Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Ada yang mati


__ADS_3

“Kau telah melanggar perjanjian Hendro!”


Perkelahian keduanya di lihat Kantil yang bersembunyi di balik pohon. Capit berubah menjadi sosok hitam berbulu yang menjulurkan lidah. Dia mencabik tubuh Hendro, melihat ayahnya telah meninggal. Dia menangis menahan jeritan, Capit menguyah organ tubuhnya, penampakan sosok lain ikut mengeroyok mematahkan tulangnya.


“Hahhh..”


Suara-suara mengerikan membuat dia ketakutan. Di belakang muncul Capit menjambak rambut lalu menyeretnya ke dalam gua. Bob dan Santi memukul Capit tapi tubuh pria setengah siluman itu membalas serangan sampai keduanya terbanting ke pohon.


Bambang membantu Kantil melarikan diri, sosok Capit mengejar di hadang Santi menyodorkan batang pohon besar ke arahnya.


“Bob! Cepat bawa Kantil! Biar aku yang yang menahannya!”


“Santi, aku akan kembali, bertahan lah!”


Bob menggendong Kantil pergi, sedangkan Bambang yang tidak tega meninggalkan Santi sendirian memilih membantunya.


“Pergi mbang! Kau tidak sekuat aku! Arghh!”


“Jangan kau anggap aku sebelah mata! Disini sku tetap yang disebut seorang pria!”


Bambang memukul kepala Capit, dia menahan gigi yang akan menancap ke tubuh Santi tapi Bambang menghalangi dengan menahan tangannya.


Clap__ tangannya putus, di tarik paksa rahang setan. Bambang menjerit kesakitan, suaranya menerbangkan burung-burung hingga terdengar di segala sudut hutan. Santi tidak suka ini, cara si Bambang yang mendahuluinya menyerang si pria kanibal.


Melihat tubuh Bambang di cabik Capit, sosok pria lain yang berpakaian hitam menarik usus Bambang yang terburai. Dia berlari menjauhi, mencari Kantil dan Bob sambil sesekali menoleh ke belakang.

__ADS_1


“Kalian tidak akan aku lepaskan! Arggh!” Capit kerasukan.


......................


“Suara apa itu nek?” Tanya Kemuning yang memegangi neneknya menyeberang sungai.


“Sosok manusia iblis, jangan pernah menoleh ke belakang. Tetap pegang tangan nenek..”


Menggiring cucunya masuk ke dalam pos satu, entah dari mana sang nenek mendapatkan lilin dan pematik. Sebelum keluar, dia membersihkan bagian sudut ruangan, mengalasi dengan sarungnya. Tatapan mata nenek hari ini lebih menyeramkan, lingkar bagian bawah kelopak mata lebih menghitam. Dia menutup rapat empat jendela yang berukuran kecil dan pintu.


“Kemuning, jangan keluar sebelum nenek menjemput mu. Mengerti?”


“Ya nek..”


Pintu terbuka lagi, nenek memeluknya sebelum pergi. Matanya berkaca-kaca meminta cucunya agar menuruti permintaannya. “Apapun yang kamu dengar di luar, jangan buka pintunya.”


Aroma nenek mirip bau khas tanah yang kering yang tersiram air, dia berjalan keluar. Langkah tidak terdengar, seperti yang di katakana neneknya jangan pernah membuka pintu. Teriakan suara nenek, para sahabat dan kini dia mendengar jeritan kedua orang tuanya. Bergerak mengintip mencari sela rongga yang bisa melihat keluar. Ketukan pintu yang keras mengagetkannya, dia menahan pintu dengan tubuhnya. Ayu muncul membantu menopang, dia menutup mulut Kemuning agar jangan mengeluarkan suara.


......................


Kehidupan lain dalam pergantian dimensi, makhluk-makhluk kesenangan merasakan daging segar manusia. Daging yang sengaja di persembahkan sebagai bahan ritual pesugihan. Pohon beringin tua sebagai pintu tembusan mengeluarkan tangan-tangan jin mengambil makanan. Akan tetapi disini makhluk yang lebih ganas yaitu manusia setengah jin jahat berilmu iblis. Mengambil darah daging manusia.


Bob menyenderkan Kantil di bebatuan yang berlumut, mereka berhenti melihat gubuk dari kayu. Bagian depan ada obor yang menyala, Kantil melarang dia menuju kesana. Dia merasakan aura ghaib yang sangat besar.


