
Bela tidak sanggup lagi menahan sakitnya, lukanya mulai berbau busuk. Dia menangis berharap ada yang mengakhiri penderitaannya. Suara tawa jin merah menggema di tambah angin yang berbisik tanpa menerbangkan sehelai dedaunan. Antara sadar dan tidak, di depannya berdiri sosok makhluk merah. Gigi taring menjuntai panjang, jari jemari panjang runcing berbunyi menyentuh tangannya.
“Siapa kau? Jangan dekati aku!”
“Hihihi.. Tina. Ayo raih tangan ku, kau akan terlepas dari penderitaan ini. Hihihi..”
Tawa jin merah menunggu menerima uluran tangannya. Bela terpaksa menerima tangan si iblis. Dia hanya berharap terlepas dari jeratan yang menyiksanya. Penerimaan tanda kesepakatan menambah kegirangan tawanya. Jeratan di kakinya terlepas. Tina berusaha menggerakkan kakinya berlari pincang mencari jalan keluar.
Melihat asap yang menyala dari sisi barat, dia mempercepat gerakan mengikuti sampai berhenti di depan tenda. Tubuhnya yang tidak kuat lagi berdiri, kepalanya yang terasa sangat pusing. Bela tidak sadarkan diri di temukan teman-temanya. Kembalinya Bela masih menjadi teka-teki melihat pergelangan kaki kanannya yang terluka parah.
“Siapa sosok hantu yang menolongnya?” gumam Kemuning merasakan aroma busuk dan bekas hawa setan.
Bayangan yang bersembunyi di balik pohon dekat tenda, Kemuning melihat kepergian jin merah terbang menoleh melihatnya.
“Semoga saja Bela tidak terperangkap si iblis” gumamnya melihat sosok tersebut terbang mendekati Bela.
Bela di rebahkan di depan tenda, beralas tikar, mereka mulai membersihkan luka. Filza yang tidak sanggup mencium bau busuk itu segera berlari mengeluarkan isi perutnya. Suara tawa yang tidak jelas asalnya terdengar keras. Darah Bela tiba-tiba berhenti, sosok jin merah membantu mengobatinya walau dia tau Kemuning melihatnya menyentuh kakinya dan menjilati darah dengan lidahnya yang sangat panjang.
“Kemuning. Aku akan tetap menunggu keputusan mu. Bukan kah nenek mu menghilang dengan Sintya! Hihihh!”
Situasi sedikit mereda, mereka berkumpul di depan tenda menatap bakaran api. Meneguk air hangat dan menikmati jamur hutan sebagai pengganjal perut. Hantu Ayu menuntun Kemuning mendapatkan jamur-jamur yang mereka konsumsi. Di kejauhan, Sintya mendengus mencium bekas darah Bela.
“Sintya, kembali menikmati tubuh wanita yang di dalam hutan. Kenapa kau malah repot-repot memangsa yang lain?”
“Aku tidak akan melepaskan manusia itu! Dia banyak mengetahui hal rahasia hutan ini.”
......................
Edi mulai mencari petunjuk sedang Bon berjalan ketakutan mengambil beberapa gambar. Pria yang tua menyentuh pelan pundaknya. Dia terkejut menjerit ketakutan melihat kedua kaki pria yang tiba-tiba mendekatinya menapak tegak di atas tanah. Sorot mata memperhatikan dari atas sampai bawah, di menariknya berjalan sedikit memasuki hutan.
__ADS_1
Di dalam suasana gelap, obor yang menyala di tangan kirinya memperlihatkan sepanjang jalan memasuki hutan mirip lautan mayat. Dia gemetaran mengambil beberapa foto lalu meminta di tuntun kembali ke Edi.
“Terimakasih banyak ya kek. Oh ya nama kakek siapa? Kakek tinggal dimana?”
“Pak Bon, habis dari mana? Semuanya suda beres. Kita ke perkampungan saja mencari informasi selanjutnya.”
“Ini ada kakek-kakek yang menemani saya pak. Disana ada banyak mayat, kita harus melaporkan ke polisi.”
“Kakek siapa? Saya lihat bapak berjalan sendirian.”
