Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Kemelut ghaib


__ADS_3

Cuaca ekstrim mewarnai langkha perjalanan para pendaki, di temani sosok lain itu tidak semua orang kuat menghadapi. Tidak jarang ada seikit rasa takut, kali ini serta merta juga karea di hantui sosok lain. Roy dan Caki mengasingkan diri, perlajalanan melewati pos dua di pecahkan pemikiran lain yang berlawanan arah.


“Caki cepetan, aku udah nggak sabar merasakan nikmatnya hidup. Nggak minum anggur satu hari rasanya lidah ini mati rasa” ucap Roy berjongkok mengeluarkan botol dari dalam tasnya.


“Ya tunggu sekalian bakar jagung nih..”


Caki mencabut paksa batang ubi sampai habis menarik umbinya. Tarikan batang terlepas mengeluarkan suara kesakitan yang menggema di langit. Caki berhenti memandangi ke sekeliling, bulu kuduknya merinding melepaskan batang lalu menarik roy pergi.


“Apan sih botol ku jangan di tinggalin! Sebentar aku masukin dulu!”


“Sakit! Arghh! Tolong!” suara yang tidak jelas terdengar.


“Ayo cepat roy!”


Mereka berlari hingga tanpa tersadar terpisah di antara jalan area titi keci; penghubung jalur lainnya. Sosok suara wanita cantik terlihat Roy memanggil-manggilnya, wajahnya sangat cantik jelita . Dia terpesona mengikutinya sampai menuju ke sebuahh perumahan ramai penduduk.


“Loh kemana wanita tadi?” gumamnya melihat sebuah rumah yang di penuhi dengan tumpukan kayu bakar.


Dia berjalan ke rumah yang di depan terasnya ada seorang wanita sedang memetik sayuran. Dia melihat Roy sangat sinis, mata amarah dalam gerakan menatap ke seluruh tubuh.


“Mau apa kau anak muda?”


“Nenek lihat wanita berpakaian kebaya membawa bakul lewat sini nggak?”


“Nggak, cepat pulang! Kau jangan pernah melihat semua seperti yang kau inginkan” ucapnya bernada sayup.


“Maaf nek, saya pendaki gunung keramat. Saya akan pulang kalau sudah sampai puncak. Oh ya nenek tinggal sendiri?”

__ADS_1


“Ya, cucu ku juga dulu seorang pendaki. Aku ingat jelas bagaimana dia tersenyum terakhir kalinya. Apakah kau bisa membantu ku mencari nya?”


“Ngg__ ngg__ saya akan berusaha ya nek..”


Roy yang semula mencari soso wanita cantik berpakaian kebaya beralih mencari cucu dari nenek -nenek yang mengusap air matanya. Dia terlihat sangat sedih, ada sebuah gambar lama yang berukuran tida kali empat dia tunjukkan kepadanya. Wajah Roy yang sangat terkejut melihat gambar yang sama, wanita yang menuntun langkahnya sampai ke tempat itu.


“Ini wanita yang aku maksud tadi nek..” ucap Roy terkejut.


Wanita itu meletakkan bakulnya, dia melotot memperlihatkan amarah. Dia membenci pria yang berdiri di depannya. Tarikan kuat pada jambang Roy, dalam rasa sakit dia menahan tangan si wanita tua agar melepaskannya. Roy berlari ketakutan, jalan masuk ke dalam rumah warga. Berbagai bentuk rumah yang aneh, ada cerobong atas di atas batu berukuran kecil di samping rumah yang terbuat dari akar.


Tidak hanya bentuk aneh yang terlihat pada bangunan rumah lainnya, dia juga terkejut saat memperhatikan penampakan yang bukan berwujud manusia.


“Tempat apa ini? Mereka hantu atau apa? Hihh” dia berlari ke arah yang lain.


......................


“Berhenti, kita jangan bersuara keras. Ada yang mengikuti suara kita” ucap Rapa.


“Aduh kamu ngomong apa sih Ra? Kalau nggak di panggil apa mereka bisa dengar?”


“Teman-teman, kita harus pergi. Ada yang aneh dari hutan ini. Kita balik ke kak Kemuning laporin dua teman kita menghilang..”


