Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Menyambut setan


__ADS_3

Perjanjian tetap lah perjanjian. Orang yang terjebak di dalam sebuah rahasia kejahatan akan di belenggu jaring tangkapan pengikat.


Santi menelepon dua mafia bertopeng. Mereka menyuruhnya meletakkan uang di dalam tong sampah yang mereka sediakan. Setelah menerimanya mereka berdua tersenyum bahagia. Melajukan kendaraan berencana meninggalkan pulau tersebut, nyatanya laju mobil mereka berputar-putar di tempat yang sama.


Di tengah jalan, penampakan hantu Ririn terbang di atas mobil. Tangannya yang panjang menembus mobil mencekik keduanya. Kemudi tidak stabil, mobil mereka terjun bebas masuk ke dalam jurang. Dua jantung untuk jin merah, sesuai balasan telah menjadikannya sosok arwah yang memiliki tenaga dalam sangat kuat.


Sungguh sosok yang gentayangan itu tidak akan pernah beristirahat dengan tenang. Dendam memakan jiwanya seumur hidup mencari cara membunuh dan menyiksa musuh. Karena ketakutan dengan penampakan dan ancaman dari sosok Ririn. Wanita itu menunggu Edo di kantornya, dia meminta Edo mengantarkannya ke kantor polisi.


“Buat apa kita kesana beb? Oh ya ntar malam kita malam di resetorant bintang lima ya. Aku juga mau ajak kamu shopping.”


“Ngg__ aku ada keperluan mendadak.”


“Wajah kamu kenapa? Ini dahi kamu lebam.”


“Nggak apa-apa, yuk kita pergi.”


Pengakuan hal yang mengejutkan, Edo tidak menyangka Santi tega membunuh istrinya. Dia tau persis keduanya adalah sahabat dekat. Di belakang posisi duduk polisi yang menginterogasinya, sosok Ririn melihatnya.


Mengakui semua pembunuhan berencana yang melibatkan lima pria bertopeng membuat dia menangis menyesalinya. Tetap saja dia harus menerima hukuman yang setimpal atas semua kesalahannya. Suara teriakan bercampur tawa, sosok Ririn mengubahnya mirip orang gila.


Dia di kurung di dalam rumah sakit jiwa. Setiap malam dia menjerit ketakutan minta tolong untuk di selamatkan. Sosok Ririn menyiksanya, seolah arwah penasaran yang membalaskan dendam itu sengaja menyiksa bagai hidup segan mati tak mau.


“Santi, bagaimana rasanya menjadi seorang pembunuh?”


“Pergi! Aku benci kau Ririn!”

__ADS_1


“Tenang!” ucap seorang suster menyuntikan jarum bius ke urat nadi di tangannya.


Kebanyak pria yang tidak memiliki hati atau hati yang terbuat dari iblis tidak akan pernah memperdulikan suasana rumah duka atas kematian istrinya sendiri. Terlebih lagi setelah tau istri keduanya menjadi gila, Edo berniat menikah lagi dengan seorang wanita muda yang jarak usianya sepuluh tahun darinya.


“Do, bilang saja kau mengincar anak-anak gadis belia agar kau awet muda. Cckkck” ucap Sotoy lalu


meneguk kopi.


“Ya bro, lu benar banget. Tuh lihat penampilannya makin kece ngalahin anak ABG. Eheh” celetuk Totom.


“Kalau aku sih nggak setuju dia secepat itu mau nikah lagi di tengah kuburan istrinya yang masih merah. Udah ya aku pulang dulu, si Tuti udah nungguin” kata Kiki meraih tas laptopnya.


Obrolan yang seketika terhenti di ramaikan lantunan musik grup band yang sedang konser di dalam cafe. Mereka mulai menyusun rencana pesta kelas VIP khusus pernikahan Edo dan istri barunya. Di dalam keramaian, Edo melihat bayangan Ririn mengagetkannya sampai menjatuhkan gelas di tangannya.


