Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Pengkhianatan


__ADS_3

Sebelum di aniaya, pria bertubuh besar itu memperkosanya, empat pria lain yang menonton sambung menyambung menikmati tubuh Ririn. Karena suara teriakan yang sangat keras, si ganjang memukuli sampai batok kepala pecah dan wajahnya tidak berbentuk. Mereka membuang jasadnya ke dalam jurang, rumah itu di tinggal begitu saja. Sepulang dari kantor Edo melihat rumahnya yang berantakan.


“Ririn, kamu dimana?” panggilan Edo menghentikan gerakannya memotong daging.


Dapur tercium bau amis, dia melihat tubuh Ririn basah kuyup. Suara tangisan bayi mengarah ke meja makan, tangannya gemetar membuka tudung saji memperlihatkan bayi yang berwajah pucat menangis mengulurkan tangannya.


“Arghh!” Berlari menaiki tangga, di dalam kamar ada Ririn duduk di depan kaca rias menyisir rambutnya.


“Bukannya kamu tadi ada di dapur?” Tanya Edo ketakutan.


“Aku disini menunggu mu dengan setia mas. Tolong bantu aku menyisir rambut ku.”


Ririn meletakkan sisir ke tangannya. Dia perlahan menyisir rambut Ririn di kejutkan semakin banyak dia menyisir maka rambut tertarik memperlihatkan kulit kepala yang tampak botak. Keluar ulat-ulat kecil yang menggeliat. Dia terjatuh saat akan berbalik. Kepalanya terbentur keras, di pagi hari dia terbangun melihat tidak ada Ririn di sampingnya.


Suara bel, kedatangan polisi dan kasus kehilangan istrinya. Tamu yang lain hadir tidak lain adalah bu Muti, tetangga sekaligus sahabat dekat ibunya Ririn. Dia selalu memantau anak-anaknya Kela atas pesan yang diamanatkan padanya.


“Kamu kan suaminya, kenapa kamu nggak becus menjaga istri mu. Ibu nggak mau tau, kamu harus mencari Ririn sampai ketemu atau ibu akan menuntut mu” ancaman Mutia tidak bisa dia anggap enteng.


Berganti hari berikutnya seorang pengacara memberikan beberapa lembar dokumen tuntutan yang menyatakan dia sebagai tersangka kasus pembunuhan Ririn. Sudah seminggu Edo tidak masuk kerja, para teman-temannya datang bersama Santi.


Mereka mengadakan pesta minuman dan makan bersama. Berniat menghibur Edo, mereka terkejut melihat kedekatan Edo dengan Santi sampai cara mereka berdansa seperti sepasang kekasih yang sedang kasmaran.


“Kayaknya si Santi bisa menghibur hari si Edo. Bisa jadi sebagai mengganti Ririn” bisik Totom.


“Ya kau benar, tapi menurut ku kalau ini terlalu cepat!” jawab Gege.


Sotoy mencari letak toilet yang tidak dia temukan di rumah yang megah itu. Dia melihat seorang wanita berambut panjang berjalan menaiki tangga. Sotoy mengikuti, dia senyum-senyum sendiri ingin berkenalan sampai langkah berhenti di depan pintu kamar.


“Namanya siapa mbak? Kenalin saya Sotoy. Tapi nggak pakai embel-embel Sok tau ya. Heheh”

__ADS_1


Dia mengusap kedua telapak tangan, menghembus lalu memintanya berjabat tangan. Wanita itu membelah rambutnya. Di bagian punggung terlihat perutnya bolong mengeluarkan cacing yang berjatuhan.


“Hantu!” teriak Sotoy berlari menuruni tangga. Dia pergi meninggalkan rumah itu tanpa pamit pada yang lainnya.


Penampakan lainya mengarah pada Ruben dan Kiki yang meninggalkan ruangan melihat sosok kuntilanak di belakang Gege. Panggilan Gege menambah kecepatan lari mereka pergi membawa lari mobil milik Totom.


Dalam semalam, penampakan mereka membuat ketakutan tidak berani menginjakkan kaki ke rumah Edo. Di dalam suara musik yang sangat keras, Edo dan Santi semakin bermesraan. Edo menggendong Santi menaiki tangga, mereka mulai bercumbu melupakan peran Ririn sebagai sahabat maupun istri.


