Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Dendam


__ADS_3

Terbangun merasa ada yang menyentuh perutnya, dia ketakutan di sadarkan mbok Mijan. Melihat ada seorang wanita tua di sampingnya memakai pakaian dokter. Mijan mengarahkannya kembali berbaring,dia selalu tersenyum lebar mengusap kepalanya.


“Tenang, ada si mbok non..”


“keadaan ibu dan bayinya sehat-sehat saja, tapi tidak boleh stress dan selalu mengkonsumsi makanan bergizi. Mbok Mijan, saya pamit.”


“Terimakasih dokter Tira..”


Berpikir dari mana si mbok membayar, dia mengambil dompet memberikan sisa uang yang dia miliki. Tapi si mbok menolak dengan mengatakan semua pengobatan dan fasilitas gratis di berikan tuan Capit setelah mengetahui kedatangannya.


“Mbok, kenapa saya nggak melihat mbak Suratmi dan Jaja?”


“Oh itu, mereka lagi liburan ke luar kota non. Ada urusan, bulan depan juga pulang. Jangan lupa di minum tehnya ya, si mbok mau ke belakang..”


“Ya mbok terimakasih.”


“Nggak perlu selalu mengucapkan terimakasih, ini sudah menjadi tanggung jawab si mbok.”


Enil duduk di sofa, dia melihat adukan bentuk sendok berwarna hitam legam seperti habis terbakar. Dia meneguk minuman sampai habis, Enis melihat Karyo berdiri meringis, tubuhnya penuh luka. Dia menjerit minta tolong menarik kepalanya sampai terlepas.


“Arghh! Mas Karyo!” dia berlari ke kamar melihat Karyo sedang mengemasi pakaian.


“Mas kamu nggak dengar aku teriak tadi? Terus ini kenapa di kemas?”


“Kenapa kalau aku bersih-bersih? Nggak boleh? Lagian kamu kenapa teriak?”


“Itu tadi aku lihat kamu penuh darah, terus kamu lepasin kepala kamu mas!”

__ADS_1


“Udah jangan ngomong ngaco deh mana ada hantu. Sana masakin aku laper! Si mbok aneh itu masakannya selalu hambar. Bosan aku makan telur, lama kelamaan bisa bisulan!”


Melawan rasa takut sendirian, dia ke dapur membuka kulkas mencari bahan makanan. Hanya ada telur dan sebuah bungkusan hitam di dalam freezer. Dia membuka isinya, ada beberapa potong hati segar yang sedikit bau busuk.


“Mas, di kulkas Cuma ada telur sama hati yang udah nggak bisa di masak lagi,. Aromanya udah beda.”


“Aku mau semua hati itu kamu masak, terserah mau di apain. Cepat aku laper banget nih!”


“Kamu yakin mas__”


Ucapan Enil berhenti melihat Karyo memelototinya, sikap kasarnya di tutupi. Enil membutuhkan dan sangat berharap dia mau menerimanya. Enil mulai membersihkan hati sambil menahan rasa mual. Tidak ada minyak goreng yang tersedia. Dia merebus hati, menunggu air mendidih di lanjutkan mencari bumbu di dalam lemari. Tidak ada bumbu dapur yang tersedia, dia mencari di bagian lemari paling bawah menemukan sebungkus plastik garam.


Sepiring nasi dan hati rebus, Karyo melahap sampai habis. Selesai makan dia meninggalkan meja begitu saja Berjalan mencari sinyal, dia mengangkat hand phone sampai mendekati hutan. Karena sinyak tidak kunjung terlihat, dia meraih kunci mobil melajukan mobil keluar gerbang. Berjarak dua kilo meter, dia berhenti mendapatkan sinyal. Uang yang di janjikan ibu mertua tidak kunjung dia dapatkan, merasa sangat kesal hingga memaksa supaya segera mentransfernya dia mulai mengancam akan meninggalkan Enil begitu saja.


“Pokoknya kalau besok ibu nggak mengirimkannya maka aku akan pergi.”


“Hih.. jangan dekati aku!”


