Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Belum bisa keluar dari Gunung Keramat


__ADS_3

Di dalam rintihan malam di hutan, dunia yang bersinggah menapak detik yang berhenti. Nardi melihat jam tangannya sendiri yang mati. Setelah tau dia telah tiada, dia berlari mencari jalan keluar. Perjalanannya sangat panjang, sulit baginya membedakan langit yang berubah-ubah. Dia ingat rute pos tiga tidak di tutup gerbang hitam. Pembatas di penuhi ular menggeliat, berlari lagi meringis ke arah puncak.


“Kaget sekali aku, ular itu jelas-jelas mau mematuk ku”


Di depan pandangannya yang lain, terlihat sosok tanpa kepala berjalan ke sebuah perumahan yang memiliki cerobong asap di atasnya. Selangkah di depan ada tangan keriting berbentuk jari menyentuhnya. Dia di tarik berjalan ke teras rumah yang terbuat dari akar pohon. Bangunan aneh yang membentuk rumah menjulang tinggi ke atas. Dari dalam, keluar sosok makhluk bertubuh tinggi menyodorkan sesuatu, Benda-benda aneh tersusun di atas daun yang berukuran lebar.


Tangan bergetar meraih sebuah bentuk lonjong berwarna coklat. Ada taburan daun kering hijau di atasnya. Nardi ketakutan terpaksa mengunyah, rasanya seperti kayu yang lapuk, hambar, baunya yang anyir membuat dia ingin muntah. Wajah-wajah makhluk yang mengerikan memelototi, bola matanya yang mau keluar menakutkan


Dia mau bergerak pergi, melarikan diri dengan teriakannya yang kuat. Tapi, di depan sana ada makhluk tanpa kepala berdiri menunggunya.


“Bagaimana ini? huek! Aku mau muntah!”


Dia terpaksa menelan semua makan di atas daun, dua bentuk aneh terasa lendir menjulurkan di lidahnya.


“Permisi, saya mau ke kamar kecil” ucapnya bersuara pelan menahan makanan yang hampir tumpah.


Pemandangan di dalam rumah tidak kalah menyeramkan, di dalam ruangan banyak ular menggeliat bergelantungan. Dia yang tidak tahan menahan isi di dalam mulut, berlari membuka setiap pintu yang berlumut. Sebuah tempat berisi air yang mengalir, dia melongo tembusan tepat di bagian hilir sungai dengan air terjun.


Berjongkok mengeluarkan semua isi perutnya, dia menarik seekor cacing dari dalam rongga mulut. Tarikan semakin panjang, kira-kira samapi satu meter terlepas kepala cacing menggeliat di jarinya.


“Huek!” Semua isi perut terkuras habis.

__ADS_1


Berkumur-kumur menelan tetesan air dari telapak tangan. Dia merebahkan tubuh tanpa alas, tidak memperdulikan tanah berlumpur sampai matanya terpejam.


......................


Merasakan rasa sakit kematian yang berulang, tubuhnya menahan robekan jari keras berkuku. Semua organnya di lahap habis, sosok Capit berisi makhluk hitam besar berbulu. Nardi berteriak kesakitan, Capit meninggalkan tubuhnya begitu saja. Langkah raksasanya menarik Kemuning, Nardi tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Merangkak, berteriak hingga dia membuka mata melihat sosok anak kecil bertangan panjang.


“Aku harus pergi, sahabat ku akan di bunuh si Dukun gila” ucap Nardi memohon.


Dia menarik Nardi, menggiringnya berjalan melewati titi-titi sempit bercelah setengah kaki. Air yang mengalir di bawahnya tergenang gumpalan-gumpalan potongan daging. Posisi berdiri tidak seimbang, tangan si anak kecil memegangi sampai dia bisa melewatinya.


“Jangan lihat kemanapun, kita akan segera sampai”


“Dik, saya lupa berpamitan dengan orang tua mu”


Di depan gua bebatuan, dia berhenti lalu menunjuk ke dalam. Sosok itu tampak tidak berani masuk, berdiri menunggu di balik batu. Nardi mengobrak-abrik meja ritual, dia melemparkan keris ke pundak kiri Capit. Melihat pria itu kesakitan, Kemuning mengangkat tubuh Nardi yang bersimbah darah.


