
“Loh si Indro mana?” Tanya Rati melihat tendanya yang kosong.
“Nggak tau semalam dia di samping aku” jawab Dono melihat dia tidak ada di tempat tanpa membawa jaket dan peralatannya.
Ketiga orang itu semalam seperti di bius pingsan, kabut putih pekat menyelimutinya. Mereka merapikan semua barang-barang. Pana terlihat semakin pucat wajahnya terlalu menguning. Gerakannya sangat ringkih, dia baru saja berjalan tiga langkah langsung terjatuh tersungkur ke tanah. Dono dan Rati memapah menyandarkannya di dekat pohon yang tumbang.
“Aku akan mencari kayu untuk memanaskan air. Kamu jaga Pana.”
“Hati-hati Don..”
Pandangan mata Dono tertuju pada sebuah rumah mewah yang berada di dalam hutan. Dia mengendap-endap melihat lebih dekat. Di pekarangan belakang, seorang wanita seperti sedang memanggang sesuatu di atas bakaran api yang membara. Dia menyipitkan mata mengamati sekali lagi melihat potongan bagian kaki manusia terpanggang sampai gosong.
Dia segera pergi, terjatuh sampai terbanting memasuki jurang. Kakinya robek, Doni menahan jeritan takut terdengar wanita tadi yang posisi letak dia terjatuh masih di dekat rumah tersebut. Mencapai akar pohon, berusaha naik ke atas dataran tinggi. Suara panggilan Rati menggema terdengar jelas olehnya.
“Don! Kamu dimana?”
“Sthhh!” Dono menutup mulutnya. Dia setengah mati menahan rasa sakit di kakinya membawanya bersembunyi di balik akar rimbun.
Sosok wanita mengendus, di tangan kanannya ada kaki manusia yang dia lahap sambil memasang posisi mengintai. Mereka perlahan pergi, di depan suara jeritan Rati melihat tubuh Pana di tindih wanita itu. Dono mengambil batu melemparnya, sosok yang bernama Sri itu menyerang dari belakang Rati memukul kepalanya.
Pukulan keras, lemparan batu merobohkan tubuhnya. Dono dan Rati mengangkat Pana menghindarinya, menghindari sosok itu sama saja menunggu di mangsa hewan buas. Dia menegakkan tubuh menarik Pana bagai hewan buas menggigit mangsa. Mereka menghilang di dalam kabut putih yang mulai merata.
“Pana! Hiks” teriak Rati mengejar.
Dono memintanya berhenti berteriak dan segera pergi. Nyawa sedang terancam, Rati meronta tidak mau meninggalkan tempat itu. Seorang pendaki yang muncul menariknya berlari, Dono mengikuti sampai langkah terhenti menunduk di bebatuan. Suara wanita aneh yang mengangkat Pana terdengar mengerang mencari-cari mangsanya yang lain.
Dia membawa Pana ke sebuah rumah megah, di depan ada sosok jin menggertak jarinya memperlihatkan wajah bahagia.
__ADS_1
“Kita jangan mendekati rumah itu, ayo kita pergi”
“Kamu siapa? Wajahnya tidak asing” ucap Dono.
“Kak Kemuning kan? Aku mendengar cerita kakak dan teman-teman kakak yang lain di kampus. Ternyata memang benar, kakak bisa menaklukan gunung ini” ucap Rati.
“Aku tidak seperti yang kalian kira. Aku hanya sedang mendapatkan sebuah keberuntungan.”
“Don, kamu pulang sama kak Kemuning ya aku mau menyelamatkan Pana.”
“Nggak, aku nggak setuju! Kita balik sama-sama!” ucap Dono.
Rati berlari masuk ke dalam di ikuti Dono. Kemuning tidak berani lagi berurusan dengan sejenis makhluk mirip sosok Sintya. Beberapa menit berlalu, Dono mendorong Rati keluar rumah. Dia di tarik sosok aneh ke dalam menggunakan bantingan pintu.
Kemuning membantu Rati berlari menghindari kejaran sosok jin merah. Hantu Ayu memberi petunjuk melewati jembatan. Dia menutupi kabut putih pekat, dorongan sosok penampakan nek Mindun menjauhkan jin merah.