Dia harus meminta ijin pada kedua istrinya yang lain. Pertama adalah permintaan maaf dan ijin yang dia utarakan. Di dalam kamar di atas tempat tidur bekas istrinya, di memberikan sekuntum bunga mawar. Lalu dia pergi ke rumah Sakit jiwa untuk meminta ijin pada Santi. Di dalam ruangan kosong, tangan dan kakinya di ikat. Santi mendengar jelas semua yang di ucapkan Edo padanya.


“Akhiri saja hidup mu wanita ******! Ahahah!”


Sampai di alam bawah sadar, suara Ririn mengganggu pikirannya. Selama ini dia hanya berpura-pura baik, berperan sebagai sahabat hanya untuk menunggu waktu mengambil alih poisisinya. Melihay Edo seorang CEO muda yang sangat kaya raya, membuatnya buta akan kenyataan sebenarnya jika semua kekayaan itu seutuhnya milik Ririn.


Hari demi hari berganti, di malam mencekam penuh siksaan. Ririn membanting tubuhnya di lantai, kepalanya pecah, tidak ada yang mendengar teriakannya. Dia sekarat tidak tahan lagi merasakan rasa sakit. Tubuhnya terangkat tinggi ke atas, tangan setan menancap mengambil jantungnya.


......................


“Gimana rumahnya, kamu suka?” Tanya Edo tersenyum mengusap Centini.

__ADS_1


“Duh, suka banget mas. Mana di dekat gunung lagi. Serasa di puncak. Makasih ya mas..”


Keluarga kecil yang di bangun dengan tragedi bersimbah darah. Dia tersenyum menggandeng tangan Edo sambil menatap ke sekeliling. Rumah bertingkat di dalamnya terpajang benda-benda barang yang mewah. Dua keponakan yang tidak kalah senang meminta ijin untuk berkeliling rumah.


“Jangan jauh-jauh ya alya dan Ton”


“Ya bu, kami sebentar aja kok..” jawab Alya menyusul langkah adiknya.


Mengusap perutnya yang besar sambil memandangi pemandangan dari atas balkon. Dia melihat sebuah pohon besar yang berada di dekat hutan. Jarak pandang cukup jauh, dia kesulitan melihat benda apa yang menggantung di atasnya.


Dia menuruni tangga, berjalan ke belakang rumah menuju pohon. Panggilan seorang wanita memutar tubuhnya menoleh, wanita itu tergopoh-gopoh menariknya masuk ke dalam rumah.


“Jangan kesana non. Nggak baik untuk wanita yang sedang hamil.”


“Memangnya kenapa mbok?”


“Saya sulit mengatakannya. Haduh gimana ya, pokoknya non harus menjaga kandungan non baik-baik dan menghindari tempat-tempat sunyi__”


Ucapan si mbok menggantung. Dia menutup tirai dan pintu sangat rapat. Hari mulau senja, Centini teringat dua keponakannya belum kembali, dia meminta si mbok dan para pekerja lain mencari mereka. Alya dan Ton melihat di seberang jalan, penampakan sosok aneh mengeluarkan gigi taring yang sangat panjang. Mereka berteriak berlari ketakutan meninggalkan sandal. Semua yang mereka ceritakan hanya di anggap tawaan. Centini mengusap kedua wajah mereka meminta membersihkan diri ke kamar mandi.


“Ibu kok nggak percaya kita sih? Huh” Tanya Ton meraih handuknya.


“Ini karena kamu sering iseng! Jadinya ibu menganggap candaan.”


Di ruangan makan, mereka menikmati hidangan makan malam bersama. Masakan khas ayam kampung di sambal terasi, lalapan yang segar dan air hangat di atas meja. Mereka dengan lahap menikmati makanan. Dari kejauhan, beberapa pasang mata mengincar. Ririn tidak akan pernah melupakan bagaimana Edo mengkhianatinya. Dia akan merenggut semua yang di milikinya dan tidak akan membiarkan dia melupakan sedetik semua kesalahannya.

__ADS_1


Mimpi-mimpi buruk tidak pernah putus menghantui. Kali ini sosok yang akan dia bunuh adalah janin di dalam perut Centini. Setiap pertengahan malam, Centini menjerit kesakitan merasakan ada yang menekan perutnya. Teriakan membangunkan suami dan kedua keponakannya. Dia melihat pakaiannya yang robek.


__ADS_2