
Harum aroma darah yang di sukai jin merah. Dia tidak pernah berhenti menunggu makanannya. Sisa tiga orang bagai menunggu giliran di mangsa. Ketakutan ketiganya menggigil, menutupi semua jendela dan pintu. Pagi belum datang padahal waktu menunjukkan waktu 06:00 WIB, matahari jarang terbit gunung keramat dan sekitarnya.
“Kita akan mati!” ucap Iyem mengacak-acak rambutnya.
“Tenangkan diri mu Yem, besok kita akan mengubur mayat Tedi besok” ucap Beto.
“Ya, kau harus mengikhlaskannya” kata Penok membawa selembar kain.
Jasad Tedi semalaman terbujur kaku di tutupi tirai. Iyem tidak henti menangis, matanya bengkak hingga suaranya parau. Ketukan pintu terdengar keras, jeritan dan panggilan suara Rode terdengar berbeda. Penok tanpa berpikir apapun membuka pintu melihat Rode berdiri menyeringai melotot melihatnya. Sekitar bibirnya ada bekas darah, giginya taring dengan rahang terbuka.
“Arghh! Argh!” teriak Iyem.
Dia di tarik Beto menaiki tangga. Iyem menoleh melihat Rode berubah menjadi sosok siluman. Mereka menutup pintu, Beto menarik kain menyambung saling mengikat simpul. Dia meminta agar berhenti menangis. Membuka jendela menyuruh Iyem yang terlebih dahulu turun ke bawah.
“Aku akan menahannya Yem, kau jangan bersuara atau menoleh ke belakang."
“Tidak, aku tidak mau kau juga mati. Biar aku ikut bersama Tedi saja!”
“Tidak ada waktu!”
Menahan tangisan, Iyem menuruni ikatan kain sampai ke bawah. Beto melihat ada Sri yang bergerak mau memangsa. Dari atas, Beto mengangkat lampu melempar di susul benda berat lainnya. Iyem ketakutan berlari memasuki area hutan. Beto melihat Sri tidak berkutik, namun perlahan tubuhnya bergerak sendiri seperti ada kekuatan berwarna merah membantunya.
Beto mendorong Iyem masuk ke dalam jurang. Iyem mengingat pesan dari Beto, dia menahan rasa sakit tubuhnya yang terkena ranting dan bebatuan. Dia tidak sadarkan diri, menggema suara teriakan Beto kesakitan. Tangisan yang tidak terdengar, Iyem memikirkan Beto telah di serang Rode. Perlahan merangkak masuk bersembunyi di antara semak pepohonan.
Dengusan Rode mencari-cari jejak keberadaan Iyem. Dia melompat, sosoknya mengerikan memperlihatkan sorot mata merah. Merangkak pergi meninggalkan suara yang mengerikan. “Iyem!! Jangan keluar sebelum matahari terbit!” teriak Beto sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
......................
Semua kesesatan berawal dari niat si manusia itu sendiri. Sems menemukan rumah yang yang selama ini dia cari. Secepatnya dia berlari menekan tombol bel. Di depan seorang wanita memakai sweater melihatnya dengan wajah kebingungan. Sams belum sempat mengatakan dia adalah anak dari wanita yang membuangnya.
“Kamu siapa? Wajah kamu seperti tidak asing..”
__ADS_1
“Apakah ini rumah tuan Jom?” tanya Sams.
“Ya benar, tapi Jom tidak ada disini. Kamu siapa?”
“Saya anaknya___”’
Kedatangan para anggota keluarga yang lain melihatnya duduk di atas sofa tepat dimana Yuli dahulu mengusap perutnya menunggu kelahiran Sams.
Cerita panjang Sams kemungkinan tidak akan habis kalau satu putaran kaset yang di putar. Pria berambut gondrong tampak tidak senang dengan kehadirannya. Dia sama sekali tidak mau menanyakan segala ucapan dalam perbincangan ruangan tersebut.
“Kamu menginap saja. Semua hal yang ingin kamu tanyakan pasti akan kami jawab satu persatu besok pagi.”
“Tapi sungguh aku ingin tau dimana ibuku?”
“Rati sudah meninggal, aku tidak sanggup menceritakan bagaimana penderitaan kakak ipar ku itu. Hiks..”
“Dimana makamnya? Apakah tante bisa menunjukkan pada ku besok?”
