Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Lenyaplah si capit


__ADS_3

Si mbok mengabarkan kepada Capit bahwa mayatnya menghilang. Raut wajah membara di telapak tangan mengeluarkan bola api memutar melempar ke Iman. Lemparan sihir musnah karena dzikir Iman yang sangat khusyuk. Dia merasakan ada hawa hitam yang menyerang, Iman melanjutkan hafalan ayat memusnahkan ilmu sihir dan santet.


Bola api kiriman ilmu terganas yang sangat panas melebur menjadi debu.


Siapa yang mengira kesombongan manusia yang mencari korban dari darah pendaki untuk memusnahkan Iman telah beralih di binasakan sosok mbah Mindun. Nenek Kemuning yang terpaksa berganti sukmanya terjerak di Gunung keramat.


Kemuning sering mengalami hal ghaib, hatinya masih terpanggil mendaki ke sana. Ada banyak serpihan hatinya yang tertinggal disana. Dia sering membantu menjadi pemandu pendakian.


Cerita duka yang di alami para pendaki tidak henti mempertemukannya dengan sosok wanita kebaya, arwah Capit yang bergentayangan, sosok arwah Desi dan para pendaki yang meninggal di gunung Keramat. Harapan bertemu sang nenek terlaksana membuat dia gemar mendaki walau tau gunung itu di hinggapi ilmu hitam.


......................


“Nek, nenek lagi apa? Untuk apa semua ayam mentah ini?” Tanya Nisa melirik wanita itu memakai pakaian hitam, ada bekas darah di bibirnya. Dia memukul Nisa, wanita itu mengambil pisau akan membunuhnya. Sosok Capit dating menahan tangannya yang merobek lebih dalam.


Dia mengucapkan mantra meniup meretakkan semua tulang Mijan. Suara teriakan kesakitan keras menakutkan. Nisa berlari memanggil semua anak-anak panti,. Kamar mereka kosong di lanjutan menaiki tangga melihat kelima bayi itu masih tertidur. Dia memanggil Figo berulang kali, namun ketika Nisa melihat dari atas tangga. Ada banyak pria dan wanita berpakaian hitam memakai jubah mengelilinginya.


“Jangan turun ke bawah kak Nisa. Masuk lah ke kamar, aku aka menyusul mu!” kata Figo mulai membaca mantra.

__ADS_1


“Tuan ku, kami siap mematuhi semua perintah mu."


Para pengikutnya berjalan di belakangnya menggunaan kedua dengkul mereka. Ke Sembilan anak terlihat di ikat. Mereka tampak ketakutan terutama Jeri yang menggeliat berusaha membuka tali yang mengikatnya.


“Siapa yang akan kalian pilih? Aku atau si Iman?” Tanya Capit mengenakan jubah hitam yang di berikan wanita berwajah pucat.


Semua penutup mulut mereka di lepas agar memberikan jawaban. Mereka semua berteriak nama Iman, hal itu membuat Capit murka merobek perut mereka mengeluarkan isinya. Organ yang berjatuhan d sambut bahagia merasakan kembali kekuatan tuan mereka yang menghidupkan ilmu hitam.


Di depan sana berdiri Iman, dia telah siap melenyapkan iblis yang merampas tubuh asli Figo. Nisa membulatkan mata tidak percaya Figo sanggup membunuh ke sembilan anak panti. Lima bayi kembar di ambil anggotanya, begitu pun kedua pengurus yang di ikat di atas meja sesajian.


“Aku bukan Figo! Aku adalah Capit, sang penguasa kegelapan! Ahahah!”


“Jangan dekati dia kak Nisa, dia adalah iblis yang nyata. Cepat pergi kak!” teriak Iman.


“Kenapa iman? Apa kau khawatir seperti dahulu melihat kematian orang tua dan kakek mu? Hahaha, putuskan saja mana yang akan aku bunuh. Kau atau bayi-bayi ini!”


“Capit, kekalahan mu di lenyapkan nek Mindun adalah bukti nyawa kebesaran Allah! Allahuakbar!”

__ADS_1


Kedua kekuatan saling beradu, ilmu Capit yang tertanam jauh sebelum Iman lahir hingga dapat menaklukan gunung. Dia memutar bola api yang sangat besar melempar ke tubuh Iman yang menutup mata sambil mengucapkan ayat suci Al qur’an. Di depannya ada Nisa yang menghalangi, Capit berhenti melemparkan sihir bola api. Dia menangkap tubuh Nisa yang jatuh pingsan.


“Kak Nisa maafkan aku kak! Kau tidak boleh meninggal, aku akan memberikan tenaga dalam dan kekuatan ku!”


Capit mengeluarkan semua ilmu yang dia miliki. Ilmu pembangkit dapat menghidupkan mayat yang sudah meninggal, tapi Nisa tampak sekarat di antara kehidupan dan kematian. Dia menggenggam erat tangan sosok anak kecil yang di matanya tetap di anggap sebagai Figo.


“Ayo ikut kakak, kita bersama-sama selamanya adikku..” ajak Nisa.


Di pikiran Nisa yaitu bagaimana cara Capit keluar dari tubuh Figo dan membawanya terbang jauh. Capit tidak menyangkal berkali-kali melawan dirinya sendiri melihat Nisa seperti sosok anaknya Desi. Dia mengikuti perkataan Desi, membunuh nyawanya sendiri dan menerbangkannya meraih tangan Nisa.


Api merah menyala hilang terbang ke langit. Nisa meninggal bersama Capit, para pengikutnya menyerang Iman dan mau merampas kelima bayi kembar. Iman berhasil menghantam para iblis yang merasuki mereka.


Atik menjemput cucunya pulang membawa kelima anak bayi kembar. Seperti sebuah Misteri ikatan gunung keramat mengikuti. Ayah kelima bayi itu dinyatakan sesat dan meninggal disemat sebagai manusia sesat.


"Iman, sungguh nenek tidak mau berhubungan lagi dengan gunung itu. kita titipkan saja mereka ke panti asuhan yang lain. Nenek juga sudah terlalu tua merawat kelima bayi ini sendirian."


"Nenek, segala apa yang baik buat mu dan Iman akan selalu Iman dukung. Semoga Allah selalu melindungi Nenek.."

__ADS_1


__ADS_2