Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Siku setan


__ADS_3

Alam di kaki gunung keramat di perbincangkan di perbincangkan di berbagai sudut kota dan pedesaan. Kebanyakan orang yang berbondong-bondong mencari informasi dan mencari tau kebenaran di balik pesugihan yang bias memberikan kekayaan berlimpah ruah. Hari ini para wartawan memberanikan diri meliput berita. Bagian pintu masuk berdesakan orang-orang meminta ijin masuk. Sosok pria tua bertolak pinggang, dia mengatakan jika mau naik gunung maka sebelumnya harus memberi syarat di pohon beringin tua.


Banyak yang mendengar ucapannya dan sebagian mengabaikan. Sebelum masuk beberapa dari mereka mulai merasakan gangguan makhluk halus. Ada yang kesurupan, lari kocar-kacir sampai ada yang meregang nyawa. Seorang wartawan berhasil masuk ke daerah hutan, dia memakai jas hujan berjalan membawa kamera, dia selalu menoleh ke belakang seolah seluruh alam memperhatikan kehadirannya. Kabut putih menjalar menguasai celah-celah rongga makhluk hidup.


“Hendrik.. Hendrik!” nyaring suara di bawah derasnya hujan.


Patahan pohon berasal dari makhluk yang memakai pakaian kebaya, di mengambil video bagaimana makhluk itu merangkak di arak para warga berwajah pucat. Jungkir balik melarikan diri melihat seorang pria mengejarnya. Dia masuk ke dalam mobil, melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi. Sosok makhluk duduk di kursi belakang mengagetkannya. Kecelakaan tidak bisa di hindari, mobilnya terjun ke dalam jurang. Sebelum meledak, dia melompat keluar. Tubuhnya terlempar bagian perut tertusuk batang pohon.


......................


Mengikuti saran si juru kuncen, dua pria membungkuk berjalan berbalik sambil menyatukan kedua tangan. Edo lupa akan saran si juru kuncen agar jangan menoleh ke belakang. Dia menjerit melihat sosok makhluk bertubuh aneh melahap sesajian ayam mentah. Gigi taring mencabik gerakan mirip hewan liar melahap mangsa. Dia menarik Edo, tangan setan membawanya masuk ke dalam pohon.


Norman tidak berani menyelamatkannya, dia langsung lari keluar pintu masuk hutan. Orang-orang yang memberanikan diri masuk telah siap menanggung resiko. Melihat ada yang berlari keluar hutan tidaklah mengherankan. Gerombolan dukun memasuki area terlarang, mereka mulai mencari benda-benda kramat dan melakukan interaksi dengan penghuni gunung.


Hujan tidak menghentikan aktivitas mereka, Hendro membawa anggotanya melangkah mengikuti sumber energi kekuatan astral terkuat. Tangan berisi kekuatan hitam menarik ke air terjun, dia mulai melakukan permeditasian. Anggota yang lain juga ikut duduk di tiap batu besar, lambat laun kabut putih tebal mulai menutupi. Para makhluk bergentayangan mulai mengganggu, tiap jiwa yang tidak bisa melewati cobaan maka dia akan jadi umpan setan. Makhluk pemangsa menarik Dani masuk ke dalam air.


Gangguan penampakan wanita cantik memakai kebaya, Gege tidak kuat mendengar suara wanita yang mendayu-dayu menggodanya. Sentuhan tangan menghentikan meditasinya, dia tersenyum menyambut uluran tangan wanita seksi. Selangkah demi selangkah wanita itu membawanya menghilang di balik air terjun. Gege menjadi budak setan, dia di cambuk sosok makhluk berbulu karena mau melarikan diri.


Kuda setan memecahkan kepalanya, Gege kesakitan merasakan kematian hingga dia tubuhnya kembali lagi ke semula. Dia terpaksa menuruti segala perintah si wanita kebaya, sosok jin yang membawanya ke alam lain.


Kini yang tersisa tinggal Hendro dan seorang pria paruh baya yang berhasil melawat rintangan. Benda ghaib berupa batu delima merah berhasil mereka dapatkan. Hendro dan Tama melanjutkan perjalanan masuk ke bagian tengah hutan, mereka berhenti di sebuah pasar yang sangat ramai. Terkecoh pada sihir jin yang mengubah pasar persis mirip suasana jual beli alam nyata. Keduanya terpisah mencari benda antik yang memiliki kekuatan spiritual.

