Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
maut


__ADS_3


Robi menemukan tangan kakeknya yang kaku ke atas tanah. Di sekeliling ada tumpukan kepala tengkorak. Dia mendaki tanpa ijin keluarganya, pagi buta berlari membawa tas yang telah dia siapkan. Ketakutan menyentuh tangan sang kakek namun suara wanita menghentikannya.


“Tunggu! Jangan sentuh tangan itu!”


Seorang wanita mendorongnya menjauh. Ada seorang pria membawa dua ember plastik berukuran sedang. Dia meletakkan di dekat benda itu, berbisik memandanginya. Wanita berwajah pucat mengerutkan dahi mendekatinya.


“Ayo ikut kami pergi dari sini.”


“Apa kamu tidak lihat aku mau mengeluarkan jasad kakek ku?”


“Bro, ucapannya benar. Malam akan berganti, kami hanya tidak kau tersesat atu__ ah sudah lah. Oh ya, apa kau yakin itu jasad kakek mu?”


“Hei pria pembawa air. Cepat kau pergi dan bawa adik mu yang mengganggu ku!”


“Apa? Aku si pembawa air?” Kenzi menunjuk dirinya sendiri.


“Sudah jangan di perbesar Ken. Baiklah kami akan pergi, tapi katakan padaku apa yang membuat mu yakin kalau yang terkubur itu jasad kakek mu?”


Mengilas balik kejadian mundur sebelum kepergian si pria tua


🍂


🍂


🍂


🍂


🍂

__ADS_1


Selepas kejadian yang baru saja akan membunuh semuanya. Ketika mereka sampai, semua mayat menghilang bersama kabut putih pekat. Kenzi tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Berduka kepergian Geh belum lagi jasadnya yang menghilang.


“Dimana mereka menyembunyikan Geh? Pasti pelakunya berkelompok! Tidak mungkin semua mayat menghilang dalam sekejap!”


“Sabar Ken, tenang dulu. Aku janji akan membantu mu…”


Kemuning menahan kakinya yang sakit, dia melihat di dalam tenda masih ada sisa potongan kaki Geh. Memanggil Kenzi untuk melihatnya, air matanya si usap menerima potongan kaki hangus saudaranya. DI luar tenda, suara tawa senda gurau kedua gadis yang di bawa Pon. Mereka lah asik di dalam tenda tanpa memperdulikan kejadian itu. Sementara mastur menggunakan radio HT memberi laporan pada si BOS. Membacakan catatan yang di berikan Pon.


......................


“Apa yang terjadi gunung keramat itu tidak keseluruhan dari makhluk-makhluk halus disana. Semua campur tangan manusia yang rakus dan tamak hingga membangkitkan penghuni gunung Keramat sesukanya menguasai mereka.”


Seorang pria tua duduk bersila memandang jauh gunung yang di vonis wilayah kematian. Perkataan sang kakek di rekam cucunya yang duduk di sampingnya. Di dalam benak dia penasaran bagaimana cerita lain juga penampakan makhluk nyata yang tidak pernah dia lihat. Jika dia telah dewasa nanti, dia berniat ingin Menaklukkan gunung, dia juga mau mengupas masalah para pendaki yang hilang. Kakeknya terlalu tua, tubuhnya yang mulai sakit-sakitan termakan usia setiap harinya harus beradu membantu orang yang tersesat di hutan.


Jika memasuki gunung itu, kakeknya bisa selamat atas dasar bantuan makhluk yang sering di ceritakan sang kakek.


“Kek, kalau makhluk itu bisa menyelamatkan kakek, kenapa dia tidak menyelamatkan orang-orang yang mendaki?”


“Cuk, manusia adalah makhluk yang tertinggi derajatnya di muka bumi. Memiliki keterbatasan tidak mungkin bahkan mustahil melampauinya sang Maha Kuasa. Apalagi makhluk halus yang berwujud badan lembut. Pastilah lebih mempunyai keterbatasan yang lebih kurang. Pesan kakek, kamu jangan terperdaya, tertipu makhluk di dalamnya. Bertemu atau di selamatkan makhluk yang baik bukan berarti dia tidak bisa melakukan hal yang tidak terduga__”


Mengingat kejadian lima tahun lalu


Lima orang anak bermain di tepi sungai. Mereka mengabaikan teriakan orang tua agar pulang. Di kaki gunung, tidak menjadi rahasia umum. Tradisi yang di tegakkan sejak lama ketika matahari terbenam maka tidak ada yang boleh di luar rumah. Tidak terkecuali orang dewasa, di bagian ini yang paling terpenting adalah anak-anak di wajibkan terjaga di dalam rumah.