“Aku sering melihat cara ayah menggunakan ilmunya, aku sering membaca mantra dan mempelajari ilmu perdukunan dari cara-cara yang di lakukan ketik di dalam ruangan khususnya. Gubuk itu mirip seperti tempat ayah melakukan ritual. Ada benda-benda klenik yang mirip seperti punya ayah”

__ADS_1


“Kalau gitu biar aku saja yang memastikan”


“Jangan Bob, kehadiran mu akan di ketahui mereka.”


Santi berlari ke gubuk itu. Saat Bob akan menariknya agar menjauh, muncul sosok anak kecil membuka pintu. Wajahnya pucat, menarik Santi masuk ke dalam. Bob perlahan melihat dari celah luar. Santi sedang duduk menghadap si anak kecil sambil meneguk minuman darah. Dia memuntahkannya lalu berteriak minta tolong. Bob mendobrak pintu, sosok anak kecil berubah membesar mencabik-cabik perut Santi sambil menatapnya.


“Kakak mau? Nah, ahahah!”


Bob berlari secepat kilat menggendong Kantil, keanehan tubuhnya sangat berat dan dingin. Nafasnya memburu, dia baru menyadari bukan menggendong Kantil melainkan sosok anak kecil tadi.


“Ahaha, haha” tawanya melengking keras.


Kantil bersembunyi melihat Capit berjalan membungkuk, suara ranting yang terpijak mengalihkan pandangan mengejar Kantil. Bob menghalangi Capit, kali ini dia memukul kepalanya tanpa henti hingga pecah. Tubuh si dukun seperti lintah penghisap yang tetap hidup walau anggota tubuhnya terpisah atau terluka parah. Darah yang keluar dari lukanya tidak menghalangi Capit menghabisi korbannya. Dia tidak sabar melahap organ tubuh. Kantil di gendong Bob bersembunyi sambil menahan bekas gigitan Capit yang mulai membuatnya kehilangan kesadaran.


Bob menggigil kedinginan, Kantil menyentuh dahinya yang terasa panas. Sisa mantra penyembuh terletak pada darahnya sendiri, dia ingat dan menghafal semua hal yang di lakukan ayahnya. Melihat luka cepat Bob menjalar membusuk di bagian lengan, dia mulai menutup mata mengingat bagian mantra. Kantil lukai pergelangan tangannya sendiri dengan ujung batu yang keras, dia meneteskan darah pada luka. Mantra yang terucap fasih dia katakan sebanyak dua kali. Perlahan luka mengering mengisap darahnya.


Anyir aroma darah Kantil dirasakan Capit, dia berlari merangkak sampai tiba di atas pohon mengincarnya.


“Capit! Aku tau kau menginginkan ku! Jangan sakiti Bob” ucapnya mengulurkan tangan.


Bob membuka mata melihat Capit mengigit leher Kantil membawa pergi. Dia tidak dapat mengejar, tubuhnya lemah tidak berdaya. Mendapatkan makanan segar kedua kalinya, kali ini daging Kantil terasa getar hambar bunga kantil. Begitu pula dengan darah yang di serut. Sesuai dengan namanya, Hendro membenamkan ilmu penjaga dan mewajibkan mengkonsumsi tiga kuntum bunga kantin setiap hari.


Kantil berubah wujud menjadi sosok jin menyerupai kuntilanak, dia mencekik Capit, membanting tubuhnya seperti yang dia lakukan pada ayah dan teman-temannya. Dengan wujudnya yang sekarang, dia mudah menghabisi si dukun mayat hidup setengah iblis. Keris tertusuk di jantungnya, dia juga membakar si dukun di atas meja ritual. Suara kesakitan, tubuh yang terbakar mengeluarkan makhluk hitam bergentayangan.


“Mati lah kau Capit!” sosok Kantil puas menghabisinya.

__ADS_1


Anak dan suaminya telah meninggal, Sumiati berhasil menemukan mayat keduanya di bantu tim SAR dan kekuatan ilmu yang di turunkan suaminya semasa dia hidup dahulu. Tangisan memeluk kedua jasad yang tidak utuh, dia menyesal mengijinkan Kantil naik gunung. Ada Hamza dan Jayen yang hadir tidak sanggup melihat keadaan dua jenazah yang sama-sama kehilangan organ tubuh dan sepasang mata yang tidak mau tertutup.


__ADS_2