Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Sesatnya makhluk ganas


__ADS_3

Kini aku kembali lagi ke gunung ini, aku tidak menyesal mendaki, berkumpul merasakan kehangatan kebersamaan bersama para sahabat. Yang aku sesalkan mengapa aku mengikuti ego membawa mereka kesini, tempat yang seharusnya tidak pernah kami kunjungi.


Ayah ternyata bersekutu dengan setan, siapa wanita kebaya yang mirip dengan aku dan Jeja? Jaja.


Sosok wanita kebaya menarik Kemuning, tubuhnya di bawa sampai ke dalam gua bebatuan.


“kemuning! Ayo bangun!”


Sukma Kemuning masih berjalan-jalan menjelajah alam lain. Sosok wanita kebaya memperlihatkan Capit yang tampak mengeluarkan sebuah bungkusan kain putih. Di dalamnya ada janin bayi yang di letakkan di atas wadah berukuran besar berisi darah.


Jaja tidak menyangka, janin bayi itu adalah adiknya sendiri. Gambaran kelam menunjukan perilaku iblis ayahnya demi ilmu dan kekayaan. “Jadi selama ini..” gumamnya menekuk lutut.


“Kemuning”


Panggilan suara Jaja membayang di udara. Kemuning masuk ke dalam pohon beringin tua, di dalamnya sebuah pemandangan bagai di lautan api. Orang-orang berteriak kesakitan, tubuh mereka meleleh bercampur lahar api yang sangat panas.


Letusan gunung keramat yang mengeluarkan lahar panas memandikan tubuh para manusia yang terjebak di dalamnya. Seorang anak perempuan yang menangis berdiri di tengah bebatuan, dia berteriak minta tolong takut terjatuh ke dalam api.


“Jangan bergerak, kakak akan menolong mu!”


Kemuning melompat dari satu batu ke batu lainnya. Dia mengulurkan tangan, dari belakang sosok hantu Ayu menariknya.


“Jangan Kemuning, kau bisa celaka. Dia bukan sosok anak kecil seperti yang terlihat.”


Pintu masuk pohon beringin tua menembus ke dalam ruangan persembunyian si dukun. Di balik lukisan berdarah, ada sebuah mantra yang di tulis dengan darah agar menyegel iblis ganas. Sosok iblis yang di puja mematuhi si dukun. Mantra itu perlahan hilang, Fahra menghapus dengan bajunya ketika di seret sosok makhluk yang mengunyah ujung jari jempol kakinya.

__ADS_1


Di sela kesakitannya, dia melihat sosok makhluk besar memakan tubuh adiknya. Suara kesakitan Desi di dalam lorong sempit. Farhra menarik adiknya, dari dalam gigitan mematahkan pergelangan tangannya. Tubuhnya tertarik, dia di lahap habis makhluk peliharaan orang tuanya.


Sejak kabar kehilangan Fahra di tutupi Pudin agar menghilangkan jejak kematiannya. Rumah itu sering di jadikan tempat persinggahan para relasi kantor setiap minggunya. Orang-orang yang menanyakan kabar anak tirinya itu hanya mendapatkan jawaban Fahra yang pergi melanjutkan sekolah keluar negeri.


Kemuning melihat sosok anak kecil yang tubuhnya di duduki makhluk halus itu menunjukkan tembusan masuk ke ruangan rahasia. Kemuning meraih sebuah buntalan benda kecil hitam yang tergantung pada dinding. Membuka makhluk yang terkunci di dalamnya, sosok itu keluar dari tubuh Desi sambil memuntahkan darah hitam kental.


“Kenapa tubuh anak ku tiba-tiba dingin dan kaku seperti ini?” Pudin setengah gila mengangkat Desi berjalan ke arah sungai.


Tanpa sadar dia berjalan ke air, semakin lama sekujur tubuhnya masuk ke dalam sambil membawa jasad anaknya. Kemuning menangis melihat Desi yang ternyata berakhir dengan kematian. Benda bungkusan hitam yang masih di tangannya di ambil hantu Ayu. Dia merampas lalu melemparkan ke dalam air.


“kita harus pulang Ayu, aku tidak mau pergi tanpa mu. Jangan paksa aku meninggalkan sahabat baik ku disini” ucap Kemuning yang tidak bisa memeluk sosok di depannya.


......................


