Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Kesesatan Sintya


__ADS_3

"Iblis berkata, "Ya Rabb-ku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlash di antara mereka." [Al-Hijr/15:39-40].


Memaksa ayahnya untuk jujur, dia yang kesakitan di siksa Sintya akhirnya membuka suaranya. Sebelumnya dia meminta Sintya berhenti memukulnya. Pria itu mulai mengakui semuanya.


“Baiklah ayah akan mengatakannya tapi kau harus janji melepaskan ikatan ini.”


“Ya, ini yang aku tunggu. Dimana ibu?” Tanya Sintya tidak sabar menunggu jawaban.


“Aku sama sekali tidak pernah mencintai ibu mu. Aku hanya berpura-pura saja menikahinya untuk memanfaatkannya, sampai aku memutuskan untuk memandunya. Dia tidak mau memadu dan berani melawan ku, aku kehilangan kendali menghajar hingga membunuhnya. Tubuhnya aku tanam di bagian sudut kamar mu. Maafkan aku Sintya! Hiks”


“Hiya! Mati lah kau pria bajingan!”


Sintya menusuk perutnya mengeluarkan organ di dalamnya. Bola mata di congkel, dia tidak mengira dapat bertemu dengan ibunya yang sudah tidak lagi bernyawa.


“Hihihi, hihihi. Sintya, aku menepati kata-kata ku bukan? Aku bisa saja memberitahu mu, tapi kau pasti tidak mempercayai ku. Aku mau lelaki itu melontarkan sendiri dari mulutnya..”


Sintya tidak mengucapkan apapun, dia memasukkan potongan jasad ayahnya ke dalam kotak papan. Mengambil cangkul lalu menggali tanah kuburan dengan tangannya sendiri, dia menangis menemukan tulang tengkorak ibunya yang masih utuh. Tangisan, kesedihan dan rasa sakit yang tidak tertahankan. Dia memeluk kerangka tengkorak ibunya sepanjang hari.


Warungnya tutup, suara berisik para pelanggan menunggunya membuka pintu.

__ADS_1


“Maaf bapak ibu hari ini saya tidak berjualan, saya lagi tidak enak badan.”


“Yah, saying sekali padahal kami mau mencicipi sup daging buatan kamu..” ucap salah seorang warga.


“Sekali lagi maaf ya bapak ibu..”


Pemeriksaan rumah dari pintu ke pintu, Sintya ketakutan jika para warga melihat potongan anggota tubuh yang dia simpan di dalam peti. Keringat dingin bercucuran, menahan rasa takut meletakkan pesanan di atas meja.


“Sintya, kau jangan khawatir. Kau kan sudah menjadi teman ku. Aku akan menjaga mu Sintya, bersikap tenanglah, mereka tidak akan melihat peti itu. Hihihi…”


“Bagaimana aku bias tenang sementara nyawa ku ini sedang terancam. Kau jangan mempermainkan ku jin merah!” batinnya sambil mengusap keringat yang bercucuran.


Sintya yang sesat menguburkan kembali tulang tengkorak ibunya tepat dimana dia di tanam. Selesai bekerja dan terlelap, dia memeluk kuburan itu sambil menyelimutinya. Kebahagiaannya bertemu ibunya, dia tidak berpikir lagi kembali ke kota atau meneruskan pekerjaannya. Sintya menjadi orang yang berbeda menjalani kehidupan dunianya sendiri.


Semakin lama warungnya berjaya, rumah yang di renovasi itu di bangun bertingkat. Tidak ada satu pekerja pun yang bias melihat kotak hitam atau kuburan ibunya. Sosok jin merah yang bersifat iblis permintaannya setiap hari semakin besar seperti uang dan kekuatan yang di hasilkan Sintya. Tepat di malam jumat kliwon, Sintya di datangi mbok Mijan yang menuntut kerangka Capit.“Pergi kau wanita tua! Aku tidak mau berurusan dengan mu!”


Sintya mengarahkan pisau dari tangannya.


Mijan melihat sosok mengerikan berdiri di belakang Sintya, dia ketakutan berlari ke gunung. Wanita itu bertingkah aneh, berpenampilan seperti orang gila memasuki perkampungan. Setiap kehadirannya dia di usir sampai di arah keluar kampung.

__ADS_1


“Aku kenal sekali wanita yang sering naik gunung, dia bekerjasama dengan Capit!” ucap seorang warga.


Mijan menjadi penunggu gunung, dia memperlihatkan wujudnya di depan Kemuning yang mengantarkan rombongan para pendaki. Setiap satu dua bulan sekali dia melakukan pendakian. Kesaksian dan pengalamannya di harapkan tidak terjadi dengan para pendaki yang memaksa pergi.


Adik kelas maupun kakak kelas tempatnya kuliah penasaran akan cerita horor dari teman-temannya. Terutama kabar Jaja yang jasadnya sampai saat ini belum di temukan. Kemuning menjadi pendaki tunggal yang mengarahkan para pejalan kaki akan tetap waspada dan tetap mengikuti jalur yang ada di peta.


“Perlu kalian ketahui, papan penunjuk jalan tidak semua serta merta benar. Bisa jadi para makhluk halus menyesatkan atau manusia yang sengaja memindahkannya”


"Ya baik kak.."


Arahan Kemuning hanya beberapa orang saja yang mendengarnya, sisanya mereka beranggapan gunung dapat di taklukkan dengan persiapan yang matang. Roy pendaki yang memisahkan diri dari gerombolan, dia mengikuti pikirannya sendiri masuk ke area hutan terlarang yang di beri batas jalan.


“Roy! Jangan macem-macem kamu!” teriak temannya.


“Kira-kira seminggu lagi mereka akan bertemu di pos dua setelah kembali mendaki. Bagi Kemuning, pos dua adalah tempat berteduh yang paling efektif karena dekat dengan aliran sungai. Disana dia selalu di jga sang nenek dan sahabatnya Ayu. Sebelum melepaskan rombongan, dia melihat ada sosok hitam besar yang mengikuti mereka. Mereka sibuk berfoto riya, mengambil foto selfie hingga tertawa dengan bebas.


“Hei guys jaga sikap dong, aku nggak kita melanggar aturan yang berujung maut ya”


“Filza kamu penakut banget sih, hutan ini nampak aman kok. Percaya sama gue!” ucap Roy yang baru kembali ke rombongan.

__ADS_1


“Sesat aku kalau percaya sama kamu, Pokoknya kita semua tetap harus menjaga sikap ya”


__ADS_2