Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Secuil dunia lelembut


__ADS_3

Ton kerasukan di bawah pohon tidak berhenti melahap makanan. Di sisi lain setelah terjatuh di dalam ruangan bawah dia seolah berjalan di atas dunia nyata dan dunia lain. Tadi pagi dia ingat sedang bercakap-cakap dengan bi Yen dan meminta cucunya agar ikut tinggal di rumahnya. Tapi pagi ini dia melihat jasadnya terbujur kaku di kelilingi para pelayat.


“Mas Edo..!” panggilannya yang tidak terdengar.


Di belakang Edo dia melihat sosok tinggi, badannya semakin bertambah panjang terlihat sorot bola mata merah menatapnya. Penampakan lain melihat keponakannya Alya menangis, dia berdiri di dalam dinding yang tidak bias dia sentuh.


“Centini, cepat serahkan anak yang ada di dalam perut mu itu. Aku menginginkannya! Ihihi..”


Berlari sambil memegangi perutnya yang besar. Dia bias menembus pintu, sosok berwujud merah mengadahkan tangan menunggu dia memberikan apa yang dia mau. Berteriak ketakutan, dia melihat perkampungan di bawah kaki gunung.


“Nek, tolong saya nek. Saya di kejar-kejar sosok makhluk yang sangat tinggi!”


Wanita itu tanpa menoleh masih sibuk menumbuk padi di atas lesung. Ketika di menoleh, separuh wajahnya hangus terbakar. Centini menjerit ketakutan, dia tergelincir posisi tubuh tengkurap menekan perutnya.


“Arghh!”


Centini berbaring merasakan darah tidak henti keluar. Dia mengalami pendarahan sampai akhirnya merasa akan melahirkan. Mendorong, mengeluarkan tenaga dalam melahirkan anaknya sendirian sambil menangis kesakitan.


Di depan pintu dia di sambut Edo memeluk Centini dan anak bayi yang masih bermandikan darah. Siapa yang menyangka pria gila itu menginginkan istrinya hidup kembali dengan cara ritual yang di pimpin si dukun.


“Edo, kau pikir kalau sudah membangkitkannya maka bisa memperbaiki kesalahan mu di masa lalu?” suara Centini mirip dengan Ririn yang tersenyum menyeringai melihatnya.


Tirai hitam dan kelambu hitam menutupi kamarnya. Begitu juga semua tirai di dalam rumah berganti hitam. Jika malam hari, hanya cahaya lilin sebagai penerangan. Dia mengambil sobekan kertas di dalam kantung celana membacakan isi di dalamnya lalu membacakan mata mengubah Centini ke wujud semula.

__ADS_1


Bi Yen setengah merinding melayani semua kebutuhan Centini. Pintu kamarnya pernah lagi terbuka setelah hidup kembali dari kematian. Edo melubangi bagian bawah pintu sebagai tempat meletakan wadah makanan dan minuman. Hanya Edo yang bisa masuk ke dalamnya.


Hari bi Yen sedang sakit sehingga dia meminta cucunya yang menggantikan pekerjaannya. Dia sulit bernafas, matanya kunang-kunang merasakan sakit setelah di cakar Centini kemarin sore. Luka semakin parah berbau amis dan membusuk.


“Nek, biar Heri aja yang mengantarkan makanan ini.”


“Jangan, kamar itu berbahaya. Nenek tidak mau kamu celaka.”


Bi Yen berjalan sempoyongan. Dia terjatuh, tubuh gemetaran di bantu Heri kembali ke kasurnya. Dengan berat hati dia terpaksa menyuruh cucunya mengantarkan makanan. Langkah ragu Heri melihat jari-jemari yang menggertak di balik sela bawah pintu. Dia meletakkan tampah, tangannya di tahan lalu pintu terbuka lebar.


“Arghh!”