Nek Mindun membuka mata, mendengar ramai suara orang melantukan ayat suci Al qur’an. Kondisinya mulai stabil setelah bermimpi indah tentang cucunya. Kemuning pulang ke rumah tanpa kekurangan satu apapun.


“Semoga saja cucu ku cepat di temukan” gumamnya menekan jantungnya yang mulai kembali sakit.


Kemuning yang memiliki penglihatan yang sama dengannya, menembus alam lain dan berjalan-jalan melewati dimensi ghaib. Mindun menutup mata, dia mulai mencampur ilmu kejawen dan penglihatan lainnya mencari cucunya. Hal itu sudah lama sekali dia tinggalkan sepeninggal suaminya. Menyalahkan diri sendiri yang tidak bisa menolong suaminya dari gangguan makhluk halus.


Penyerangan sosok iblis yang ingin membunuhnya masih di ingat jelas. Asap hitam yang keluar dari rahang lebar makhluk mengerikan berpindah ke mulut suaminya.


“Demi menyelamatkan ku, suami ku meninggal. Aku melupakan keistimewaan ini sampai harus aku gunakan kembali demi menolong cucu ku” gumamnya.


Kejadian pahit di masa silam.

__ADS_1


Keluarga Braman di panggil ke kota Y untuk membantu mengobati seorang anak kecil yang terkena gangguan makhluk halus. Yulia, anak dari sahabatnya Sila yang mulai menodongkan senjata tajam setiap kali pintu kamarnya di buka.


Mindun berhenti membuka pintu mendengar suara jeritan cucunya yang menunggu bersama anak dan menantunya di dalam mobil. Seolah itu adalah tanda buruk masuk ke dalamnya.


“Bu, kita urungkan saja niat ke rumah bu Sila. Bapak nggak mau terjadi apa-apa sama ibu.”


“Yasudah besok saja kita kesini pak..”


Ketika mereka berbalik, pintu rumah terbuka ada Sila menangis memohon anaknya segera di selamatkan. Pada malam itu, Mindun melihat sorot mata Yulia sedikit berbeda. Sebelum masuk ke kemar anaknya. Mindun memperkenalkan telapak tangannya di depan pintu, dia mengucapkan bismillah. Menggunakan penglihatan mata batin merasakan kekuatan hitam kuat di dalamnya. Perlahan pintu di buka, Sila terbang di atas langit-langit kamarnya.


Dia melompat menindih tubuh Mindun, mencium aroma kekuatan sepasang penglihatan yang bisa melihat sebangsanya. “Aku akan menelan kedua bola mata dan organ tubuh mu. Dengan begitu aku mendapatkan kekuatan tidak terhingga. Haahh!”


Suara iblis di dalam tubuh anak kecil terdengar Mindun yang menjurus pandangan menyerangnya. Tangan menekan kuat bagian ubun-ubun. Dia mengerang kesakitan, sosok iblis menipu berpura-pura kesakitan sampai Mindun berhenti membacakan ayat suci Al qur’an.


“Arghh! Panas! Tolong kasihani lah aku bu. Aku tidak sanggup lagi menahan semua rasa sakit ini” ucap sosok iblis yang mengelabuinya.


Di belakang Mindun ada suaminya Braman melotot tidak bisa bergerak melihat sosok wajah yang bersembunyi di bagian kepala belakang Sila. Anak kecil itu tampak menangis melihat Mindun namun wajah iblis yang lain menyerap hawa murni suaminya. Menyadari Braman meninggal dengan rahang mulut terbuka lebar di penuhi kotoran yang di tumpahkan iblis. Mindun membakar sosok iblis di dalam tubuh Sila. Suara kesakitan, dari tubuh anak kecil tersebut keluar sosok mengerikan yang terbang sambil menarik sukmanya.


Peperangan kekuatan ilmu putih dan hitam, Mindun berhasil mengalahkannya, Sila yang sebenarnya telah tiada. Selama ini sosok iblis menempati tubuhnya agar hidup di dunia.


“Anak ku! hiks”


Isak tangis Yulia memeluk jasad anaknya.


Mindun menyesali dirinya tidak mengetahui telah di tipu iblis, jin jahat yang membunuh suaminya. Kedatangannya ke rumah itu seperti menjemputnya Sila dan Braman.

__ADS_1


__ADS_2