Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Hidup yang tragis


__ADS_3

Darmo melihat mobil memasuki area halaman rumah. Dia baru saja mengambil tikus-tikus di dalam perangkapnya. Daging Seorang pria keluar dari dalam mobil melingak-linguk seperti mencari sesuatu. Dia berjalan menghampiri Darmo, menunjukkan selembar kertas yang tertulis alamat rumah Capit.


“Permisi pak, apa benar ini rumahnya?”


“Ya benar ada keperluan apa bapak kesini?”


“Saya mau menjemput nona Enil. Apa nona ada di dalam?”


DUBRAGHH__


“AKkhh”


Tumbang di bawah kaki wanita yang tersenyum menyeringai, dia menyuruh Darmo membawanya masuk ke dalam gudang. Pria itu setengah sadar melihat Enil di rantai. Dia kesakitan melihat wanita tua yang membungkuk mengiris kakinya. Darah di tampung di siram ke mayat yang sudah membusuk. Senyuman menyeringai membuka penutup mulut Enil, dia mulai menekan kuat perutnya.


“Arghh! Sakit! Kenapa kau lakukan ini pada ku mbok? Bukan kah kau sangat baik pada ku?”


“Non Enil, ayo di minum lagi teh dan jamunya! Ahahah! Kamu pikir kebaikan ku itu untuk mu? Tidak Enil yang malang, aku melakukannya demi bayi yang di inginkan tuan ku. Capit! Jadi aku harus melindungi dan menjaganya! Kalau tidak ya kamu sudah mati!”


“Wanita iblis! Jangan kau sentuh bayi ku!”


“Ada apa Enil? Kenapa kau jadu ragu? Bukan kah dari awal kau mau membuangnya?” bisik si mbok memotong rambutnya.


Pria yang menjemput Enil berhasil melepaskan tali yang mengikatnya. Dia berdiri memukul kepala si mbok, wanita itu menoleh mengusap darah yang keluar dari kepalanya. Mengayunkan pisau di rampas Darmo dari belakang, untuk yang kedua kalinya Darmo membunuh orang. Dia menancapkan cangkul di leher pria itu.


“Tidak! Pak Darmo! Mbok! Tolong lepaskan aku, pak Darmo aku tau kau memiliki hati nurani. Tolong lah selamatkan bayi ku pak. Hik, hiks”

__ADS_1


Mendengar ucapan Enil, hatinya mulai tersentuh. Dia meminta pada si mbok untuk melepaskannya Si mbok sangat marah melihat pria itu mulai berpaling. Si mbok yang di rasuki setengah setan mengangkat cangkul kemudian mengayunkan ke kaki Darmo.


“Ahh!”


Darmo di ikat di samping Enil, si mbok tersenyum menghisap bekas darah yang menetes di cangkul. Enil merasakan pergerakan pada bayinya, dia mendorong tatapan si mbok tidak sabar membantu proses persalinan.


“Terus dorong Enil, ayo cepat!!”


Ruangan yang remang-remang itu ramai di saksikan dedemit peliharaan Capit, darah yang keluar di jilat menyuarakan keanehan. Enil memohon tanpa henti berharap dia menyelamatkan bayinya. Sementara Darmo mengupayakan bisa melepaskan tali yang mengikat tangannya. Ritual perpindahan sukma di dalam jiwa iblis. Mantra setan, sesajian, darah Enil di tumpahkan di atas mayat Capit. Bayinya di angkat di letakkan di sampingnya, dia tertawa menunggu hari dimana kebangkitan tuannya.


Makhluk mengerikan keluar dari tubuh Capit. Ekspresi si mbok tersenyum bahagia karena usahanya berjalan dengan lancar. Dia bersujud menyatukan tangan menyembah makhluk tersebut. Semua yang bersifat musuh utama manusia tetap mengkhianati, memperbudak, menampakkan belang si iblis. Dia mengangkat tubuh Mijan ke atas.


