
Kesenangan semu, arti kata rumah tangga hanya bersifat formalitas sebagai status wanita yang memiliki suami sah. Dia sengaja tidak mau hamil dengan Penok dengan beralasan memiliki riwayat penyakit Rahim lemah. Dia memalsukan rekaman medis di atas selembar kertas sehingga Gayung mempercayainya. Anak angkat yang sengaja dia sekolahkan di luar kota agar dia lebih leluasa melakukan kesenangan pribadinya.
Dering telpon panggilan anaknya, Rode tersentak menyuruh Penok tidak bersuara.
“Ya sayang kamu butuh apa? Ibu lagi sibuk!”
“Bu, aku mau liburan sekolah, bisa besok jemput aku di asrama?”
Tutt__
Suara terputus, Rode yang sedikitpun tidak mencemaskan anaknya meletakkan telpon ke atas nakas. Dia meraih handuk, Penok melanjutkan tidur sesekali melihat gerakannya. Rode merasa wanita paling cantik di dunia, dia menepuk pelan pipinya. Botol kecil yang berisi air bunga selalu dia bawa kemanapun dia pergi. Pemasangan susuk beraura awet muda, memikat hati para pria yang melihatnya.
Dia memintanya sendiri pada suaminya, rengekannya mengatasnamakan kata hadiah sebagai wanita yang mau di madu.
Satu tahun yang lalu, menjelang ulang tahun pernikahannya. Rode pulang dari kota D menjemput anaknya. Dia semula ingin memberi kejutan, tapi dia yang mendapat hadiah tidak terhingga dari suaminya yang bermesraan di atas ranjangnya.
Hatinya runtuh, Rode mengilas balik bahwa ini adalah balasan bagi dia yang pernah menolak Gayung dan memakinya sebagai pria tua bau tanah. Dia menjambak rambut pirang si wanita yang tanpa busana memeluk erat suaminya. Rode mencari pisau mengangkat ke tubuhnya.
“Ampun! Saya akan pergi!” teriak si rambut pirang.
Keributan di malam itu di saksikan Remoy. Sejak saat itu dia memihak pada Rode sekalipun mengetahui ibunya ikut bermain belakang dengan pria lain. Dia tau ibunya banyak berubah, dia mengemasi semua barang-barangnya. Pulang menuju ke rumah sambil memandangi selembar foto yang berada di dalam dompet.
“Tidak perduli orang berkata kalau aku ini anak pungut yang di temukan dari pegunungan. Aku tetap menganggap mereka sebagai orang tua kandung ku” gumam Remoy di dalam bus.
__ADS_1
Setiap malam, mimpi tidak terlepas memasuki area gunung. Sosok makhluk merah memanggilnya, lika-liku jalan terhafal bahkan dia berdiri di tempat yang sama. Panggilan memasuki tempat itu di perkuat melihat sosok lain yang melambai mendekati. Seorang kernet bus membangunkannya, dia segera membayar uang sewa lalu turun berjalan menuju ke rumah.
Letak rumahnya berada dekat wilayah pegunungan. Dari luar, rumah tampak sepi. Lampu padam, dia mencari ayahnya ke hutan. Terlihat seorang pria yang sedang merokok menariknya duduk di atas batang pohon kering.
“Ayah mu lagi sibuk mengantar para wartawan mendaki gunung."
“Lalu ibu ku kemana?”
“Kalau ibu mu jangan kau tanyakan pada ku. Sekarang kau pulang, ayah mu pasti akan marah kalau kau ikut menyusulnya.”
Rem mengabaikan ucapannya, dia berlari masuk ke dalam hutan. Pria itu sebagai pendamping Gayung tidak berani mengejar. Di dalam sana, Rem berhenti mendengar panggilan suara yang sama di dalam mimpinya. Penampakan di sisi kiri, suara melengking bersahutan di salah satu pepohonan yang bergoyang sendirian.
“Jangan ganggu aku! Ahh!”
Bayi yang di temukan seorang polisi yang berpatroli mendengar suara tangisan seorang bayi yang lokasinya berjarak dari tepat dia berdiri. Sems melihat Rem menangis beralas kain hitam di samping sesajian tepat di bawah pohon beringin.
Dia tau bayi itu di incar makhluk halus yang telah di persembahkan sebagai tumbal. Sems menyematkan dia sebagai anaknya. Dia benar-benar kasihan pada bayi itu hingga meminta pada dukun yang dia datangi agar menggantikannya dengan dirinya.
