke dalam kamar, suara teriakan minta tolong terdengar keras penghuni lainnya.


“Grondrong, kamu dengar suara Mardi nggak?”


“Nggak, jangan ganggu deh aku ngantuk banget nih” Cecep menutup tubuhnya dengan sarung.


“Argh! Mas Mardi!” Kesia dan lainnya melihat Mardi meninggal di atas kasur.


Kamar milik anak tirinya Pudin yang telah lama kosong memperlihatkan aura mengerikan. Setiap sudut ada patung-patung aneh, di bawahnya ada bunga dan bekas lilin yang meleleh. Sepuluh orang yang berada di depan pintu melarikan diri sementara sisanya tercengang memperhatikan keanehan pada dinding kamar.


“Cepat kita harus lapor polisi” ucap Heni menarik Kesia yang menangis di dekat mayat Mardi.


Telepon rumah terputus, sinyal handphone hilang di tambah hujan deras dengan suara gemuruh petir menggelegar. Mereka ketakutan ketika pintu tidak bisa di buka, pandangan beralih melihat sosok mengerikan yang berdiri di balik tirai. Tangan panjang melengkung, jari jemari runcing. Pada malam itu kematian berantai. Orang-orang sekitar mengaitkan dengan pesugihan Pudin yang menghabisi para relasi kerjanya.


Dia tidak bisa di jadikan tersangka, tidak ada barang bukti yang menguatkan. Pria itu masih sibuk di kaki gunung, dia melakukan cara apapun menggunakan tata cara yang di anjurkan si dukun. Tanah kuburan anaknya di bongkar, Pudin membaca mantra di selembar kertas, dia memandikan tubuh anaknya dengan tujuh ekor darah ayam hitam.


Desi membuka mata, di wajahnya terlihat urat-urat hitam. Pupil mata memutih, dia meneguk tetesan air dari dalam wadah bekas mandinya. Desi tidak bisa berbicara, dia hanya mengangguk dan menggeleng kepala. Dia melompat ke pohon beringin tua, Pudin yang tidak terima karena anaknya kembali lagi ke pohon yang membuat hidup anaknya berubah.


“Arghh! Aku harus membakar pohon terkutuk itu”


Api tidak bisa membakar setiap ranting maupun daun yang kering. Tidak juga membinasakan makhluk yang di dalamnya. Desi memukul kuat ayahnya, dia mencakar sampai merobek kaki dan tangan. Pudin melihat sepasang mata anaknya yang berbeda. Amarah Desi tidak terima karena pohon beringin di rusak, di mendorong Pudin menjauh sampai dia terjatuh ke dasar jurang.


“Arggh! Desi anak ku!” teriak Pudin.

__ADS_1


......................


Kemuning berdiri memperhatikan pohon beringin tua yang akarnya menjalar bergerak menutup pintu masuk lereng gunung. Sosok anak kecil yang bersembunyi di dalamnya mulai berpura-pura kesakitan, dia mengulurkan tangan meminta tolong. Hantu Ayu tau segala tipu muslihat para makhluk yang mengincar jiwa yang masih bernafas.


Amarah Desi tidak sabar merenggut tubuh manusia itu, Ayu membawa Kemuning menghilang sesaat sosok makhluk lain mengejar. Kepulangan hari ini di halangi para penunggu ganas, lagi-lagi Ayu terlibat menjadi peran penting menyelamatkannya.


“Kemuning kamu nggak pulang? Mas Erik mau mengantar kita. Yuk” ajak Farsya tersenyum melihat ke sosok makhluk hitam di sebelahnya.


“Ngg__ di depan sana ada anak kecil berwujud setan. Kita putar jalan lain aja ya..”


“Yah, mau sampai kapan? Aku tinggal kamu nih kalau nggak mau ikut..”


Farysa dengan enteng pergi lenggang kangkung melewati Kemuning yang tampak melongo melihat makhluk yang di sebut Erik telah mengubah sahabatnya tidak memiliki hati nurani. Dia meninggalkan Kemuning begitu saja, tanpa merasa bersalah sedikitpun.


