
Pertengkaran mereka berujung saling jotos menonjok, semua amarah Ganjing melampiaskan pada tembakan di tangan kanan si tahanan. Dia mengamuk memukuli agar cepat membuka suara, tembakan pistol yang akan mengenai kepalanya di tahan melihat sosok penampakan hantu Ririn. Kambing dan Epan menahan tubuhnya yang meronta. Popon dan Obet kembali mengikat lebih erat si pria tahanan.
Lemparan sampah menghujam tubuh kelima anggota mafia. Mereka mulai merasa tidak tenang panggilan suara telpon pada ponsel si Kambing. Dia mendapatkan perintah membunuh pria tersebut. Si tahanan melihat penampakan sosok hantu yang tubuhnya di penuhi dengan peluru di sekujur tubuh. Penampilannya sangat kotor, luka berdarah menyebar di tubuh. Dia mendekati si tahanan, sedetik suasana berganti memperlihatkan pemandangan bagaimana sosok hantu itu terbunuh.
Dia mengalami hal yang sama, di ikat dan di aniaya oleh lima orang pria bertopeng. Akhir riwayatnya di bunuh tepat di bekas bangunan itu. Si tahanan mulai merasakan pandangannya semakin kabur. Dua tembakan peluru dan pukulan yang menghantam tubuhnya hampir mematahkan semua tulangnya.
Kambing menoleh ke sisi pilar yang keropos, ia melihat seorang wanita berambut panjang menari dengan lemah gemulai menatapnya. Wajahnya pucat, pewarna bibir yang di kenakan berwarna hitam legam. Dia melambaikan tangan meminta mendekatinya. Kambing beranjak dari kursi berlari ke atas tangga bangunan. Di pandangannya dia menaiki tangga, sedangkan yang di lihat Obat kalau dia sedang melompat meraih akar-akar pohon.
Kambing menjerit melihat penampakan hantu Ririn. Dia terjatuh dari bagian ujung pilar. Pria itu kesurupan, terjatuh terbanting berkali-kali melakukan hal yang sama. Keempat pria lain sangat terkejut dengan apa yang dia lakukan.
“Kambing!” teriak salah satu dari mereka.
Ganjang menembak si kambing karena mau mencekiknya. Obet memukul wajahnya karena tidak terima karena membunuh teman mereka. Gangguan lain hadir dari sosok hantu Ririn yang mendapatkan kekuatan melalui jin merah.
“Ayo Rin, aku menanti-nanti jantung mereka. Hihihi..” bisikan jin merah mendekatinya.
Ririn pernah mencoba melepaskan jeratan ikatan dari jin merah. Dia selamat dari gunung kerama, memulai hidup baru dengan Edo namun berakhir tragis di bunuh selingkuhan suaminya. KIni dia akan menghabisi semua orang yang pernah melukainya.
Tawa menggema nyaring memenuhi gedung. Mereka mendengar jelas suara Ririn, wanita yang mereka bunuh. Penampakan hantu Ririn membuat Popon berlari pergi sampai memasuki area hutan. Tembusan itu menuju ke kaki gunung keramat. Suara tawa Ririn masih terdengar semakin menakuti.
“Kemana perginya si kumis?” bisik Obet.
“Nggak tau! Sekarang yang penting kita sudah aman dari hantu Ririn” kata Epan.
Si tahanan mulai kesurupan arwah penasaran, pria yang terbunuh tepat di tangan Ganjang. Dia melepaskan tali yang mengikat tubuhnya. Ganjang menembakkan pistol namun peluru tidak keluar. Dia melihat lubang pistol. Jarinya menekan pelatuk sehingga peluru tertancap di dahinya.
__ADS_1
“Ganjang!” teriak tiga orang lainnya.
Mereka berlari berpencar, sosok hantu Ririn terbang mengikuti. Si tahanan berhasil lolos dari maut, dia terjatuh di tepi jalan setelah sosok arwah hantu pria keluar dari tubuhnya. Obet terjatuh di bawah tetesan darah, dia melihat ke atas pohon ada hantu Ririn yang menunggu kematiannya. Jantungnya di tarik tangan si setan. Jin mera tertawa mendapatkan makanan.
Jin merah berhasil mengelabui manusia. Terutama orang-orang berhati lemah, terjebak dengan masa lalunya dan meminta padanya. Tubuh Obet berpindah di gantung di atas pintu kamar Santi. Saat terbangun, wanita itu berteriak sekuat-kuatnya.
