Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Berhasil di rayu setan


__ADS_3

Kedatangan dua pengurus rumah yang baru, Nisa mempersilahkan mereka masuk dan memberi arahan. Menunjukkan kamar yang mereka tempati dan menjelaskan kebiasaan kelima balita yang harus mereka urus. Hujan semalam ada yang masuk ke sela bagian atas kamar sudut tempat tidur. Mereka bergotong-royong berbondong-bondong mengangkat kasur, menjemurnya di bagian atas atap.


Nisa selalu memperingatkan anak-anak agar jangan berdiri di tepi. Jeri merasa terpanggil melangkah sampai Kila menarik tangannya. Dia mengusap wajahnya yang ketakutan melihat ke bawah, sedikit lagi dia terjatuh kalau tidak ada Kila.


“kamu yang fokus dong, aku nggak mau kita semua celaka!”


“Tadi aku lihat ini Cuma dataran yang sama. Terimakasih kamu sudah menolongku..”


Mbok Mijan meminta ijin pada Nisa untuk pergi mengambil barang-barangnya yang tertinggal. Dia mengatakan rumahnya ada di desa seberang. Nisa tidak menaruh rasa curiga pada wanita itu, dia memberikan ongkos hingga mengantarkannya sampai ke halte.


Di antara kerumunan, Figo menatap tajam. Sekali lagi dia memberi peringatan dan memastikan saat kepulangannya nanti kekuatannya masih tetap terkunci. Si mbok bergegas masuk ke dalam bus, dia membungkuk memperhatikan dari jendela.


Adannya di lereng gunung akan kekuatannya yang di kunci tuannya. Si mbok tidak mendapatkan jawaban apapun dari penghuni gunung. Kejadian di masa lalu kekuatan inti naga berkepala dua kegelapan seutuhnya di berikan untuknya.


“Ya penghuni gunung Keramat, kenapa tidak menjawab seruan ku?”


Tidak ada balasan atau tanda apapun, mbok Mijan tetap meneruskan persemedian menunggu kekuatannya di kembalikan. Sosok-sosok yang bersembunyi menunggu sesajen yang biasa dia bawa. Salah satu bergerak menerkam. Giginya yang tajam mengarah ke tubuhnya.


“Jangan mangsa aku, aku akan memberikan sesajian sepert biasanya.”


Dia berlari ketakutan, meninggalkan sandalnya. Kesalahannya percaya semua janji setan.


......................


Sintya terbangun melihat dirinya beralas tumpukan daun pisang terlihat Andik sibuk membakar ikar. Cuma dia yang perduli dengannya, tetap saja pikiran dan hati Sintya yang di kuasai iblis tidak memandang kebaikan. Ikan bakar yang matang tidak membuatnya berselera, Andik memaksa dia memakan lalu menyodorkan secangkir air hangat.

__ADS_1


“Habiskan semuanya Sin, tubuh mu dingin sekali. Sepanjang malam kau menggigil, aku tidak berani memulangkan mu ke rumah, atau pun meminta ijin pada ayah. Mengenai sikap ayah ku, aku minta maaf pada mu.”


“Ya, aku tidak mempermasalahkannya. Terimakasih atas pertolongan mu, Aku harus pulang.”


“Sin, apa kau tidak ingat sama sekali siapa aku?” teriakan Andik sama sekali tidak membuatnya bergeming.


......................


“”Dari mana kau Sintya? Kau sekarang jadi anak yang durhaka. Mengabaikan ayah mu yang sakit.”


“Apa kata ayah? Aku mengorbankan masa remaja ku demi mengurus mu. Terjebak di tempat dan desa yang aneh ini. Kurang apa sebagai anak yang berbakti? Aku sengaja pulang untuk mencari di gunung!”


“Diam kau anak kurang ajar!”


Muhyi menampar wajahnya, dia menjambak bahkan mendorongnya keras sampai terjatuh ke lantai. Sintya berlari keluar rumah, kemana dia mengadu?


