Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Mencoba menyelamatkan arwah Jaja


__ADS_3

Tidak bisa di pungkiri, dari luar pesona gunung yang terkenal dengan berjuta daya tarik membuat orang-orang ingin mendaki atau berwisata kesana. Bagi kaum awam yang tidak mengetahui seluk beluk cerita di dalamnya, banyak yang terkecoh dan di kelabui sampai mengalami peristiwa yang naas.


Keterbatasan penglihatan mata manusia yang tidak semua bisa melihat makhluk halus sebagai pemisah kehidupan alam yang berbeda. Namun, keserakahan beberapa manusia yang bisa melihat dengan bantuan jin atau dukun yang memuja makhluk iblis. Memanfaatkan demi mengambil hasil bumi seperti menarik Benda ghaib dari dalam tanah. Mendapatkan emas, permata, barang antik dan benda bernilai yang bisa menghasilkan uang.


Tidak ada yang tau pasti fenomena lainnya yang ada didalam. Manusia yang memiliki hubungan pada makhluk yang mereka puja harus siap sedia selalu memberikan janji dan sesajian setiap tahun. Awal dan akhir tahun menjadi saksi banyak manusia sesat berbondong-bondong keluar masuk gunung.


Mereka menyelesaikan hajad dan keinginan tanpa sadar menjadi pengikut iblis di neraka. Tidak ada yang mendengar suara gelak tawa bercampur kebahagiaan para iblis mendapatkan makanan.


Salah satu pohon yang paling banyak di penuhi sesajian adalah pohon beringin tua yang berada di kaki gunung pintu masuk tempat jalur awal perbatasan hutan. Akar-akar yang menggantung di ikat plastik-plastik yang berisi kantung darah segar di hingga lalat.


“Duh berat sekali!”


“Hei! Itu kan sudah jadi tugas mu! jangan mengeluh di gunung keramat kalau tidak mau terkena sial” bisik pria yang berjalan membawa sesajian mendahuluinya.


Si pria berpakaian kemeja dan jas lengkap dengan dasi menghindari jalan berlumpur. Dia kembali mengeluh karena sepatunya yang mahal menjadi kotor. Karena sibuk membersihkan sepatu, tumpeng sesajian jatuh berserakan. Angin kencang membanting tubuhnya, dia melihat sosok makhluk besar berdiri mengangkatnya. Suara teriakan terdengar para pembawa sesajian lain terutama pria yang menegurnya tadi.


"Arggh! "


Pohon beringin tua semakin ganas menyalakan kekuatan mistis. Seorang anak yang diam-diam mengikuti orang tuanya berlari keluar dari dalam mobil. Dia berjongkok mengambil sebuah boneka di atas bunga warna-warni.


Perlahan sepasang tangan menariknya masuk ke dalam sela lubang pohon. "Ayah! ibu!"

__ADS_1


Pudin terkejut melihat istrinya menyusul dengan tangisan sejadi-jadinya. Mengetahui anaknya Desi mengikuti sampai ke gunung, dia berlari mencari sambil meminta bantuan namun tidak ada satupun para pemberi sesajen yang berani terlibat.


......................


Dini memotong rambutnya sendiri, di bawah air terjun yang membanting tubuhnya. Dia mengumpulkan kekuatan sampai mengabaikan benda hidup yang keluar dari dalam air menempel di kulitnya. Darahnya mulai di serap, rasa sakit di abaikan karena dendam wanita itu kalut tidak sabar membunuh musuhnya.


Bersiap menyerang, mengeluarkan makhluk-makhluk dari dalam air. Kekuatan menggunakan darah yang menyerap darahnya mulai menarik tubuh Capit. Tubuh Capit tergerak sendirinya, dia berjalan sendiri sampai di depan air terjun. Dini menunggunya, wajah penuh dendam tidak sabar menghabisi pria itu.


“Ternyata kau wanita gila! Aku tau kau yang membunuh istri ku Suratmi. Kau pikir aku akan bersedih atas kematiannya? Anak ku saja mati di tangan ku! ahahah!”


Capit berkomat kamit menyerang, sihir hitam menerbangkan hewan-hewan aneh masuk ke dalam mulutnya. Dini mengerahkan semua tenaganya dia menyayat urat nadinya sendiri, tetesan darah masuk ke dalam air.


