Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Pergantian tubuh


__ADS_3

Seorang wanita meringis kesakitan, tubuhnya terlempar membentur bebatuan. Dia berdiri memegangi pohon melihat dirinya di dalam hutan. Menahan sakit mencari anaknya dan suaminya. Dia tidak sanggup berteriak karena menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Yuli merobek setengah kaos sampai memperlihatkan pusar untuk mengikat luka di bagian betis dan lengannya. Dia juga memberi alas telapak kakinya dengan sisa kain.


Berjalan di dalam kabut putih, suara aneh mulai terdengar. Suara bayangan menakutinya, di kejauhan terdengar suara lari tapak kaki kuda. Dia berpikir ada manusia yang melintas, Yuli berdiri menghadang sambil merentangkan tangan.


Kuda tanpa pak kusir berhenti di depannya. Yuli mulai menyadari yang dia lihat hadapan bukan lah manusia. Dua orang wanita berpakaian kebaya duduk di belakang kursi melihatnya dengan senyuman menyeringai.


Beberapa pria mengikuti dari belakang. Yuli berjalan mundur berlari sekencang-kencangnya. Dia di kejar dua pria tanpa kelopak mata. Bersembunyi di balik pohon memperhatikan mereka berhenti mencarinya. Kemuning menepuk pundaknya, dia menutup mulut lalu menggerakkan tangan supaya mengikutinya.


Sebelum melangkah, dia memastikan dua kali apakah wanita yang di hadapannya adalah manusia. Dia juga membungkuk melihat dari kedua kakinya yang tidak melayang di atas tanah.


“Cepat!” bisiknya.


Di sebuah tenda dekat suara gemercik air, dia melihat dua wanita lain duduk di depan bakaran api. Kemuning memberikannya secangkir air hangat. Wanita itu terlihat sangat ramah dan sopan. Dia bertanya kejadian apa yang Yuli alami, dua wanita kain hanya tersenyum menyambutnya. Raut wajah mereka menunjukkan kesedihan. Mereka masuk ke dalam tenda meninggalkan keduanya.


“Kalau yang bertubuh kurus tadi namanya Bela bu dan satunya Farsya. Maaf tendanya kecil, jadi kita harus sempit-sempitan di dalamnya.”


“Tidak apa-apa, saya sangat berterimakasih kamu sudah menyelamatkan saya. Oh ya nama saja Yuli, siapa nama kamu?”


“Saya Kemuning bu. Tidak apa-apa justru saya senang karena perjalan mendaki gunung jadi ramai.”


Yuli bercerita panjang dia juga berharap dapat menemukan keluarganya. Obrolan mereka terhenti melihat Yuli yang mulai terlelap. Kemuning belum merasakan kantuk membuka sedikit resleting tenda mengintip suara berisik apa yang ada di luar.


Di dalam gerimis, ada sepasang mata yang menyala. Kemuning menutup rapat tenda, melihat bayangan hitam besar mirip makhluk yang mengikuti Farsya berjalan mengelilingi tenda. Dia menengadahkan tangan di dalam hati mengucapkan ayat kursi.


Angin kencang mulai menggoyang tenda mereka. Lampu emergency yang menggantung terombang ambing. Suara aneh dalam derasnya hujan, Bela mendengar suara jin merah memanggilnya.

__ADS_1


“Diam! Aku mau terlepas dari mu!” Bela menjerit keluar tenda.


“Bela, berhenti! Jangan pergi sendirian!” teriak Kemuning.


Dia memakai jaket, jas hujan dan membawa senter. Berlari mengejar Bela, dia kehilangan jejaknya melihat kabut pekat merata. Sosok Ayu berdiri di sampingnya, dia memberi petunjuk arah kaki gunung yang jaraknya sangat jauh dari tempatnya berdiri.


“Tidak mungkin Belas kesana. Kalau hujan, air akan membanjiri pembatas jalan. Ayu, aku mendengar jeritannya terakhir kali di sisi yang berbeda.”


“Jin merah itu mengalihkan perhatian mu Kemuning. Kau tidak mungkin mencari Bela di cuaca seperti ini. Nenek mu berpesan pada ku supaya berhenti mencari Bela.”


“Nenek, dimana nenek ku Ayu? Aku tidak lagi melihat kehadirannya. Hiks.”


Pertanyaan Kemuning tidak di jawab, sosok itu menghilang membuka kabut memberi rute jalan. Kemuning mengikuti sampai kembali ke tenda. Farsya hanya terdiam tidak sanggup mengatakan bahwa tujuan Bela mendaki Gunung Keramat mencari jin merah.