“Jangan di sentuh mayatnya sayang! Nanti kau yang malah menjadi tersangka!” ucap Edo.
Santi mulai tidak tenang, dia merasa arwah Ririn bangkit membalaskan dendam. Tanpa sadar dia menggigit jarinya sendiri. Edo menarik tangannya yang berlumur darah. Santi berteriak kesakitan, setengah ujung jarinya habis dia makan.
Suara ketukan pintu yang sangat keras. Lampu listrik yang padam semakin menakuti. Edo membuka pintu, tidak ada siapapun yang datang. Bantingan pintu keras membuat dia membalikkan tubuhnya. DI dalam kilatan cahaya petir yang samar menerangi ruangan. Ada sosok Ririn terbang memperlihatkan keadaannya yang sangat mengerikan. Edo tidak berani mendekatinya, dia berlari menarik Santi masuk ke dalam kamar.
“Edo, inikah balasan untuk ku ?” gema suara Ririn.
“Kamu kenapa mas? Mana obat untuk ku?” Tanya Santi ketakutan melihatnya.
Karma yang terjadi di hidup akan menuju ke si pelaku. Tidak peduli kapan dan dimana waktunya tiba, kesalahan yang tidak termaafkan akan menjadi tumpukan batu kerikil menjatuhkan atau membunuh di dalam perjalanannya. Di pagi hari, Santi muai bersiap-siap pergi ke kantor. Begitu pula dengan Edo yang telah bersiap menunggunya di dalam mobil.
Pria itu sangat memanjakannya, setelah kejadian itu dia sama sekali tidak meninggalkan Santi sedetikpun. Sesampainya di depan perusahaan, Edo memutar mobil menuju ke proyek pembangunan. Santi terkejut melihat kedatangan dua pria bertopeng yang berdiri menghalanginya.
“Mau apa kalian? Aku sudah membayar mahal! Jangan pernah temui aku lagi!”
“Tiga teman kami di bunuh hantu Ririn. Wanita yang kau perintahkan untuk kami bunuh bulan lalu. Nyawa kami sedang terancam. Kami minta bayaran lebih!”
“Memangnya kalau aku tidak mau, kalian mau apa?”
__ADS_1
“Nasib mu akan sama seperti wanita itu!” ucap Epan si tubuh pendek yang jinjit membelai rambutnya.
“Jangan macam-macam! Aku akan memberikan uang itu, Tapi dengan syarat, jangan mengganggu ku lagi!”
“Anak manis! Begitu dong!” kata Popon bertepuk tangan.
“Lusa sediakan kami seratus juta rupiah. Ingat! Jangan sampai kau ikut mati!” bisik si pendek.
Santi pulang ke rumah Edo, dia tau pria itu pasti memiliki banyak harta peninggalan Ririn. Dia membongkar laci menemukan beberapa lembar surat tanah. Dia segera memasukkannya ke dalam tas, lalu mengambil dua kotak perhiasan milik Ririn di atas meja rias. Pintu rumah terkunci, di belakangnya sosok Ririn terbang mencekiknya.
“Uhuk! Ampun Rin!”
“Ayo Rin, aku menunggu jantungnya. Cepat! Aku sudah tidak sabar lagi! Hih..” jin merah menengadahkan tangan menunggu tampungan organnya.
“Tidak! Aku berjanji akan menuruti semua permintaan mu Rin! Maafkan aku!”
“Akui semua kesalahan mu di depan polisi dan Edo! Dasar kau pembunuh, pelakor dan sahabat pengkhianat!”
“Ya! Ya aku berjanji akan mengakui semuanya..” kata Santi menahan lehernya yang sangat sakit.
Ririn menghilang bersama jin merah. Dia menunggu janji Santi, di dalam kegelapan dia menangis merasakan kehidupannya yang berada di antara kematian yang menggantung dan kesakitan merasakan penderitaan kematian berulang kali.
“Kenapa kau tidak memberikan hatinya untuk ku Rin? Bukan kah kebangkitan mu demi membalaskan dendam?”
“Aku tau apa yang harus aku lakukan. Kau pasti akan mendapatkan jantungnya”
__ADS_1
“Hihih..” tawa jin merah kesenangan menggema memperlihatkan rahangnya yang besar.