Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Kelamnya waktu


__ADS_3

Kan tiba masanya semua akan menjadi sulur-sulur bekas api yang menghitam.


Semua fase keinginan menutup cerita hitam malah terbuka. Edo bermain peran sebagai pria yang sangat setia.


Setelah tau sosok Ririn berubah menjadi arwah penasaran yang ganas, dia pergi ke sebuah pulau pedalaman menemui seorang dukun untuk mencari jimat perlindungan. Dia pergi pagi-pagi sekali memberikan pesan pada bi Yen untuk memberitahu Centini bahwa dia sedang mengurus proyek dan pertemuan penting selama satu minggu.


Kalau di daerah mereka, sosok makhluk ketika kita melihatnya makin panjang, dan makin panjang disebut begu ganjang. Tubuhnya panjang menjuntai rambut, lidah dan jari-jemari yang runcing. Begu ganjang berada pepohonan dan bagi dukun yang memelihara maka dia akan memberikan tempat dengan memasukkannya ke dalam sebuah benda.


Sosok iblis yang kuat, menggunakan ilmu, mantra dan memberikan sesajian maka dia kan mematuhi majikannya. Tidak bias di pungkiri sosok itu menginginkan darah manusia yang sangat segar. Bagi siapapun yang memeliharanya maka dia harus menyediakan darah orang lain atau memberikan calon sasaran sebagai tumbal. Sama dengan ritual pesugihan lainnya, menggunakan begu ganjang dalam mencari harta juga disertai dengan tumbal. Mulai dari tumbal sederhana seperti sesajen makanan hingga tumbal nyawa manusia.


Edo mendapatkan sebuah jimat untu menjaganya dari serangan arwah Ririn, sebelum mendapatkan jimat itu dia mengucapkan sebuah perjanjian akan memberikan darah manusia untuk melindunginya. Edo telah menulis nama Alya, namun nama yang di masukkan ke dalam air itu melebur. Kemudian dia menulis nama Ton, tulisannya masih tergenang dan tinta di dalamnya tidak luntur sedikitpun.


Edo tersenyum merasa dirinya selamat dari incaran Ririn yang mau membunuhnya. Dia segera pulang kembali ke rumahnya. Saat melihat penampakan arwah Ririn mengganggu dia menunjukkan jimat berbentuk kalung yang melingkar di lehernya.


Centini berkeliling melihat-lihat masuk ke dalam rumah, di bagian atap langit-langit paling atas. Rumah itu sengaja di desain dengan berbagai keunikan, seharian berkeliling aja tidak cukup mengamatinya.


Di depan dinding bercat warna merah menyala itu ada pajangan lukisan besar yang membuat matanya membelalak. Sebuah karya seni bersifat mistis, dia mengamati dan menyentuh setiap arsiran, cat minyak lukis serta objek lukisannya. Warnanya tidak terlalu cerah, banyak sentuhan warna gelap dan hal yang paling mengejutkan adalah gambar sosok makhluk bercat merah yang menggantung diantara selulit pepohonan.


“Centini… Centini..” suara yang tidak tau dari mana asalnya terdengar jelas di telinganya.


Langkah mundur Centini memegangi pilar penyangga, dia mengambil kain yang menutupi sebuah patung besar untuk menutupi lukisan tersebut. Dia menuruni tangga melihat bercak kaki berlumpur, pasir menyemai. Dia mengikut jejak jaki sampai berhenti di sebuah pintu yang di rantai.


Pengunci itu terbuka dengan sendirinya. Di bawah sana, ada tangga gelap menuju ke bawah. Dia menyalakan layar ponsel, langkah demi langkah masuk ke dalam. Sebuah tempat yang di dalamnya bersarang tikus, kecoa dan hal yang paling tidak terduga adalah kepakan sayap kelelawar yang menyerangnya.

__ADS_1


Centini menjerit menghalangi cakaran kukunya yang mau mengenai perutnya. Dia tidak sadarkan diri, sosok arwah Ririn membungkus tubuhnya membawa ke gunung keramat.


“Ibu dimana yah kok sedari tadi nggak kelihatan?”


