
Hari berat masih menanti di depan, kepergian meninggalkan perkampungan di kaki gunung keramat mengisahkan cerita berlanjut pada dendam Tragedi dan air mata. Bayi yang di sebut sebagai titisan setan memang benar adanya. Dia tidak lazim berperilaku seperti bayi ada umumnya.
Dunia.. terlalu banyak menyimpan cerita misteri berlarut yang tidak tau kemana ujungnya. Rantai ghaib di masa yang terlewati berkaitan kelamnya awal kesesatan. Bertahun-tahun berlalu, semua ingat masih membayang dalam alam tidurnya. Memulai hidup baru di sebuah kota yang sangat jauh dari masa lalu bukan berarti terlepas begitu saja.
Mendung pagi, kabut putih yang sangat lama tidak terlihat lagi kini terlihat menyelimuti kota. Tangisan Mena jarang terdengar, pengasuh baru yang mengundurkan diri di ganti peran wanita tua yang memakai baju kebaya dan rok wiron. Dia menggendong Mena yang hari ini tepat berusia lima tahun.
Sebelum pergi ke kantor, Edi selalu menyempatkan waktu mengecup dahi anaknya, dia hari ini sedikit ragu meninggalkannya. Urusan rumah di serahkan pada bi Tangtang, dia juga meminta para pekerja lain agar mempercepat pekerjaan dan membantu petugas pendekor rumah yang akan datang mendekorasi pesta ulang tahun anaknya. Acara itu akan di mulai tepat pukul 20:00 WIB.
“Bi Tangtang, saya akan pulang satu jam sebelum pesta. Tolong urus semuanya, Mena juga jangan lupa di perhatikan.”
“Baik tuan..”
Mena, anak kesayangan Edi yang mendapatkan semua kemewahan berlimpah. Setelah kelahirannya dan peristiwa kelam, Edi berkerja keras mengubah hidup dan selalu mencari cara kembali mencari Sintya. Di atas meja, foto-foto dan semua dokumentasi mengenai perkampungan dan orang yang dia cari tidak di temukan oleh seorang detektif yang dia sewa untuk melacaknya.
Semua foto-foto kosong melompong, terlihat hanya bekas puing-puing bangunan tua. Sebuah perkampungan mati yang tidak berpenghuni. Dia berulang kali mengecek semua foto dan rekaman video, rapat tertunda selama beberapa jam. Di dalam sebuah foto yang tidak jelas gambarnya terlihat sosok wanita berambut pendek, perawakannya mirip dengan Sintya. Lokasi yang jaraknya mendekati gunung Keramat.
Edi memberikan foto itu dan meminta detektif kembali mencari tau lokasi dan semua hal yang menyangkut di dalamnya.
“Maaf pak. Kalau boleh saya meminta ijin, saya minta di beri rekan untuk menemani saya. Wilayah ini angker pak, masuk kesana saja saya di kejar setan. Hih, semua badannya merah!”
__ADS_1
“Lalu bagaimana bapak bisa menghindarinya?” Tanya Edi mulai berpikir penampakan itu tidak lain adalah sosok jin merah.
“Saya mengeluarkan jimat ini pak. Benda peninggalan mbah saya yang meninggal di gunung Keramat.”
Selesai rapat, Edi mengambil tas kerjanya. Langkah terhenti di mendengar panggilan suara sekertarisnya Mila. Wanita yang sangat mengaguminya itu perlahan mendapat titik terang, dia tersenyum karena Edi mau menerima kado pemberian darinya.
“Loh bu yang ulang tahun hari ini anak saya. Kok malah saya yang dapat kado?”
“Buat kenang-kenangan pak. Kado untuk Mena sudah saya siapkan kok.."
“Terimakasih banyak ya bu..”
Mena melirik sinis wanita yang melingkarkan tangan di lengan ayahnya. Dia menangis saat Mila memeluknya. Gerakan Mena bersembunyi di balik tubuh ayahnya yang berpura-pura ketakutan. Edi mengangkat Mena berjalan memasuki pesta. Baju indah bertingkat, tema pesta putri raja, Mena mengehentikan tangisan melihat balon-balon indah yang jatuh bertebaran di tambah kerlap-kerlip lampu.