Bayi yang lahir di dalam kubur namun penampakan mata makhluk lain melihat dia berada di atas dunia mengubah sosok itu menjadi bayi iblis. Manusia yang telah meninggal itu ruhnya kembali pada sang pencipta, jasadnya yang tertinggal di alam kubur jika ada yang membangkitkan maka manusia itu di isi dengan jin, iblis atau setan sehingga tegak hidup lagi.


Tok_tok_tok


Ketukan pintu berulang kali, suara jeritan dari balik pintu di susul lilin yang padam. Rumah gelap gulita, dia terkejut merasakan suara dengusan dari belakang. Bi Yen ketakutan mempercepat langkahnya yang rapuh menuruni tangga. Dia terjatuh sepasang tangan kecil dari belakang.


Edo yang baru saja tiba dari rumah melihat Centini menggerakkan pisau menyayat lehernya sendiri. Sosok arwah penasaran Ririn membakar tubuhnya dengan lilin-lilin yang dia terbangkan. Suara jeritan kesakitan minta tolong memekik sampai keluar rumah. Edo tidak bisa menyelamatkannya, sosok Ririn menahan di bantu jin merah. Bayinya juga di bakar hidup-hidup, kali ini Ririn menjanjikan selamanya menjadi mengikut jin merah agar bisa menghabisi mereka.


“Ahahah! Ini lah balasan yang setimpal. Kau tidak akan pernah bahagia sekalipun menikah lagi!” gema suara Ririn menghilang menerbangkan asap hitam.


Edo memeluk istrinya yang tinggal kerangka. Dia mengubur jasad istri dan anaknya di belakang rumah. Menyatukan keduanya di satu liang kubur. Di atasnya dia tanam bunga kantil sebagai tanda makam. Sejak hari itu Edo frustasi mencari kesenangan mendatangi klub malam bersama teman-temannya.

__ADS_1


......................


Bu Muti tidak tenang menunggu kabar dari Bata. Sesuai dengan perjanjian kalau dia kembali menemuinya dalam waktu satu minggu. Tepat di hari ke tujuh, dia mendatanginya tapi pintu terkunci dari luar. Seorang wanita menepuk pundak menyodorkan selembar kertas dan foto Ririn di tangannya.


“Anda bu Muti kan? Sesuai dengan janji Bata kalau dia akan menemukan wanita yang kamu cari.”


“Dimana Bata? Terus ini kertas apa?” Tanya Muti bergetar melihat kertas bekas darah yang mengering.


“Bata meninggal tadi pagi bu. Sebelum menghembuskan nafas terakhir dia menitipkan ini.”


Wanita tua itu mengusap air matanya yang berwarna darah. Muti melihat dia memakai gaun yang sangat panjang menutupi kakinya. Wajahnya pucat, bibir menghitam terlihat garis lengkungan di bawah mata. Gambaran wanita yang di depannya tidak tampak seperti manusia.


Isi kertas bekas darah.


Kaki gunung Keramat.


Muti menangis berlari membawa para warga mencarinya. Penemuan dua mayat yang membusuk. Jasad wanita muda yang membusuk dan seorang anak kecil yang sudah menjadi tengkorak. Muti menangis akhirnya bisa menemukan Ririn. Ririn di kubur di samping makam Bata, dalam hatinya mengucapkan terimakasih pada Bata dan meminta maaf sebesarnya. Wanita itu telah mengorbankan diri dan sangat berjasa di kehidupannya.


Acara doa bersama berharap kedua nya tenang di alam sana. Sosok arwah Ririn merasa sangat kepanasan. Suara kesakitan merasakan api yang meleleh menyiram tubuhnya.


“Tolong aku jin merah! Huahh!” ucapnya berulang kali.


Jin merah menjauhinya, dia tidak berani mendekati. Teriakannya terdengar para pendaki dan para warga yang ada di kampung seberang. Kemuning menanyakan suara siapa yang dia dengar itu.

__ADS_1


__ADS_2