“Tuan ku, aku merasa tercekik. Aku telah memberikan dan menjalankan semua yang engkau mau. Uhuk_uhuk.”


“Cepat lari non, bapak akan menghalangi makhluk itu!” ucap pak Darmo mendorongnya pergi.


Setengah tubuh iblis itu ada wajah si mbok berwujud mengerikan. Dia menarik Darmo, memutar kakinya lalu menarik paksa kaki sampai terlepas.


Kepala Enil terbentur pohon, gelapnya malam menyulitkannya mencari jalan. Dia membuka mata melihat sudah ada di dalam kamarnya. Rumah yang sangat lama di tinggalkan terlihat semua barang-barangnya masih di tempat yang sama. Di sisi kasur ada ibunya yang menggendong bayinya. Pak Darma berdiri di depan pintu menggunakan tongkat penyangga tubuhnya. Kaki kanannya di amputasi sedangkan kaki kiri di perban mulai dari paha sampai ke lutut.


"Bagaimana keadaan kamu En? Kamu koma selama satu bulan. Untung saja cucu ibu nggak rewel, ibu juga terbantu karena ada mbok Mijan. Ihihih.."


"Halo non Enil, ini mbok buatin jamu dan teh panas. Ahahah..."


Enil tidak percaya si mbok hidup kembali, dia tau ini hanyalah ilusi atau masih di dalam mimpinya. Mencubit lengan sekuatnya, dia tetap masih tersadar.

__ADS_1


"Minum nak, kamu pasti capek banget ya. Kamu istirahat ya, ibu mau titipin kamu sama si mbok."


"Bu, ini nggak nyata. Mbok Mijan meninggal di rumah pak Capit. Dia mau mengorbankan cucu ibu."


"Kamu ngomong apa sih sayang? si mbok itu justru melindungi pewaris keluarga kita. Ilmu kesakitan yang luar biasa. Beruntung pak Capit memberikan semua harta kekayaan ini."


"Non tenang aja, saya akan menjaga raja kami. Ihihih.."


"Enil, sejak lahir hingga usia mu menginjak tujuh belas tahun. Kamu yang terpilih memberikan pewaris, ya jadi kamu yang membawa adik-adik mu meninggal. Bagaimana ibu tidak menyalahkan mu waktu itu?" bisikan ibunya bernada menyeramkan.


Penampakan yang di alami adiknya, bersumber dari sosok-sosok makhluk ghaib membawa menjemput kematian. Disa meninggal di tarik ke dalam sumur. Sosok wajah menyerupai Enil. Pandu adiknya yang kedua meninggal tenggelam di pemandian air panas tempat mereka melakukan Wisata.


Tangan Enil menariknya sampai ke dasar. Dia tidak menyadari semua yang di lakukan di luar batas kesadarannya. Enil menangis meratapi kejadian tragis menewaskan orang-orang di sekelilingnya.


"Mbok, dimana Karyo? kenapa aku melihat potongan jari kelingkingnya ada di ruangan itu?"


"Ihihi, non.. dagingnya segar kan? si mbok sendiri loh yang memotongnya"


"Huek! uhuk! jadi potongan itu daging dan organ tubuh Karyo. Kejam sekali kau mbok?"


Dia di tinggal sendirian di dalam kamar, si mbok menggendong bayi yang telah berisi sukma Capit. Begitu pun Darmo pergi sebelumnya dia mengunci pintu dari luar dan menutup jendela dengan menambah penutup papan dari luar.


Eni menekan kepalanya meminta tolong supaya dia tidak di kunci. Lampu kamar yang padam, suara-suara berbisik menakuti. Sosok makhluk halus memasuki tubuhnya. Dia bertingkah merayap di dinding dan sesekali memakan dagingnya sendiri. Enil menghabiskan daging tangan dan kakinya. Luka besar tidak terasa sakit sampai dia tidur dengan posisi kelelawar.


Tubuh yang di inginkan capit terlaksana. Tidak ada yang bisa menyelamatkan Enil sampai saat ini.

__ADS_1


__ADS_2