“Ya nih padahal aku mau minta ijin buat main sepeda” ucap Ton.


Alya mencari di dalam kamar, terlihat Centini duduk di kursi goyang sambil menatap jendela. Yang terbuka. Angin kencang, tirai yang menghempas terbang tinggi mengenai tubuhnya. Dia tidak menjawab panggilan Alya bahkan guncangan tangan merasakan tubuhnya sangat dingin.


“Bu, bu!"


“Pergi dari sini” wajah Centini berubah menghitam.


Alya terkejut berlari kearah balkon, dia terjatuh dari atas ketinggian. Ton yang baru saja mengeluarkan sepeda dari kamar mandi terkejut melihat kematian saudaranya.


Teriakan, kesedihan bercampur tangisan, rumah itu berjarak sangat jauh dari perumahan penduduk sehingga hanya beberapa saja yang melayat. Proses mengurus sampai penguburan jenazah segera di langsungkan. Centini yang baru saja sadar menangis melihat kematian keponakannya. Dia menyalahkan diri yang tidak becus mengurus mereka sepeninggal kedua orang tuanya.


“Tinggalkan saja aku sendiri!”


Dia menangis semakin erat memeluk batu nisan. Mendengar suara batuk Centini, dia menoleh melihatnya menggigil kedinginan. Suara lolongan anjing dan hembusan angin kencang menambah suasana mencekam. Ton berjalan mendekati mengutarakan keinginannya kembali ke kampung dan tinggal di rumah peninggalan orang tuanya.


“Pokoknya aku mau pulang bu. Hiks..”


“Kamu mau tinggalin ibu gitu aja? Nggak kasian sama ibu? Kalau gitu, ibu akan ikut kamu.”

__ADS_1


Mengetahui kasih sayang Centini yang besar hingga semalam tidur di kuburan, Ton membatalkan niatnya untuk pergi. Tempat tidur kosong, koleksi boneka-boneka kesayangannya masih tersusun rapi di lemari dan beberapa boneka pilihan di atas meja belajarnya.


Di dalam tidur dia melihat Alya duduk di bawah pohon dekat seberang hutan yang pernah mereka lihat sewaktu pertama kali sampai di tempat itu. Dia membuka mata berlari keluar mencari pohon yang dia maksud. Semakin dia berjalan mendekati pohon tersebut, tanpa terasa semakin jauh langkah kakinya menjauh dari letak rumah.


Pohon besar yang di bawahnya terdapat benda-benda aneh, daging mentah, buah-buahan dan makanan lainnya. Karena merasa lapar, dia memakan sebuah apel yang terlihat ranum. Langit berubah sangat gelap, kabut putih pekat menutupi pemandangan.


“Bu.. bu..!” teriak Ton ketakutan.


Di alam tidur Centini melihat gunung Keramat tepat di depannya. Dia melihat banyak para pendaki berbondong-bondong menaiki gunung. Salah satu pendaki mirip di dalam lukisan yang dia lihat di bagian ruangan paling atas. Sosok itu berubah wujud menjadi hantu mencekiknya.


“Uhuk! Hukk!”


Terbangun melihat jarum jam pukul 07:00 WIB. Dapur telah terhidang sarapan, bi Yen tersenyum menarik kursi untuknya. Dia tergolong pekerja rumah tangga yang pembersih dan sangat cepat menyelesaikan tugas. Semua pekerjaan telah selesai, pagi ini dia minta ijin cuti setengah hari untuk pulang ke rumahnya.


“Bibi ada keperluan apa buru-buru pulang?”


“Saya mau lihat cucu saya yang lagi sakit non. Kasian dia sendirian di rumah.”


“Loh, maaf kalau boleh tau orang tuanya dimana bi?”


“Orang tuanya meninggal setelah melahirkannya non”


“Bawa saya cucu bibi kesini, biar rumah tambah ramai.”

__ADS_1


‘Terimakasih non..”


Mimpi dan penampakan tetap mengganggu. Kekacauan jiwa, dia bertanya rahasia apa yang di miliki suaminya sehingga dia sering menyebutkan nama Ririn. Di depan pintu, dia menunggu kepulangan keponakannya.


__ADS_2