Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Runyam


__ADS_3

Kalau memiliki sisi penglihatan lain, Kemuning melangkah melihat kejadian yang terjadi di sekitar wilayah gunung keramat. Melihat orang-orang yang menggadaikan ke imanan, melakukan perbuatan yang menyimpang bersekutu dengan iblis.


Para kaki tangan setan melebar melebihi tangan-tangan dan kaki yang tidak terhingga. Bukan hanya Sintya saja yang di perdaya jin merah sosok penghuni makhluk lain di gunung keramat. Jauh hari sosok Suro berkecimpung menggunakan ilmu hitam mendengus membaca mantra di atas bakaran asap kemenyan.


Cenil menunggu siapa nama yang telah membunuh anaknya, dia yakin anaknya yang meninggal tidak wajar itu berkaitan siraman teluh. Makhluk yang membisikkan nama Ecun, mendengar nama yang tidak asing menimbulkan amarahnya menggelegar. Dia tidak mengira kedekatan anaknya pada dokter itu berujung kematian.


“Balikkan lagi semua penderitaan yang aku rasakan ini”


Sihir melayang ke yang di tuju, dia tidak bisa menumbangkannya walau telah melakukannya sebanyak dua kali. Sosok jin merah mendekati, dia membisikkan kata sulit lalu menghilang memadamkan lilin. Cenil melihat raut wajahnya yang gelisah, ketakutannya merasakan sosok besar berdiri di belakang Suro.


“Nyi, ada makhluk halus di belakang mu!”


“Ya, itu peliharaan ku. Besok kau datang lagi, aku mau mengurus si Ecun.”


Di dalam ruangannya, asap mengepul pekat menutupi semua benda ritual. Sosok jin merah menempelkan tubuh mendekatinya, dia mulai menyentuh area sensitif Suro. Walau telah lama mengabdi tetap saja dia tidak berani kalau sosok itu melakukan hal yang tidak-tidak. Tidak tahan dengan semua perlakuan jin itu, Suro berlari meninggalkan tempatnya.


“Arghh!” teriaknya.


Di dalam kamar mandi dia membersihkan diri, dia tidak mau tersentuh sedikitpun merasakan tubuh berlendir yang amis di jin merah. Harinya semakin kelam tapi besok adalah waktu yang tepat membalaskan semua dendam. Di mulai dari pria yang membunuh kedua orang tuanya, dia ingin membunuh Joni sosok pria berseragam yang bertugas di area perbatasan.


Barak tenda darurat yang di tegakkaan ramai para tentara militer berlalu lalang. Suro mengendap-endap masuk ke dalam tenda Joni mengucapkan mantra mengunci tubuhnya. Dia melotot tanpa menggunakan tangan mengangkat tubuh Joni lalu mengikatnya dengan rantai. Persis seperti siksaan yang dia lakukan pada ibunya dahulu. Suro menggerakkan gunting memoton lidah, telinga dan mengambil organnya. Dia meninggal tanpa suara, mayatnya di temukan salah satu tentara lain saat sore hari.


“Joni meninggal!”

__ADS_1


Sosok jin merah senang mendapatkan makanan, jantung yang sangat dia gemari di lahap dengan satu telan. Dia kembali mendekati Suro meminta hal lain yang bisa menguatkan kekuatannya.


“Aku tau apa yang kau inginkan jin merah, aku selalu menentang kemauan mu. Aku tidak sudi kau cicipi!” bentak Suro menutup kedua dadanya.


“Hihihi, kenapa kau melawan Suro. Aku selalu ada untuk mu, jika bayi itu lahir maka dia bisa membantu mu menaklukkan semua orang! Hihihih!”


“Tidak! Aku tidak mau anak ku bernasib sama seperti ku!”


“Hihihih…” tawa jin merah menggema walau dia telah berlari sejauh-jauhnya.


Sasaran kedua yaitu si dokter Encun, dia mau melihat sosok makhluk apa yang melindunginya sampai kekuatannya tidak bisa di tandingi. Pertarunga dua pengikut iblis yang sama, kekuatan mereka roboh di tengah-tengah kehadiran sosok jin merah itupun menghilang.


