Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Hening


__ADS_3

Gubuk di sulap pandangan mata manusia melihatnya mewah melebihi kemewahan Villa milik Sri. Wanita itu membangun bangunan tempat tinggal anaknya yang akan mencarinya. Desi memberikan tanda panggilan melalui panggilan di dalam alam bawah sadar. Kedatangan Ropi bersama suaminya Trena, di depan pintu mereka di sambut seorang wanita memakai kebaya hijau. Rambutnya acak-acakan, dia berjalan pelan sambil memegang punggung.


“Selamat datang kembali ke kampung halaman nyonya, semuanya kebutuhan sudah bibi sediakan. Kalau butuh sesuatu, rumah bibi ada di belakang.”


“Terimakasih bi. Kalau bibi tidak keberatan, bibi tinggal saja di rumah kami..”


“Ya bi, apa yang di katakan Trena benar. Karena saya masih belum menyelesaikan pekerjaan di luar kota. Perpindahan ini terhitung secara tiba-tiba dan tidak ada perencanaan..”


“Maaf tuan, nyonya. Bibi harus mengurus rumah peninggalan suami bibi. Sulit melupakan semua kenangan.”


“Yasudah tidak apa-apa bi. Hari ini bibi istirahat saja ya” ucap Trena tersenyum melihat di atas kepalanya seperti ada benda yang bergerak.


Ketika dia akan mengambil benda itu, tiba-tiba bi wani berpamitan pergi. Trena melihat gelagatnya yang mencurigakan. Ketukan waktu tengah malam melihat seorang wanita dan pria muda. Kemuning dan Kenzi terpaksa meminta ijin bermalam, tubuh tersiram lumpur. Trena mempersilahkan mereka masuk, tanpa memikirkan mereka orang asing. Dia memberikan dua kamar yang berada di lantai bawah. Trena melihat Kemuning seperti wajah lama yang telah lama dia kenal.


Trena meletakkan baju di atas kasur, dia juga menyediakan lilin dan pematik. Selesai membersihkan diri, Kemuning tersenyum melihat beberapa baju di atas kasur. Dia sangat bersyukur di terima dengan baik, berjalan melihat foto usang yang terpajang di dinding dekat kaca rias.


Tok_tok__


“Mbak, makan malam bareng yuk. Ajak teman mbak juga ya..”


“Ya mbak, terimakasih..”


Merasakan air hangat, kamar yang nyaman dan mengganti baju selama satu minggu berjuang mengarungi gunung Keramat. Gangguan penampakan makhluk masih terlihat, terutama sosok yang mirip sekali dengan Desi. Wanita gila si pengikut jin merah.


“Kemuning, cepat tinggalkan rumah ini” bisikan suara hantu Ayu di dekatnya.

__ADS_1


Makan malam di selingi dengan berbagai macam pertanyaan dari Trena. Beberapa menit kemudian mereka tertawa karena tidak mengetahui satu sama lain. Akhirnya dia mengetahui nama wanita baik yang membantu mereka. Dia meminta Kemuning dan Kenzi menginap sampai suaminya pulang. Kemuning tidak bisa mengabulkan permintaan wanita itu. Namun Trena tetap memaksa dan menunggu jawabannya besok.


Selesai makan malam, Trena meninggalkan meja dengan wajah yang murung. Tampaknya di benar-benar berharap mereka berdua bersedia menemaninya. Rumah baru yang dia huni tidak luput dari gangguan makhluk halus.


“Kemuning. Kasian bu Trena, minimal kita balas budinya.”


“Tidak bisa Ken, kita harus turun gunung. Kamu nggak merasa aneh melihat ada rumah mewah di tengah hutan?”


“Apa yang aneh? Kamu juga belum sembuh total. Jangan terlalu memaksakan diri__”


Kemuning meninggalkannya di ruangan bagian depan. Ken masih sibuk mengamati ukiran arsitektur bangunan yang klasik. Dia berteriak, melihat gambar seorang wanita yang terpajang berukuran besar. Sepasang bola mata mengeluarkan darah berwarna hitam menetes di lantai. Terjatuh di bawah meja, tangannya menarik taplak meja yang terdapat hiasan Kristal di atasnya.


“Aahh!”


“Ken kamu kenapa?” Kemuning menepuk wajahnya yang mengarah pada gambar.


Kejadian tadi malam di tambah bumbu gangguan makhluk halus yang melompat di atas tubuhnya. Sosok pocong memamerkan wajahnya yang menyeramkan. Ken kali ini mengikuti saran kemuning, dia menahan teriakan mencari di lantai bawah.


“Selamat pagi Ken, bagaimana tidurnya? Nyenyak tidak?”


“Pagi bu Tren. Nyenyak banget bu. Saya sampai mendengkur” jawabnya tersenyum tipis.


“Mendengkur ya Ken? Oh..”


“Eh Kemuning, saya sudah menyiapkan roti bakar di meja. Kamu dan Ken sarapan ya.”

__ADS_1


“Maaf bu, tapi hari ini saya mau pamit pulang.”


“Di tunda dulu pulangnya. Tuh di luar cuacanya nggak mendukung.”


Hujan deras, kabut putih menutupi jalan. Tidak ada yang tau peristiwa alam itu di sambut hangat para penyihir putih yang ingin membangun kekuatan dari dalam bumi. Kemuning merasakan hawa dingin, suara lengkingan jin merah berjarak dekat.


Kemuning mengucapkan terimakasih pada Trena. Dia meminta maaf kalau hujan reda mau kembali meneruskan perjalanan.


“Kamu nggak betah ya tinggal disini? Saya akan membantu kamu secepatnya sampai ke rumah. Tolong lah, suami saya belum kembali dari tugasnya. Pekerja saya yang bernama bi Wa juga belum masuk kerja setelah menerima kedatangan kami tempo hari” ucap Trena menjelaskan dengan ekspresi memelas.


Kemuning jadi tidak tau mau menjawab apa. Dia merasakan di balik wanita itu ada sosok lain yang melindungi. Tidak ada bedanya dia sendiran atau tidak. Dia tetap terjaga sosok lain yang tidak dia ketahui.


💀


Lingsir wengi sliramu / tumeking sirna


aja tangi nggonmu guling / awas aja ngetara


aku lagi bang winga-winga / jin setan kang tak utusi


dadya sebarang / dwaja lelayu sebi


Suara merdu Trena di nyanyikan menggema di seluruh ruangan. Ken mengusap tengkuknya yang merinding. Dia jadi tidak sabar menunggu hujan reda. Keanehan lain mendengar suara kentungan. Mereka terkejut ada Trena tiba-tiba berdiri di belakang.


“Kalian lihat apa di jendela?”

__ADS_1


“Arghh!” Ken beteriak terkejut.


__ADS_2