“Lari Kemuning, dia akan menangkap mu lagi. Tinggalkan saja jasad ku!” teriak arwah Nardi.


Kemuning menangis berlari meninggalkan gua. Dia menoleh ke Nardi dan penampakannya yang lain menghalangi Capit mengejarnya.


......................

__ADS_1


Boneka yang di ambil Desi masih berada di dalam rumah yang kini masih di tempati sisa relasi Pudin yang sudah membayar uang sewa selama setahun. Mereka tidak punya punya pilihan lain, walau harus melihat penampakan para makhluk halu dan sosok anak kecil yang memegang boneka aneh. Gondrong selalu menemukan boneka aneh yang berpindah sendiri dari kamar Desi.


Kali ini dia tidak memindahkannya, dia berjalan melewatinya. Boneka itu tiba-tiba berada di atas kasurnya, dia memejamkan mata mengangkat boneka yang melihatnya. Senyuman menyeringai, wajah hantu, nafasnya tiba-tiba berhembus membuat dia jatuh pingsan.


Akhir pekan di isi pesta minuman keras. Suara musik yang keras, botol-botol minum keras penuh di atas meja, cemilan ringan dan kerlip lampu warna-warni menambah suasana hingar bingar. Ele melirik kursi kosong Gondrong. Dia mengambil ponsel di saku, panggilan nomor yang tidak aktif. Menanyakan ke teman lain yang seharian tidak melihatnya, di sela mabuk Dedi membawa Kesia ke dalam kamar.


Pandangannya beralih ke pintu kamar kosong yang terbuka. Darah di ubin mulai menjalar ke lantai dekat kamarnya. “Heh, darah siapa ini?”


Dia berjalan melihat jasad Gondrong dengan usus yang terburai keluar. Pintu kamar terkunci, Dedi berteriak di makan sosok Desi yang bersembunyi di bawah kolong kasur. Kesia yang memakai baju seksi mulai merasakan ada sosok lain berdiri di belakangnya, dia terkejut melihat tubuhnya terasa ada yang masuk berjalan-jalan mirip sebuah telur. Perutnya pecah terburai, sosok anak kecil berwajah hantu mengunyah usus dan lambungnya.


“Argh! Argh!”


Di dalam ruangan, tiga orang yang sibuk berjoget hingga Ele menumpahkan minuman ke tubuhnya. Dia dan Cecep mulai bermesraan, Heni tertidur di bangku menjatuhkan botol kosong minumannya. Samar membuka mata, semua teman-temannya terlihat berwajah pucat. Darah keluar dari perut mereka yang bolong, dia berlari keluar di depan pintu sosok anak kecil yang ada di foto pajangan rumah Pudin berdiri memegang boneka hantu.


“Kakak, kalau kau mau bebas dari rumah ini, serahkan kedua bola mata mu untuk kami. Ahahah.."


“Tidak! Jangan dekati aku!”


Sosok Desi mencopot bolanya, dia kesakitan berteriak membuka mata merasakan kelopak matanya yang bolong. Dia menjerit kesakitan, merasa setiap pintu ke pintu. Sesuai yang di katakana makhluk itu, dia dapat terbebas dari rumah hantu karena menggantikan dengan sepasang bola mata.


Orang yang melintas membantunya membawa ke Rumah Sakit. Laporan polisi menemukan empat mayat dengan kondisi kematian yang sama. Mereka mencurigai Heni yang selamat, di depan ruang interogasi dia di sidang. Banyak pertanyaan menjerumus, ketakutannya sesekali menjerit lalu menekan perih di matanya yang mengeluarkan darah.

__ADS_1


Karena tidak ada bukti yang kuat, pihak kepolisian tidak menahannya. Kesaksian Heni menyebutkan kematian para teman-temannya akibat ulah anak kecil yang bernama Desi. Anak dari Pudin, rekan kerja yang sedang pergi ke gunung keramat bersama anak tersebut. Jeritan Heni mengingat cara kematian teman-temannya yang sadis. Dia di bawa kembali ke Rumah Sakit.


“Permisi pak, laporan hasil visum kematian mereka tidak ada sidik jari yang tertinggal di tubuh korban” ucap salah satu petugas kepolisian.


__ADS_2