Tangisan memang bisa menumpahkan segala penat sesak di hati namun tidak merubah segala yang terjadi. Vakum menunggu air mata selanjutnya.
......................
Farsya kembali terhipnotis dengan sosok gendoruwo yang berwujud Erik. Dia jadi melupakan bayi gendoruwo yang semula ingin dia pertanyakan. Kehidupannya berubah lebih menginginkan tinggal di gunung Keramat. Empat puluh hari meninggalkan rumah dan berjanji akan kembali pulang malah berujung hidup berumah tangga dengan sosok gendoruwo salah satu penunggu gunung.
Pencarian Farsya yang memberikan pesan terakhir agar jangan mencarinya. Para tim yang pencarian selama tujuh hari tidak menemukan jejak mengenai dirinya. Kela melakukan segala usaha demi mencari anak bungsunya, dia sakit-sakitan memikirkan nasib cucunya yang berbentuk makhluk gendoruwo dan anaknya yang menghilang.
“Bu, aku tidak sanggup lagi mengasuh bayi gendoruwo ini. Tangisannya terlalu keras dan tatapan matanya seperti mau memakan ku” ucap Ririn sambil mengayun keranjang bayi.
Suara bel panggilan Muti, dia melihat dari kaca jendela. Ririn yang tampak berjalan membuka pintu. Setelah membuka, dia cepat-cepat mendorong keranjang bayi ke dalam kamar tanpa menyapanya.
__ADS_1
“Bu Kela bagaimana keadaan ibu? Oh ya sejak cucu ibu lahir saya belum sempat melihatnya. Ibu sibut terus sih..”
“Jangan bicarakan cucu ku bu Muti. Sebagai tetangga, ibu pasti lebih tau apa yang telah aku alami.”
“Heh, kalau ibu mau mendengar saran saya. Coba ibu menemui kek Langsat. Semoga dia bisa membantu masalah ibu ya. Sebentar saya ke rumah dulu mengambil alamatnya.”
Setelah mendapatkan alamat dukun dari desa seberang, Ririn mengemudikan mobil bersama ibunya membawa bayi gendoruwo yang di beri nama Tarak. Menahan rasa merinding melihat pertumbuhan bayi itu cepat sekali besar dan mengkonsumsi susu formula secara berlebihan. Stok susu hampir habis dan perjalanan masih jauh. Mereka mencari warung di sekitar kaki gunung, hanya ada pasar yang di gelar ramai berjarak tiga meter. Ririn turun dari mobil berlari menuju pasar, orang-orang disana tampak aneh melihatnya.
Tidak ada penjual susu Formula kotak maupun sachet, dia melihat gantung-gantungan susu kambing yang baru di peras. Berpikir susu itu masih banyak bakteri karena belum di olah, dia memutar pikiran membeli beberapa kantung plastik susu lalu menumpang memasaknya di salah satu warung.
Tatapan sinis wanita tua melotot menggelengkan kepala. “Aku tau kau membawanya! Cepat pergi sebelum semua orang mengusir mu!”
“Maaf nek, saya minta tolong keponakan saya kehausan.”
“Pergi kau!"
Tidak ada satu warung pun yang mau memasak susu yang dia bawa. Tanpa dia sadari penjual susu tadi menghilang dengan senyuman menyeringai. Gendoruwo penunggu gunung Keramat memberikan darah berbentuk susu dari hewan buas di hutan.
Ririn melihat beberapa ekor kambing di dalam kandang yang ternyata adalah ular dan serigala. Ririn masuk ke dalam mobil, tangisan kuat Tarak mempercepat gerakannya membuka salah satu kantung. Ketika membuka bungkusan, aroma anyir menyengat menusuk hidung.
“Itu susu apa Rin? Kok bau amis sekali.”
“Susu kambing bu. Tapi belum di masa.”
“Haduh, kasian Tarak! Kita cari warung lain aja buat memanaskan susu itu.”
Kemudi kendaraan melaju perlahan, tidak ada penjual keliling yang mereka lihat. Tangisan Tarak semakin kencang, gerakan mulutnya meminta minum.
__ADS_1
“Kita nggak punya pilihan lain bu. Tarak sangat kehausan.”