“Anak siapa yang belum pulang? Masih ada ramai suara ibu-ibu memanggil anak-anaknya” ucap bu Sitik.


“Tong, kamu main sama siapa tadi? Sekali lagi kalau ibu mu memanggil langsung menyahut.”


“Heh, maaf yah. Tadi Otong main bareng kelompok Gembom” jawab Otong tersenyum mengusap rambut belakangnya.


Tiga anak memasuki hutan mendengar suara jeritan Gembom. Mereka berpencar, langit mulai gelap. Dari belakang tubuh Rom, penampakan jin merah menariknya masuk ke sela semak belukar. Pita suaranya di tarik. Dia menjadi bisu, jari jin merah di bunyikan mempertunjukkan kukunya yang runcing merobek perutnya.

__ADS_1


Gembom kesakitan mengerang melihat organnya tubuhnya yang keluar, Dia sekarat, meninggal dengan bola mata terbuka. Jantung segar kesukaan jin merah menambah kekuatannya,tawa menggema. Dua anak laki-laki di tarik sosok wanita menancapkan tubuhnya ke batang pohon besar.


Clap__


Krakk__


Tersisa tinggal Ojon, ada tangan yang menariknya dari balik pohon. Semakin kuat dia menarik, tangannya terjepit terasa kayu dingin menekan kuat. Menarik tangan sampai tubuhnya terjatuh. Teriakan kencang melihat empat jarinya yang terputus.


“Akhh! Ahhh!”


Pria tua itu mendengar anaknya menjerit kesakitan bahkan berlari ke arahnya. Langkahnya tertatih menghindari rerumputan, alang-alang dan semak. Pohon yang berjajar memperlihat bagaimana anaknya berlari.


Sosok makhluk mengerikan terbang membawanya terbang. Dia tidak dapat mengejar anaknya, istrinya yang tiba-tiba meninggal di sampingnya karena tidak sanggup melihat hal yang di alami anaknya.


Sampai sekarang, pria tua itu tinggal di gunung keramat. Hutan pemangsa manusia tidak lagi di hiraukan. Setiap sebulan sekali, sanak keluarga mengunjunginya. Bujukan mereka meminta supaya mengikhlaskan anaknya dan kembali di desa tidak dia hiraukan.


“Dua jam lagi senja akan tiba, kau harus pulang, ibu mu pasti menunggu di depan.”


“Tapi aku ingin menginap disini kek..”


Robi tidak mau melewatkan cerita selanjutnya tentang gunung keramat yang terdengar semakin seru. Wajahnya berubah cemberut melihat ibunya menariknya supaya pulang Yuni tidak membawa anaknya lagi untuk mengunjunginya.


“Kenapa sikap mu tidak pernah berubah dan tetap keras kepala. Aku tau kau masih berduka, tapi Ojon pasti sedih melihat mu seperti ini..”


“Diam! Pergi!”


Makhluk mengincar, matahari terbenam tidak melepaskan satu orang pun terlepas. Desi tidak melepaskan Ojon, anak manusia yang tumbuh dewasa itu menjadi bagian dari pengikutnya. Seringkali penampakan anaknya membuat si pria tua bertekad tinggal.


Sampai mati di dalam benak, hutan belantara di gunung keramat adalah rumahnya. Hari ini, tepat di depan cahaya matahari yang terbenam. Selepas sang cucu pulang, dia berdiri di atas baju besar melihat makhluk apa membunuh anaknya.


Penampakan di depan, sosok makhluk yang dia tunggu berwujud anaknya yang merangkak berbentuk tingkah hewan menjulurkan lidah. Air liur menetes, suara aneh, tatapan membunuh, dia menerkam ayahnya sendiri mencabik tubuhnya untuk di berikan pada Desi.

__ADS_1


“Ka_Ka-Kamu bukan anak ku Ojon.”


Kematian sang kakek, cerita makhluk di gunung keramat dan obrolan ibunya dengan warga kampung. Di depan makam kakek yang dia sayangi itu berjanji akan menemukan makhluk yang membunuhnya.


__ADS_2