Dalam pantauan tidak senang ayahnya di dekati wanita lain. Duduk di salah satu meja di hidangkan berbagai jenis makanan. Mila menahan suara jeritan yang akan keluar dari mulutnya, dia sangat terkejut melihat Mena berubah menjadi makhluk mengerikan.
Mila yang ketakutan berlari meninggalkan pesta. Di dalam mobil, dia berteriak melihat Mena mengejarnya dari belakang. Nyaris mobilnya masuk ke dalam jurang, Anak itu menggertakkan tubuhnya, patahan tulang yang sangat keras, Mila berteriak keluar dari mobil dia menghalangi pengemudi yang melintas.
Selamat dari maut, Meski hampir tertabrak bus itu berhasil lolos dari kematian. Gambaran nyata jika sosok yang mengejarnya tadi adalah Mena. Dia memastikan dengan menelepon Edi, anaknya tidak terliha di sela sesi pemotongan kue.
__ADS_1
“Kamu kenapa buru-buru pulang bu? Oh ya nanti salam bu akan saya sampaikan ke Mena.”
“Maaf banget ya pak, saya tidak enak badan. Kepala saya pusing sekali pak.”
“Ya bu semoga cepat sembuh..”
Menutup panggilan sambil menahan rasa takut. Edi mencari Mena di kamarnya, dia membuka pintu mendengar suara decapan seperti hewan yang sedang memakan mangsanya. Mena di bawah kasur posisi tengkurap memakan seekor kelinci. Dia mencabik organ, tatapan mata yang di penuhi amarah. Tangan berubah memanjang mirip sosok jin merah yang mendekati ibunya dahulu. Teringat ucapan si jin bahwa anak itu adalah anak titisan setan. Tapi tetap saja dia mengabaikan semua kenyataan yang jelas di depan mata. Edi merampas kelinci dari tangannya, dia membersihkan sekitar mulutnya. Suara panggilan bi Tatang dari luar mengatakan para tamu mencarinya. Edi segera mengganti pakaian Mena lalu menyembunyikan bangkai kelinci di atas lemari.
Kamar Mena berantakan, bi Tatang menemukan darah di atas ubin. Dia teringat kejadian beberapa hari yang lalu, Mena terlihat bersembunyi di bawah pohon belakang rumah sambil tersenyum menyeringai menatap kandang kelinci kesayangannya. Dia berlari menuju kandang tersebut, kandang kelinci yang terbuka, hanya ada dua kelinci yang terlepas di sekitarnya.
“Bi Tatang, satu ekor lagi hilang. Waduh bagaimana kalau ketahuan non Mena ini bi? Pasti saya di salahkan tuan” ucap Jumani panik.
“Ganti saja dengan yang baru pak. Kita tidak tau hewan apa yang memakannya. Kalau ketahuan biar saya yang bertanggung jawab.”
Karena bi Tatang yang selaku pengurus rumah memberikan saran padanya. Dia meninggalkan tugas, pergi mencari kelinci di pasar. Dini hari di dalam suasana gerimis duduk di depan penjual kelinci yang belum di buka lapaknya, pandangannya melihat bayangan hitam melewati para pembeli yang singgah di bagian penjual daging.
Keanehan di pasar pada hari itu membatalkan niatnya, keanehan berlanjut melihat pesta yang terus berlanjut. Orang-orang seperti melakukan gerakan berulang, semua benda-benda yang masih di tempat yang sama bersama balon-balon yang bertebaran memenuhi halaman.
“Apa aku lagi bermimpi?”
__ADS_1
Dia mengusap matanya, tapi pemandangan di depan mata tidak berubah. Kemistikan lebih tajam tepat di hari lahir Mena dan kebiasaan barunya yang mengkonsumsi daging mentah.