__ADS_1


“Pak Hendro, saya akan menemui bapak sekitar sepuluh menit lagi. Saya mau lihat dagangan di bagian sana” ucap Gege berjalan cepat.


Hendro mulai merasakan keanehan pada pasar, salah satunya tatapan mereka dan gerakan mereka yang sedikit kaku. Dia melihat wanita kebaya berwajah menyeramkan turun dari kereta kuda, salah seorang anggotanya ada di bagian sisi kiri kuda yang berdiri mengenakan pakaian hitam.


“Gege, kamu ngapain? Ayo ikut saya!” ucap Hendro yang mengetahui dia telah menjadi arwah gentayangan.


Gege menggeleng kepala, sosok wanita kebaya naik ke atas kereta kuda di bantu Gege yang membungkuk memberikan tubuhnya sebagai penyangga. Hendro menghalangi menarik menjauh dari kereta.


“Pergi!” bentak Gege mendorongnya.


Kereta kuda yang membawa wanita kebaya pergi di susul Gege dari belakang. Hendro menahan kekuatannya yang mustahil bisa membantu melepaskan Gege dari jeratan para setan,


“Pak Hendro ada apa? Itu si Gege mau kok pergi sama mereka pak?” Tanya Tama sambil melahap sate di tangan kanan dan kirinya.


“Apa pak? Cacing? Huek!”


Dia membuang tusukan sate, memasukan jari tengahnya ke dalam tenggorokan. Cacing-cacing besar menggeliat di tanah, suara makhluk halus yang sebenarnya bukan berwujud manusia mulai memperlihatkan aslinya.


“Ayo kita tinggalkan tempat ini!” Hendro berlari melewati setiap sosok di dalam pasar.


“Tunggu pak! Arghh!”

__ADS_1


......................


Di pasar desa seberang.


“Kamu dengar berita salah satu pendaki gunung keramat yang hilang nggak? Tadi malam anaknya bu Sumiatik kok nekad mau pergi kesana"


“Hhmm anak muda jaman sekarang jangan di Tanya kalau soal nekad bu Karli, mereka menganggap nyawanya sendiri sebagai mainan. Eh tunggu bu, saya rasa si Kantil sudah di bekali ilmu sama bapaknya. Jadi dia nggak takut bahaya” jawab Elya sambil membungkus belanjaannya.


“Benar juga ya bu, saya jadi ikut penasaran mengenai gunung keramat itu” ucap Yama.


Hendro tidak tau anaknya melakukan pendakian ke gunung keramat, Kantil berniat mencari sepupunya yang hilang disana. Kemuning yang di kabarkan pihak keluarganya bahwa dia belum di temukan sampai sekarang. Kantil mendaki bersama tiga orang teman-temannya, mereka tiba tepat di pergantian malam.


“Aku nggak minta kalian ikut gais, kemungkinan besar kalian kesini mengantarkan nyawa”


“Kamu ngomong apa sih Kantil? Hantu? Gue mana percaya takhayul begituan. Dengar kabar lu mau mendaki, sebagai lelaki jiwa gua tertantang. Masa iya gue kalah dari cewek!” ucap Bob menyombongkan dirinya.


“Kalau aku sih sebenarnya takut kesini, aku lihat dari situs WEB kalau gunung ini di ibaratkan monster menelan manusia! Hihh!” ucap Bambang menarik bahunya.


“Jadi lu ngapain ikut Bambang?”


“Ya buat gaya-gayaan aja, foto aku laris manis sekalian buat konten you tube aku sih. Heheh!”

__ADS_1


“Huhh dasar! Kalau aku yak arena kasian si Kantil sendirian mendaki. Bokap gue dekat sama bapaknya dia, jadi ya gue di pesanin Bokap buat jagain Kantil” ucap Santi yang berlagak bergaya seperti laki-laki.


Kantil menggelengkan kepala, mereka menuju peristirahatan sebelum naik ke puncak. Sebuah tempat yang tidak berpenghuni itu berbau anyir. Lantai bekas darah kering di dalamnya terdengar suara aneh memekik telinga.


__ADS_2