“Siapa yang meninggal An?”


“Anaknya bu Aya yang baru saja lahir. “


Dia mengikuti langkah Andik dan rombongan lain. Tangisan bu Aya memeluk tanah kuburan anaknya. Di antara orang-orang yang hadir. Dia melihat dokter yang pernah mengobati ayahnya. Dia berlari menghampiri, pandangan mata bu Aya yang menyeka air matanya melirik Sintya dengan tatapan kebencian.


Can not be said to have never rejected the devil's offer in front of her. the woman deceived returned his helping hand once again.


“Dok, tolong tangan ayah saya dok. Lukanya semakin membusuk.”

__ADS_1


“Saya tidak dapat banyak membantu, kalau kamu mau membawa ayah kamu pergi dari sini. Kembali seperti yang saya katakan. Selesaikan masalah yang belum terselesaikan dan jangan wabah ini keluar daerah.”


Sintya berlari mengunci pintu. Dia tidak tau lagi apa yang harus di lakukan, bisikan setan mulai hadir menghampiri. Sosok jin merah yang menggerakkan jari jemarinya yang sangat panjang. Dia tersenyum melihat kesedihan manusia yang rapuh dan berputus asa.


“Sintya.. ayo genggam yang kuat kedua tangan ku. Aku akan selalu ada dan menyelesaikan masalah mu. Apa kau tidak mau menyembuhkan ayah mu? Atau bertemu dengan ibu mu Sintya. Ihihihi..” tawa iblis bahagia melihat kegelisahan di hatinya.


Bisikan setan itu selalu terngiang-ngiang di dalam pikiran dan hatinya. Dia terjerumus masuk ke dalam golongan penghuni api neraka.


“Sintya, kalau kau mau mengobati ayah mu. Maka kau harus mengambil mayat yang kematiannya jatuh pada hari jumat kliwon. Kau harus menggali kuburannya dengan tangan mu sendiri. Ambil mayatnya dan masak dagingnya, suapkan ke ayah mu Sinyta..Hihih…”


“Dimana aku bias menemukan mayat itu?”


“Mayat Capit yang ada di kaki gunung keramat! Hihihih..” Mendengar ucapannya, dia segera berlari meninggalkan rumah.


Tidak ada lagi yang harus dia takutkan, dia telah menjadi manusia yang tidak beriman dan takut murka sang Maha Kuasa. Masuk ke dalam gunung keramat, di bantu iblis mengiringinya dengan mudah dia menemukan dimana makan Capit.


Manusia itu menguburkan dirinya sendiri saat sukmanya berhasil masuk ke tubuh Figo. Dia memberi tanda batu hitam yang di beri mantra di atasnya. Sosok iblis gampang menghilangkan mantra, dia adalah kaki tangan iblis yang ilmunya dapat menembus naga berkepala dua.


Sintya di bantu kekuatan si iblis membawa mayat ke dalam rumahnya. Mata-mata manusia di kaburkan agar tidak melihat dia berjalan. Di dalam kegelapan malam, dia tersenyum mengasah pisaunya. Ketajaman pisau yang dapat mengiris kulit dan daging mayat yang alot.


Dia tidak merasa jijik atau mual mencium aroma busuk yang menyengat. Mengambil bagian organ terpenting, bisikan iblis mulai menggoda di telinga kanan dan kirinya.


“Sintya oh Sintya, kau tidak mau mendapatkan uang untuk keluar dari tempat ini? Kau dapat berjualan dengan organ segar itu. Tapi tetap saja bagian jantungnya milik ku. Ihihihi…”


“Kau benar, aku besok akan mulai membuka warung.”

__ADS_1


Tawa jin merah bahagia menggema terbawa angin. Muhyi membuka mata merasakan hawa yang sangat merinding di sela tawa yang mengerikan. Tangannya mulai mengeluarkan belatung, karena tidak tahan dia mengusap sampai terjatuh.


“Arghh! Sintya! Cepat bantu aku!”


__ADS_2