“Tadi ada kok disini. Hahh…”
Bon menunjukkan dimana tempat dia melihat banyak mayat. Tapi sesampainya disana tidak ada jasad yang terlihat. Penampakan kakek tadi juga menghilang. Gambar-gambar yang di ambil Nampak di tutupi kabut putih.
“Kakek itu hantu pak Edi! Ayo kita pergi pak!”
Banyak yang janggal, cerita menggantung, gangguan dan tragedi pembunuhan. Berhenti di salah satu rumah warga, mereka melihat perkampungan itu sangat senyap bagai tidak berpenghuni. Jalan lokasi yang sama pad kampong seberang yang telah lama mati.
“Pak Bon jangan buat saya makin takut dan bingung. Kita jangan berpikir aneh-aneh pak..”
Mereka mengetuk pintu menunggu si pemilik rumah membuka, mengamati di bagian samping rumah tersusun banyak boneka dan daging-daging mentah. Dari seluruh perumahan hanya ada dua rumah yang menyediakan benda aneh itu dan menyalakan obor di halaman rumahnya.
“Siapa kalian? Mau apa kemari?”
“Kami mohon ijin singgah pak. Saya juga mau mencari pak Kliwon atau pak Capit” jawab Edi.
“Gila kamu! Cari hantunya sana di gunung! Pergi!” bentaknya.
Bon menahannya menutup pintu, dia memohon berharap pria itu menerima kedatangan mereka. Pria itu tetap tidak bersikeras menutup pintu, dari dalam suara teriakannya mengusir keras. Suara pria itu bertambah besar menakuti Bon dan Edi yang berlari ke rumah lainnya.
__ADS_1
Kali ini ketukan pintu yang terbuka, penghuninya langsung mempersilahkan masuk. Rumah sederhana tanpa alas tikar. Cara jalan dan gerakan sangat cepat, dia menghidangi minuman panas yang mengepul berwarna merah.
“Ehem nenek ini baik sekali, eheh tau aja kami lagi haus” ucap Bon mengambil salah satu cangkir.
Edi menyenggol Bon, dia memberi kode isyarat yang di abaikan dengan balasan senyuman lebar. Di terima dan di ambut si pemilik rumah dari penatnya hari membuatnya sangat bahagia. Meneguk sesekali menghembus air. Tanpa teras tetesan terakhir itu malah membuatnya semakin merasakan dahaga.
“Pak Ed minuman bapak buat saya aja ya”
“Ya pak habisi saja”
“Sebentar biar mbok ambilkan lagi” ucapnya berdiri ke arah dapur.
“Nggak nek jangan repot-repot, saya tidak haus nek”
“Pokoknya kalian wajib minum!” ucapnya membentak.
Wajah si nenek memerah, ada darah yang keluar dari kepalanya. Edi menarik Bon keluar, pintu terbanting keras menahan mereka tidak bisa keluar. Edi melompat dari jendela, menarik Bon agar ikut cepat melompat. Cengkraman kuat nenek tersebut memegangi kakinya.
“Pak Ed tolong aku pak! Argh!”
Bon kesakitan, kakinya di makan wanita tua itu bagai manusia predator. Edi menarik paksa menjerit melihat kedua kakinya yang terputus. Dia mengerang mengesot di tarik nenek yang berubah wujud menjadi monster.
Edi berlari meninggalkan Bon habis di mangsa. Dia berjalan di lintas jalan menghentikan pengendara yang melintas. Ketakutannya masih terasa mendengar suara jeritan Bon yang menerbangkan burung-burung yang berterbangan.
“Ada apa pak? Saya kira tadi bapak hantu” ucap si supir.
“Saya detektif yang di tugaskan menyelidiki kasus orang hilang di kaki gunung keramat. Teman saya di makan nenek-nenek pak. Hih” dia masih tidak tenang beberapa menit menoleh ke belakang takut di kejar.
“Duh, kita lapor polisi juga belum ada kabar apapun. Masalah baru yang satu ini sudah tidak bisa di toleransi lagi pak. Apa kita putar haluan saja memastikan bagaimana teman bapak?”
__ADS_1
“Ti_ti_tidak pak.”
“Saya kenal nek Mijan pak Edi, dia lah yang membantu saya sehingga mudah keluar masuk kaki gunung tanpa hambatan. Saya mendapatkan kekayaan pak. Ahahah”