
Kemuning merasakan ada sosok makhluk yang masuk ke dalam tubuhnya. Dia sangat sulit bergerak, wajahnya berubah menyeramkan. Tubuhnya merangkak melompat ke atas bebatuan, sosok wanita kebaya merasukinya mengubah dia berwujud makhluk jadi-jadian. Hantu Ayu melawan, cakaran kuku dan tarikan menyerang. Ayu menahan tangannya, dia tersadar Kemuning akan celaka jika terkena tusukan jari setan.
Menghindari setiap serangan, Ayu menahan tangan dan kakinya dengan akar pohon di dekat tebing curam. Di dalam alam lain, Kemuning mendengar suara neneknya memanggilnya. Di depan sosok makhluk mirip dengan neneknya menyeringai meminta dia menerima uluran tangannya.
“Tidak, engkau bukan nenek ku. Pergi kau iblis!” Kemuning membacakan surah-surah pendek.
Dia melihat pandangannya berubah memperlihatkan dirinya sendiri sedang di rasuki makhluk lain. Di alam lain, sukma Mindun yang terlepas dari tubuhnya mulai berpetualang ke wilayah gunung keramat untuk mencari cucunya. Dia melihat di depan pintu masuk ada pohon beringin sebagai rumah makhluk halus yang menerima banyak sesajian. Semakin banyak sesajian makanan yang dia terima, maka para makhluk itu merasa kuat menerima makanan dan minuman persembahan.
Langkah melewati para makhluk tersebut, dia terhenti di sebuah sungai yang menerbangkan banyak arwah manusia. Di dalam air, banyak tangan-tangan setan seperti mencari mangsa. Mindun melihat sosok arwah gentayangan yang seolah memberikan petunjuk agar mengikutinya.
Menyusuri jalan gelap, samar-samar langit memperlihatkan sebuah celah bebatuan besar. Kemuning terlihat sedang di rasuki sosok aneh. Wajah Mindun melotot berjalan menghampirinya, sosok jin jahat yang berani mengganggu cucunya. Dia menarik jin dari dalam tubuh Kemuning, tangan setan membanting Mindun hingga terhempas ke dalam jurang.
“Nenek!”
Dia berteriak berusaha melepaskan sosok makhluk yang tidak mau keluar dari dalam tubuhnya. Dia menangis meneteskan tetesan darah. Tangannya bergerak sendiri, dia merasakan sosok jin yang mengendalikannya memaksa berjalan naik ke puncak pegunungan. Mindun naik ke atas permukaan, dia mencari jalan menggunakan mata batin mencari cucunya yang masih di jin.
“Jangan ganggu cucu ku Kemuning. Ambil saja aku sebagai gantinya!”
......................
__ADS_1
Hamza tidak pernah mengira anugerah seperti ibunya ada di diri Kemuning. Bu Mindun berpesan agar jangan membuka pintu kamarnya. Hati Hamza tidak tenang mengingat peristiwa lalu, kematian ayahnya karena ibunya melepaskan sukma membantu orang lain. Kali ini dia menunggu kabar ibu dan anaknya, Hamza perlahan mengintip dari balik pintu yang perlahan dia dorong. Ibunya yang memejamkan mata dengan posisi duduk. Ada teplok kecil di depan meja, lampu kamar yang padam terlihat sosok tinggi besar di balik kaca jendela.
“Bagiamana ini? tubuh ibu kosong, sukmanya keluar mencari Kemuning. Kalau aku tidak menjaga tubuh ibu, pasti makhluk itu akan masuk ke dalamnya” gumam Hamza membuka lebar pintu.
Dia terkejut menjerit sekuat-kuatnya, ibunya mengeluarkan muntahan darah. Nafasnya berhenti, pandangan melotot ke atas. “Ibu! Hiks! Mas Jayen! Ibu mas!”
Nek Mindun di alam lain menggadaikan nyawa demi menyelamatkan cucunya. Dia berhasil mengeluarkan cucunya yang di rasuki jin iblis di gunung keramat dan mengembalikan sukma ke dalam tubuhnya. Tapi, sukma neneknya terkurung disana. Dia lebih sering menampakkan wujudnya membimbing cucunya agar keluar melewati alam-alam lain.