“Nggak, kita udah jauh sampe sini dan kamu suruh turun lagi? Aku nggak sanggup! Capek banget!” ucap Bela berjongkok kelelahan.


Mereka beradu pendapat, tekanan nada yang tinggi dan keinginan masing-masing di akhiri dengan langkah Rapa pergi berbalik menuruni jalur tiga. Dia di ikuti Filza yang berlari memanggilnya, sisa dari mereka meneruskan langkah menaiki puncak.


Menegakkan tenda karena hari mulai gelap, Yopi yang tidak tenang karena teman-temannya yang mengambil pendapat sendiri-sendiri itu membuat dia meminta yang lainnya menunggu di tenda.

__ADS_1


“Kalian tunggu di tenda aja ya aku mau cari si Rapa dan Filza. Kasian kalau ada apa-apa sama cewek! Kalau si Roy sama caki biar mereka balik sendiri. Kenakalan mereka jangan ditanya lagi..”


“Kamu yakin sendirian Yop? Aku temenin ya..”


“Jangan De, kalau nggak ada laki-laki disini ntar kalau kami kenapa-napa gimana?” tanya Sandra yang ketakutan.


Sisa dari teman-temannya menunggu di depan api unggun. Nyala api yang menarik perhatian makhluk-makhluk penunggu hutan mencium aroma hawa murni manusia. Si Mbok Mijan yang seperti orang gila mengais-ngais makanan sesajian dua bawah pohon beringin tua. Dia menjadi gila setelah gagal mencari jasad Capit dan menjalankan tugas sesajian yang di tugaskan untuknya.


Pengabdian di umur yang tidak terbatas, dia seolah-olah telah tiada namun masih menapak di bumi. Tulang yang di hanya di balut dengan kulit kering mengeluarkan suara aneh. Dia menutup telinganya rapat-rapat mendengar banyak suara yang memanggilnya.


“Mijan, aku lapar!”


“Mijan! Bawakan kami makanan!”


Wanita itu berlari merangkak ketakutan, kulitjya robek dan wajahnya di cakar tangan setan yang mengejarnya. Dia meminta tolong tidak sanggup lagi menghindari banyaknya makhluk yang menyerangnya. Mijan meninggal di makan para dedemit peliharaan Capit, arwahnya di tahan sosok jin penguasa gunung keramat. Kematiannya bersujud menghadap ke arah Timur, jasadnya tidak terlihat –oleh pandangan mata biasa.


......................


Tawa Sintya mendengar berita kematian Suro, tidak tanggung-tanggun dia memanfaat kan mayatnya sebagai bahan utama pembuatan sup. Sepeti biasa jantunya di berikan pada jin merah sedangkan bagian organ untuknya. Sup yang memiliki cita rasa kelezatan itu mengundang para pengunjung dari daerah lain ke perkampungan yang di kenal dengan kemistikannya. Ramai pengunjung, keingintahuan para reporter meliput berita hingga para pengunjung yang memiliki ilmu spiritual sengaja mencari tau lebih dalam mengenai warungnya membuat Sintya was-was dan meminta jin merah benar-benar menjaganya.


“Sintya, Sintya.. usah kau meragukan ku dan berlarut-larut dalam ketakutan. Bukan kah kita telah menyatu? Hihihih..”


Suara jin merah terdengar jelas oleh seorang pria yang mengusap janggut. Dia bersama rombongannya mengeluarkan tenaga dalam merasakan hawa iblis di tempat itu. Mereka sama sekali tidak menyentuh makanan maupun minuman yang tersaji. Sintya melihat gerakan mencurigakan dari rombongan pria di bagian meja dekat pepohonan menatapnya.


“Sihir yang kuat, aku bisa merasakan dimana kehadiran si iblis” ucap pria yang masih saja mengusap janggut.


“Apa kita bereskan saja tuan? Kampung ini akan terkenal menjadi manusia kanibal. Penjual itu harus di beri ganjaran atas perbuatannya” kata pria yang membawa keris di pinggangnya.

__ADS_1


Sintya yang siap siaga jika alih-alih para pria mencurigakan itu menyerangnya.


__ADS_2