“Kakak, ihihihhh” ucapnya menyentuh tangan Farsya yang gemetaran.


"Si_si_siapa yang menyentuh ku" ucap Farsya terbata.


“Abaikan saja. Jangan buka mata sebelum aku mengatakan telah sampai di rumah sayang” ucap sosok makhluk berwujud Erik membawanya menggunakan kekuatan setan.


Farysa telah tiba di depan rumahnya, Erik menurunkannya lalu memintanya membuka mata. Dia menoleh melihat Erik tidak ada di sampingnya. Masuk ke dalam mencari dimana keberadaan suaminya itu, sampai sore hari dia tidak terlihat dimana pun.


“Kemana perginya mas Erik? Tidak mungkin dia ke kembali ke gunung” gumam Farsya.

__ADS_1


Dia merasakan sangat pusing, berlari ke kamar mandi mengeluarkan semua isi perutnya. Farysa terkejut melihat cacing menggeliat yang dia muntahkan. Dia berlari mencari test pack, berselang beberapa menit dia terkejut melihat dirinya positif hamil. Sawung-sawung memenuhi setiap perabot, sarang laba-laba yang bertebaran, debu dan tikus merajalela di kolong meja. Farsya jatuh terduduk termenung berdiri melihat pintu ruang tamu yang terbuka lebar.


“Bu farsya, ibu ngga apa-apa? Mana pak Erik, kok ibu sendirian?” ucap bu Muti.


Dia tidak sengaja lewat dari depan rumahnya, biasanya pintu rumah itu tertutup. Muti memperhatikan pandangan kosong farysa tidak menjawab membuatnya ketakutan. Dia berlari ke rumah, mengabari orang tuanya Farsya. Para tetangga lain yang melihat Farysa seperti orang linglung, dia menjadi tontonan warga sampai bu Kela dn Riri hadir membubarkannya.


“Mana si Erik, jawab pertanyaan ibu! Kenapa kamu diam saja?” Kela mengguncangkan tubuhnya.


“Sudah bu, nanti Riri saja yang membujuknya.


Farysa seolah mengalami kejadian berulang, pernah kembali pulang bersama Erik namun kali ini suaminya benar-benar meninggalkannya. Dia merasakan detak jantung bayi di dalam perutnya, Farysa menangis mendengar kabar bahwa Erik di temukan meninggal di kaki gunung keramat.


“Nggak! Kalian semua bohong! Mas Erik masih hidup. Dia yang mengantarkan ku pulang bu! Hiks”


Jadi di pastikan sosok yang selama ini menemaninya bukanlah Erik. Kedatangan Hana yang memakai kursi roda membuat Farsya semakin histeris. Dia meyakini suaminya masih hidup, Hana menangis memeluknya terlihat dia yang tetap meyakini orang-orang telah menipunya.


“Hana, aku minta maaf. Aku ninggalin Kemuning gitu aja di gunung. Waktu itu aku Cuma mikir dunia ku hanya ada mas Erik. Hiks, ayo kita cari Kemuning dan mas Erik di Gunung.”


“Sabar Far, jangan menyalahkan diri mu sendiri. Kamu harus menerima kepergian Erik.”


Jenazah Erik yang di bawa ambulan pada sore itu telah meruntuhkan hidup Farysa. Dia berkali-kali tidak sadarkan diri tidak sanggup melihat suaminya telah meninggal.


“Kak Riri, dia bukan mas Erik kan kak? Hiks”

__ADS_1


Rita hanya bisa memeluk adiknya. Suasana pemakaman di guyur hujan deras, tangisan Farsya tidak henti tidak percaya akan kepergian suaminya. Gunung keramat mengambil Erik dan sahabatnya, semua gangguan masih tetap berjalan walau telah meninggalkan wilayah angker itu. Sesekali Farysa sering melihat Erik berdiri di sampingnya, panggilan suaranya yang khas hingga Farysa terlihat seperti orang gila. Semakin hari perutnya semakin membesar, dia sering berbicara sendiri sambil menoleh ke sisi kirinya.


__ADS_2