Gunung yang tidak pernah berhenti mengabarkan kekuatan mistis di balik kabut putih tebal. Kemuning tidak mengira sosok sukma neneknya di alam nyata tubuhnya telah tiada. Hamza tidak percaya ibunya meninggal, dia meminta suaminya agar menunggu beberapa jam lagi.
“Ibu hanya mendapat serangan ghaib mas, sukmanya sebentar lagi akan masuk ke tubuhnya”
Tubuh kaku yang dingin itu di peluk erat. Tangis kesedihannya tidak berhenti, dia tidak mau melepaskan sampai Jayen memaksanya. Hamza menyesali keputusannya mengijinkan ibunya melakukan pelepaskan sukma. Dia pernah beradu otot mengenai kematian ayahnya. Taman pemakaman umum telah sepi orang-orang satu persatu meninggalkan makam. Langkah kecil Hamzah di giring Jayen kembali ke rumah.
Tangisan yang tidak henti-henti itu tanpa terasa membuatnya terlelap. Di dalam alam bawah sadar dia melihat ibunya berdiri di tempat yang sangat tinggi. Bajunya berwarna putih ada bercak merah di lehernya. Hamza berlari memanggilnya, dia menghilang di balik kabut putih tebal.
Kesaksian Kemuning
Di gunung keramat, aku lebih sering melihat sosok nenek. Biasanya hantu pendaki Ayu yang selalu membantuku. Setelah hari sulit ini, nenek lebih nyata di dekat ku. Kali ini aku harus menanyakan pada nenek mengapa bisa menemui mu seperti di alam manusia. Wajah nenek lebih memucat, lingkar hitam cekung dan raut wajahnya yang bersedih. Suara nenek terdengar menggema mirip tekanan nada hantu Ayu ketika bersuara.
__ADS_1
“Nek, nenek lagi sakit? Tangan nenek dingin” ucap Kemuning menggenggam erat tangan neneknya.
Nek Mindun hanya terdiam, di menatap lurus membawanya menuruni gunung. Pepohonan bergerak memberi jalan, kerlap-kerlip kuku setan menemani jalan mereka yang melewati lorong malam. Di sisi kiri Kemuning berhenti melihat sosok anak kecil berteriak minta tolong, lidahnya fasih memanggilnya.
“Jangan dekati dia. Banyak tipuan jin jahat yang ingin merenggut keistimewaan mu” ucap nek Mindun menariknya meneruskan langkah.
Kemuning mematuhi mengikuti jalan sambil menoleh ke belakang. Sosok anak kecil mengejarnya, larinya sangat kencang akan tetapi sang nenek tidak bergeming membawanya melarikan diri. Suasa mendengus, tubuh setan itu melompat tepat di atas pundak Kemuning. Nek Mindun melotot menarik rambutnya, kedua tangan nenek sangat kuat sampai akar rambut setan terlepas. Sosok itu menjerit memperlihatkan rahang lebar bersiap menggigitnya.
Nek Mindun mematahkan leher sosok iblis. Mulutnya berkomat-kamit, sebuah kata yang di ingat Kemuning saat neneknya mengasah ilmu kejawen
“Apa yang terjadi dengan nenek? Nenek melarang ku menyakiti semua makhluk hidup.
Sosok anak kecil yang di hadapan ku terlihat mengenaskan. Nenek mematahkan semua anggota tubuhnya dan sekarang mengangkat sebuah balok kayu" gumam Kemuning.
“Nek, ampuni dia nek. Kasian adik kecil itu”
“Gunakan mata batin mu kemuning, dia bukan anak kecil atau hantu biasa. Dia jin jahat, iblis yang pintar menipu manusia” ucap si nenek memisahkan tubuh dann kepalanya.
Kemuning tidak berani mengikuti ucapan neneknya, dia mematung menyaksikan neneknya membakar sosok tersebut sampai hangus menjadi debu. Nyala mata setan keluar dari pohon beringin tua, begitu pula seluruh penghuni makhluk gunung keramat. Ayu tidak berani mendekati, dia tidak pula sanggup menyampaikan sosok makhluk di depannya bukanlah manusia. Nenek yang sangat di sayangi Kemuning arwahnya kini gentayangan bersama sukmanya yang tidak bisa lagi kembali ke tubuhnya.
__ADS_1
“Kemuning, cepat lari. Nenek akan menyusul mu dari belakang” kata nek Mindun yang memperhatikan kehadiran Ayu.