Kekuatannya di keluarkan demi menghabisi sosok si dukun iblis. Capit semula tubuhnya a terkunci berbalik dapat menyerang.


“Ahaha! Dasar wanita bodoh! Kau pikir mudah mengalahkan ku!”


Jaja berhenti berjalan ketika mendengar suara ledakan dan tawa mirip ayahnya. Dia terkejut melihat penampakan sosok wanita tua memakai kebaya menunjuk ke bagian kanan jalan. Dengan rasa takut melanjutkan langkah sampai pandangannya berhenti di depan air terjun. Dia mual melihat ayahnya melahap daging mentah, kelakuannya mirip binatang, Tatapan yang saling membalas, pria itu mengeluarkan gigi taring panjang meneteskan air liur.


“Ahhh! Ayah! Ini aku Jaja!”


Sosok Capit melihat Jaja sebagai wujud arwah penasaran. Dia menarik lehernya, membanting tubuh menekan ke dalam air. Jaja kesulitan bernafas, dia melepaskan diri berlari menjauh. Capit telah lama meninggal, dia ingat bagaimana ayahnya melotot tidak bernyawa dengan kepalanya yang terputus di atas meja.

__ADS_1


“Dia bukan lah ayah mu lagi Jaja. Aku juga baru mengetahuinya dari Ayu, sosok si pemandu pendakian gunung Capit ternyata pak Suroto yang melakukan pesugihan di gunung ini.”


“Kemuning, aku tidak mengira ayah ku__ hiks!”


Jaja mengikuti langkah Kemuning, mereka berjalan sangat jauh. Di pertengahan jalan, kabut putih pekat memisahkan mereka. Jaja memanggil Kemuning yang tidak lagi terlihat. Dia lagi-lagi dia melihat Jeje di atas kereta kuda bersama iring-iringan manusia berwujud aneh. Jaja berlari sambil memanggil saudara kembarnya Jeje, para penjaga di sekelilingnya melotot mengulurkan tangan bersiap mencekiknya.


Jeje turun dari kereta kuda, dia memperlihatkan wajahnya yang mengerikan tapi terlihat seperti biasa di wajah Jaja yang memeluknya sangat erat. Dia memohon meminta jeje ikut pulang, kaki gunung membuat akses penghubung jalan lintas keluar hutan.


Kemuning menarik melepaskan, jaja tersadar di depannya sosok mengerikan membuka mulut lebar menancapkan ke pundaknya.


“Arggh!” teriak Jaja.


Patahan balok kayu, batu-batu yang menghujam dan pukulan yang keras menarik jari-jari setan itu sampai terlepas. Berhasil membantu jaja terlepas dari gigitan setan, mereka berlari sampai Jaja yang tampak kesulitan meraih tangan Kemuning.


“kenapa aku tidak bisa menyentuhnya? Apakah Kemuning sudah meninggal?” gumamnya mengikuti dari belakang.


Di tepi lintas gunung, kemuning mengatakan harus menunggu disitu sampai dia kembali. Mengikuti perkataan sahabatnya, mereka kembali terpisah dalam kabut putih. Kemuning bertekad mengembalikan arwah penasaran dan sukmanya Jaja menuruni gunung. Dia tidak mau Jaja selamanya terjebak, tugasnya masih belum selesai yaitu mencari arwah teman-temannya yang lain.


Berjalan di gelapnya hutan, tanah berubah menjadi darah kental berwarna hitam yang sangat licin di lalui. Dia tidak lagi merasa ketakutan, menahan rasa kantuk, lapar dan dahaga meneruskan langkah yang mulai tertatih sampai terhenti di hadang dua sosok pendaki hantu.


Tangan kemuning di tarik memperebutkannya hingga dia kesakitan. Dua hantu pendaki pria yang telah tiada bertahun lamanya mulai mengganggu karena mengetahui keberadaannya. Hantu Ayu muncul membantunya, Kemuning di tarik masuk ke tempat lain di wilayah hutan.

__ADS_1


"Ayu kamu dimana?" panggil Kemuning menatap ke sekeliling.


__ADS_2