“Bagaimana? Apa kita sekarang mencarinya bersama-sama?” Tanya Yuli.


Wajah murung Kemuning menekuk lutut. Dia tidak tau misteri dan rahasia apa yang terjadi antara para pendaki dengan gunung tersebut. Melihat Yuli mulai menggigil kedinginan, dia meminjamkan jaket miliknya.


......................


“Yuli! Resa!” teriak Joko.


Dia mengusap luka yang mengalir darah di bagian kepalanya. Pandangannya mulai samar-samar di tengah melawan guyuran air hujan. Dia melihat anaknya menangis di bawah pohon besar. Di belakang terlihat sosok anak kecil mengeluarkan jari runcing mengayunkan tangan ke tubuhnya. Joko berlari mendorong Resa menggantikan dengan tubuhnya.


Punggung Joko robek, Resa menangis memeluk ayahnya. Sosok Desi berwujud iblis menginginkan berada di posisi manusi yang sebaya dengannya semasa dia menjadi manusia dahulu. Arwahnya masuk ke dalam tubuh Resa, tangan menunjuk meminta dia membunuh makhluk di depannya.

__ADS_1


“Ayah, habisi saja dia. Aku takut sekali.”


“Ayah! Ini aku Resa. Hiks! Hiks!” Resa berada di dalam tubuh si iblis.


Desi menggerakkan tangan Resa memukul kepalanya. Batu besar berkali-kali terayun, Joko merampas batu memukul kepala si iblis sampai pecah. Dia tidak tau sosok di dalamnya adalah anaknya sendiri. Senyuman Desi melihat desi meninggal.


Ilmu Capit yang pernah membangkitkan Desi berhasil mengubahnya dengan mudah berpindah wujud ke tubuh manusia. Joko segera menggendong sosok Desi berlari mencari tempat berteduh.


“Tahan ya, ayah akan menekan lukanya” ucap Joko.


Pria itu tidak kehabisan tenaga, pandangannya kembali samar dan kunang-kunang. Dia tidak sadarkan diri sambil memeluk anaknya. Teriakan Resa yang berpura-pura menangis mengguncangkan tubuh Joko. Yang keluar dari sudut mata bukan lah air mata melainkan darah. Desi buru-buru mengusap dengan bajunya.


Suara keras si anak iblis terdengar sampai ke telinga Yuli. Dia terbangun mendengar lagi suara anaknya. Tanpa membangunkan Kemuning dan Farsya, dia keluar mengikuti arah suara tersebut.


“Ayah! Ayah!” teriak suara Resa.


Yuli mempercepat gerakan menuju sumber suara. Dia tidak perduli meski berkali-kali terbanting di jalanan yang berlumpur. Melewati banjir yang bersebrangan jalan sampai mata kaki. Dia tersenyum bahagia melihat Yuli di samping suaminya.


Dia memeluk erat anaknya, tubuhnya terasa sangat dingin. Dia menoleh melihat suaminya, tangan bergetar menyentuh rongga hidung kemudian memeriksa detak jantung. Dia mengusap telapak tangan, mengangkat tubuh memeluk dengan tangisan.


Dia masih belum percaya suaminya sudah meninggal. Berkisar pertengahan siang, dia menggendong Resa terpaksa meninggalkan Joko. Kembali lagi dia melihat ke belakang, mayat suaminya di tutupi dengan beberapa lembar daun. Dia berharap segera pulang agar menjemput mayat suaminya di gunung.


“Resa, kamu nggak apa-apa kan nak?” Tanya Yuli melihat wajah anaknya yang sangat pucat.


Resa menggeleng kepala, pandangan lurus kalau mau bergerak ke kanan dan kiri mengikuti seluruh tubuhnya. Tubuh anaknya yang semakin berat membuat Yuli tidak sanggup lagi berjalan. Dia menurunkannya sambil menuntunnya pulang. Menuruni kaki gunung, Resa berlari menghampiri salah satu pohon yang di bawahnya ada sesajian dan dupa yang bertebaran. Resa melahap ayam dan makanan yang basah tersiram bekas air hujan. Yuli berlari menghentikannya. Dia mengambil potongan ayam di tangan dan mengusap bekas darah di bibirnya.

__ADS_1


“Kamu nggak boleh makan sembarangan nak. Makanan ini banyak kumannya.”


__ADS_2