Pria kasar yang berhati dingin itu menaiki tangga ke kamarnya. Rati berbisik agar Sams memakluminya. Sebagai paman atau saudara kandung sang ibu. Dia seharusnya sangat senang atas kedatangannya. Rati menunjukkan kamarnya. Dia memberitahu besok akan mempertemukan dengan kakeknya Sams yang jarak rumahnya beberapa langkah dari rumah mereka.
Dentang suara jam raksasa, Sams terbangun mencari lampu meja yang berusaha untuk dia raih. Sosok makhluk tinggi besar kembali datang. Dia mempercepat gerakan menghidupkan lampu. Sepanjang malam lampu kamarnya menyala.
“Bagaimana tidur mu Sams? Kenapa pintu kamar mu terbuka?”
“Nyenyak tan. Sengaja aku mencari udara segar sambil berkemas.”
“Ayolah, jarang-jarang engkau menginap disini..”
Rati mengajaknya segera menuju ke meja makan. Disana tetap saja ada Emon pamannya berwajah masam. Sarapan pagi tersedia nasi dan ayam goreng, beberapa gelas susu hangat dan buah-buahan. Selesai sarapan Rati memanggil Eden dari dalam telepon. Menunggu sampai dua jam, dia berkeliling melihat-lihat lokasi rumah yang jaraknya seperti beberapa langkah jika tidak di di tutupi pepohonan yang menjulang tinggi.
“Apa aku ke rumah kakek saja ya. Lama sekali” gumamnya.
__ADS_1
Langkah berjalan di depan teras rumah. Pria tua yang terlihat masih bertubuh tegap itu berdiri melakukan olahraga mengangkat besi berukuran sedang.
“Kakek, ini aku Sams..”
“Sams? Aku tidak mengira kamu tumbuh dengan cepat. Bagaimana kau bisa sampai disini?” ucapan Eden tidak menunjukkan sikap belas kasih atau rasa sayang bertemu cucunya yang hilang.
Tatapannya sama seperti Pamannya Emon. Segala pertanyaan tidak memberikan jawaban. Sams meminta pada sang kakek agar mengijinkannya melihat isi kamar ibunya. Tapi raut wajahnya berubah drastis. Dia tanpa mengatakan apapun pergi meninggalkannya.
Berlari mengejar hingga terhenti melihat pria itu masuk ke dalam rumahnya.
“Duarr! Ahahah! Ternyata kau pria culun!” ucap seorang wanita memakai pakaian ketat tertawa mendekatinya.
“Kamu siapa?”
“Ehem, kenali saya Anah. Sepupu kamu, mmhh! Kamu kok menguntit kakek? Kenapa nggak langsung saja datang ke rumahnya?”
“Entah lah, sepertinya kakek berjaga jarak pada ku..”
“Kau harus berjuang mendapatkan hati si pria tua bau tanah itu. Kabari aku kalau kau membutuhkan sesuatu!” Anah masuk ke dalam mobilnya, tangannya keluar melambaikan tangan dari mobil lalu menghidupkan klakson panjang.
Sams mengendap-endap memanjat pohon menaiki atap rumah. Dia mencari celah agar bisa masuk. Kakinya menapak di atap langit-langit yang rapuh. Dia terjatuh, tubuhnya terbanting di bawah kaki Eden yang sedang membaca Koran.
“Untung saja atap ku rendah, aku sengaja memasang bagian ruangan atas khusus untuk menyimpan koleksi buku-buku kesukaan anak-anak ku dulu. Apakah pekerjaan mu seorang maling sampai mau mencuri di rumah kakek mu sendiri?”
‘Kakek, ku mohon ijin kan aku melihat kamar ibu” ucapnya memelas.
“Baiklah kau boleh melihat dalam waktu sepuluh menit tapi tidak boleh sedikit pun mengambil apapun di dalamnya”
“Ya aku janji kek..”
Sesuai perjanjian yang berlaku, Eden mengawasi di depan pintu. Sams melihat keranjang bayi, mainan dan boneka yang terpajang memenuhi ruangan. Menari laci melihat sebuah album kecil. Dia melihat foto di dalamnya. Ada amplop yang masih di lem di balik foto ibunya. Dia juga melihat buku diary milik ibunya.
__ADS_1
“Kek bolehkah aku mengambil foto dan buku diary milik ibu?”