Suara kaca jendela yang pecah mengagetkan Santi memakai pakaiannya. Dia terkejut melihat penampakan sosok Ririn yang berubah menjadi hantu. Suara teriakan melengking Ririn mengeluarkan hewan yang berterbangan dari mulutnya.


“Mas bangun, ada wanita yang tidak aku kenal memecahkan kaca jendela” Santi menutupi kenyataan melihat adanya Ririn.


“Kaca mana? Nggak ada yang pecah..”


“Loh__”


“Sarapannya udah jadi sayang, kita makan yuk.”


Ajakan Santi yang selalu berpenampilan menggoda. Mie berubah menjadi cacing, kuahnya berwarna merah. Bubur yang mengeluarkan bola-bola mata manusia yang berkedip melihat mereka. Sosok Ririn muai memberikan peringat demi peringatan. Santi menangis menceritakan gangguannya lalu meminta semakin tidak mau pisah dan ingin segera di nikahinya.


Suara bunyi bel, tamu-tamu dari pihak kepolisian dan berbagai macam pertanyaan. Pandangan mereka tertuju pada Santi yang berpakaian seksi.


“Dia sahabat kami dan tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini” ucap Edo menutupi.


“Apakah terakhir kali rumah tangga kalian di terpa masalah? Apakah kalian bertengkar?” Tanya salah satu polisi.


“Tidak, rumah tangga kami baik-baik saja. Hanya saja istri saya mengalami keguguran beberapa minggu lalu.”


Di alam lain sebelum menutup mata Ririn meminta jin merah memberikan sepercik kekuatan untuk membalaskan dendam. Sebuah syarat membunuh dengan imbalan jantung manusia. Kini Ririn bisa menjadi arwah gentayangan yang mempunyai kekuatan besar.

__ADS_1


Tepat di hari pernikahan Edo dan Santi, angin kencang dan hujan badai memporak-porandakan pesta. Beberapa tamu terjebak di dalam gedung, sementara Sotoy, Gege, Totom, Ruben dan Kiki yang mulai tidak tenang ketika Edo menawarkan tawaran menginap memilih menerjang hujan badai.


“Dari pada kita mati di makan hantu Ririn lebih baik menyelamatkan diri masing-masing” ucap Sotoy.


“Ya kamu benar So! penampakan hantu yang kita lihat mirip dengannya” jawab Totom.


#Seminggu setelah kejadian.


Muti menjumpai seorang paranormal yang tinggal di dekat gunung keramat. Antar lintas antar desa atau kota terdapat wilayah terpencil yang masyarakatnya bekerja bercocok tanam. Tanah yang subur menghasilkan hasil panen yang berlimpah ruah. Wanita berkulit sawo matang itu memejamkan mata mengingat foto yang dia pegang. Gambar Ririn di tembus merasakan dimana keberadaannya.


“Tiga hari lagi silahkan ibu datang kesini. Saya akan mencoba mencarinya.”


“Tolong lah non, walau hidup atau mati aku harus tau keadaannya.”


Wanita yang di panggil Bata itu mulai meletakkan foto di balik bantalnya Tepat ketika dia terlelap, sosok yang ada di dalam gambar melayang di atas kepalanya. Dia mencekik kuat lehernya, nafas Bata terputus. Lima detik kembali lagi membuka mata seorang wanita yang memakai pakaian pendakian menariknya untuk berdiri.


Tanpa dia sadari, Bata di dalam hutan, sosok wanita itu menawarkan ajakan untuk pulang. Dia menyebutkan nama makhluk-makhluk yang mengincar di gunung Keramat.


“Ayo cepat jalan kak, kita nggak punya waktu lagi.”


“Kamu siapa?”


“Saya Kemuning, pendaki gunung Keramat. Saya sahabatnya Farsya, dia adalah adik dari wanita yang kakak cari.”


“Aku sudah berjanji akan menemukannya. Bu Muti mencarinya.”


“Kakak harus pulang, aku hanya bisa mengantar sampai di pintu hutan.”


Kemuning memberitahu jalan aman yang jauh dari gangguan. Sesampainya di depan pintu dia menghilang, Bata membalikkan badan mendengar panggilan suara wanita.

__ADS_1


__ADS_2