“Ternyata kau sama saja, pengikut iblis. Kenapa kau membunuh anak Cenil? Kesalahan apa yang dia perbuat?”


“Apa hubungannya dengan mu Sintya. Kau tidak takut aib mu terbongkar? Apa jadinya kalau seluruh warga tau kau memberi makan mereka dengan daging mayat?”


“Kalau kau lakukan itu maka kau tidak akan selamat Suro. Hiya!”


Pertarungan selama berjam-jam tidak memihak kemenangan pada siapapun. Suro meninggalkannya, dia berjalan ke dalam rumahnya mencari penangkal obat dari serangan sihir begitu pula dengan Sintya. Tubuhnya sekarat kesakitan, dia tidak tau apa obat yang bisa menyembuhkannya. Dia memanggil jin merah meminta dia menghilangkan rasa sakit di dalam tubuhnya.


“Sintya, Sintya, marilah. Aku akan menyatu pada mu. Hihihih..”


Jin merah berhasil menanam benih iblis di dalam tubuh wanita itu, dalam sekejap saja semua rasa sakit dan kiriman sihir yang di lemparkan Suro menghilang. Dia pingsan di atas kasur tanpa busana, jin merah tertawa kegirangan berhasil melancarkan semua keinginannya.

__ADS_1


“Hihihi..hihi..”


Suara tawa itu terdengar membayang di udara. Para warga kampung menutup pintu mereka rapat-rapat. Terjaga sampai pagi agar berjaga-jaga sosok itu tidak masuk ke dalam rumah. Sekitar pukul 05:00 WIB suara kentongan terdengar keras mengumpulkan warga.


“Ada apa pak Kades?” tanya Beni merapikan sarungnya.


“Bapak dan ibu, kita harus menguburkan jenazah bu Suro. Rumahnya hangus terbakar, saya baru saja mendapat laporan dari warga yang mencari kayu di hutan.”


Suro yang mengabaikan jin merah itu tewas di atas meja ritualnya. Sintya meminta perlindungan dan semua hal yang dia mau di kabulkan. Para warga yang tidak mengira Suro menggunakan malpraktik perdukunan membuat mereka berbalik arah tidak mau menguburkan jasadnya.


“kalau begini jadinya kami tidak berani pak Kades. Sosok dukun ini membawa musibah di kampung, dia pasti meninggal karena hal ghaib. Jangan kubur dia di tanah kita pak!”


Ucapan Manto yang menyuarakan pendapatnya di dengar para warga.


Mereka mengikuti langkah Manto pergi meninggalkan rumah itu. Hanya tinggal pak Kades, Tejah, Edi dan ustadz Pandi yang mengurus jenazah.


Jenazah Suro di kubur di perbatasan hutan kaki gunung. Mereka tidak mempunyai pilihan lain karena takut warga akan memindahkan secara paksa. Di sisi lain, gunung Keramat semakin di tutupi kabut karena berbagai fenomena alam yang bersifat ghaib melebar memasuki perkampungan.


Surau kalau malam tampak sepi, tidak ada yang berani melangkah keluar karena kasus penampakan bola api terbang dan gangguan ghaib lainnya. Ustadz Pandi yang sakit-sakitan sesekali menjadi imam dan di bantu Tejah yang mulai mendekatkan diri pada sang Khalik.


Sepeninggal kehilangan Andik yang mayatnya sampai kini belum di temukan, dia semaki berikhtiar meminta petunjuk kepada Allah SWT. Tejah mendapati Edi sholat di belakang Surau, dia yang tidak pernah mau di ajak masuk ke dalamnya. Kali ini Tejah bertanya alasan kuat apa sehingga dia bersikap seperti itu.


“Jujur saja pak, saya ini manusia yang berlumur dosa. Mau tidak mau saya juga terkena imbas dari ilmu saudara saya, Capit. Saya tidak mau Surau ini menjadi kotor atau orang-orang yang mendekati saya terkena kesialan.”

__ADS_1


“Jangan berkata seperti itu pak Edi. Hidayah itu dari Allah dan milik Allah, bapak sudah mengakui dosa-dosa bapak dan mau bertobat kembali ke jalan yang benar.”


__ADS_2