Karyo menyalakan mesin memutar balik menuju ke rumah Capit. Dia mulai keanehan di sekitar rumah tidak ada satu pun tetangga atau orang-orang yang lewat. Lampu rumah padam dan jalannya sepi. Memarkirkan mobil di dalam garasi, dia melihat si mbok berjalan kea rah belakang rumah. Mengikuti apa yang di lakukannya, si mbok meletakkan Nampak lebar di dekat kuburan.


Setelah dia pergi, Karyo mendekati melihat benda-benda klenik di samping makam Dia mulai mencurigai wanita itu. Berjalan mengintip melihat kamarnya, dia melingak-linguk masuk. “Tuan ngapain di kamar saya? Nona Enil kesepian, temani dia.”


“Saya tadi cari tikus besar mbok. Hehhh..”


Karyo berlari ketakutan hingga dahinya terbentur pintu, badan tersungkur menopang kursi di depannya. Nafas memburu, menoleh ke belakang memastikan si mbok tidak ada. Dia menunjuk tanpa mengeluarkan suara.


“Ada apa mas? Kamu dari mana saja?”

__ADS_1


Dia mengguncangkan tubuhnya, membantu berdiri tegak berjalan ke kamar. Pria yang tidak memperdulikan wanitanya sedang mengandung itu tanpa memiliki hati menyuruhnya mengambilkan segelas air. Dia juga meminta memijit tubuhnya, sampai satu setengah jam berlalu dering suara ponsel menghentikannya. Enil curiga dengan siapa dia berbicara, langkahnya perlahan menguping dari balik lemari.


“Ya ma aku tunggu hari ini. Iya mama tenang aja aku jagain si Enil kok. Yang penting mama kasih akau duit."


Aryo menutup telepon dengan gelak tawa, dia mengepal kedua tangan ke atas langit ruangan. Dia sangat bahagia karena beberapa jam lagi mendapatkan uang yang banyak. Tangisan Enil tidak pernah menyangka pria yang dapat menerimanya hanya berpura-pura. Dia menampar Aryo, semula dia belajar menjadi wanita menurut patuh terhadap pria yang akan menikahinya. Ternyata semua itu kebohongan belaka.


“Jadi ini tujuan mu mas? Di belakang ku, kau minta uang mami! Aku pikir kau tulus mencintai ku”


“Ahahah cinta? Kau pikir aku mau menerima anak itu?”


“Sekarang kau pergi dari sini Aryo!” bentaknya menggerakkan tangan mengusir ke pintu.


“Tenang Enil, aku__”


“Pergi atau aku akan membunuh mu Aryo! ARghh!” suara teriakan Enil mirip suara hantu.


Aryo terkejut melihat perubahan Enil yang menyeramkan. Tanpa meminta maaf atau menahan diri mengingat wanitanya dia benar-benar pergi melajukan kendaraan berkecepatan tinggi. Suana di perkampungan itu tetap aneh tanpa ada warga yang lewat. Di depan ada penghalang jalan. Dia mengerem mendadak, mobilnya berputar membanting stir menabrak pohon bagian sisi kiri.


“Sialan! Uhuk” pelipis Karyo berdarah.


Dia keluar dari mobil, menjauhkan pembatas batang pohon dan tali hitam berwarna panjang. Banyak lonceng diantara tali terdengar nyaring. Dari belakang pukulan si mbok membuatnya pingsan, wanita itu menyeret ke dalam gudang. Sebuah tempat yang dahulu di gunakan Capit melakukan ritual sesajian. Saat tersadar Aryo memperhatikan ruangan asing yang mengerikan. Kerangka tulang, meja panjang yang berisi benda-benda perdukunan dan bakaran kemenyan. Si mbok membuka kain yang menutup mulutnya, dia tersenyum lebar lalu melipat kedua tangan.


“Aryo, bagaimana rasanya disakiti?”


“Wanita tua gila, cepat lepaskan aku!”


“Ahahah, bukan kah kau yang lebih gila dari ku? Kau hanya memuaskan nafsu syahwat mu dan mau menerima uang dengan cara apapun. Bagaimana jika gantian perut mu yang berisi? Biar aku praktekan, aku sudah lama tidak mencoba kekuatan ku! ahaha!”

__ADS_1


__ADS_2