“Mbah, aku mau anak ini engkau adopsi. Biarlah setan atau makhluk yang mengincar di gunung Keramat mencari ku___”
Sepulang dari rumahnya, Sems di kabarkan mengalami kecelakaan lalu lintas. Gayung tau kematiannya akibat ulah jin pesugihan yang semula menginginkan bayi laki-laki yang ada di tangannya. Sebelum kematian Sems, dia meletakkan bayi itu di atas meja ritualnya. Tangisan reda dengan sendirinya, dia menahan haus dan lapar. Hingga selesai kabar kematian Sems, bayi yang malang itu mulai merasakan kehangatan air susu formula, selimut yang hangat dan tidur yang nyenyak dari beberapa bantal guling kecil yang memeluknya.
Rode berhati dingin, mementingkan kesenangan pribadi. Dia sangat senang melihat makhluk yang di anggap sebagai boneka pajangan agar suaminya tidak mempermasalahkan kehamilannya. Hari demi hari di jalani, tetap saja gangguan aneh yang menakuti berasal di malam hari saat Rem menangis.
__ADS_1
“Hubungan ku dengan ibu semakin renggang. Aku tetap harus menanyakan pada ayah dimana ibu. Tidak biasanya dia tidak ada di rumah di waktu sore” gumamnya.
Tidak ada yang mengira keinginannya yang lain mencari tau siapa orang tua kandungnya yang tega meninggalkannya sendirian di dalam hutan. Tidak ingin menuntut atau kembali, dia tetap memilih Gayung dan Rode sebagai orang tuanya.
“Rem, lebih dekat lagi!! Hihih!” suara sosok jin merah menampakkan wujud. Rem berlari kencang kembali ke jalur awal mendaki.
Prok__
Pukulan topi yang terbuat dari bambu memukulnya. Pria yang menjaga di depan menunggu Gayung tidak kunjung datang malah mengusap dada melihat Rem kembali di depannya.
“Untung kau selamat dari gunung mematikan ini! Gunung ini bukan mainan! Kau harus menjalani tradisi dan mempunyai ilmu pegangan. Seperti ayah mu__”
“Maaf pak, saya akan kembali besok menjemput ayah..”
Di dalam rumah, dia mencari petunjuk mengenai siapa dirinya sebenarnya. Jati diri dan asal mua asal dirinya yang terbuang. Ibunya kalau lagi bertengkar dengan ayahnya sering menyebutkan kalau dia adalah anak pungut dan anak iblis.
Rem tidak menyentuh bagian lembaran uang di dalam kotak penyimpanan, perhiasan atau benda berharga lain. Dia hanya mengambil sebuah alamat desa di kaki bukit dan lokasi persis dimana dia di temukan. Foto dokumentasi lama yang menunjukkan seorang pria memakai pakaian petugas kepolisian menggendong seorang bayi laki-laki.
Di balik foto usang, nama tertulis Sams. Dia mengambil foto, di dalam kain penutup hitam tertulis tulisan gunung keramat menggunakan seperti tinta cat berwarna merah. Rom meraih tasnya memasukkan beberapa botol air sebagai stok selama perjalanan.
Di tengah malam dia berjalan tertatih mencari alamat yang dia tuju. Menunggu pagi di bawah halte yang tempat jalur bus berhantu. Rem tidak mau mengambil resiko bergelayut dengan para makhluk yang bercampur dengan manusia ikut menunggu di halte. Dia menahan rasa kantuk meneruskan langkah berjalan hingga sesekali terjatuh karena mata terlalu berat terbuka.
Dia tertidur di tepi jalan, rerumputan basah sama sekali tidak dia rasakan. Selama satu jam dia tertidur, tangan dingin menyentuh membangunkan. Jin merah merayunya agar mengikutinya. Dia tidak bisa leluasa menarik atau membunuh manusia yang ada di hadapannya. Gayung memberinya jimat penjagaan dan minuman yang berisi mantra.
__ADS_1
Sosok lain yang selalu menjaganya merasuki terkadang mengubahnya menjadi sosok berbeda. Rem mengerang mengeluarkan kuku panjang berwarna hitam. Dia membalas tatapan mata jin merah. Perlahan sosok itu menghilang dalam kabut putih yang mulai merata.