
Tidak ada jalan kembali untuk manusia peminta pada iblis, kesesatan nyata tanpa ingin bertaubat dan menyadari semua hal yang merugikan dirinya sendiri dan membawa keluarganya dalam kehancuran.
...”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr)....
Anaknya bukanlah calon tumbal berikutnya, dia memberikan semua hal yang di minta untuk pesugihan yang di puja. Di dalam sana jiwa dan tubuh anaknya terkurung. Tangisan Uli meraung keras, dia melempari pohon meminta anaknya di kembalikan. Pudin melarang istrinya yang tampak sudah gelap mata.
“Jangan ambil anak ku! hiks!”
“Tenang bu, kita harus minta bantuan pada pak Capit..”
Anak yang di paksa kembali, di campakkan keluar dari dalam pohon. Tubuhnya penuh lendir, berdarah menyengat bau bangkai sampai matanya tertutup darah kering. Capit si dukun sakti benar-benar memiliki kekuatan yang ampuh. Dia bisa mengabulkan keinginan mereka dalam waktu satu jam.
Tapi, sosok yang telah pulang itu hanya berwujud tubuhnya saja. Sukmanya di kunci di dalam pohon, iblis tidak mau memberikannya karena orang tuanya menumpahkan sesajen dan melanggar semua persyaratan di awal dan akhir tahun.
“Hiks, akhirnya anak kita selamat pak. Ayo kita bawa pulang pak..”
“Tapi bu, pak Capit bilang kalau anak kita harus tinggal di dalam hutan untuk sementara waktu”
“Apa? Jadi bapak setuju begitu saja? Anak kita harus tinggal di tempat angker ini sendirian? Nggak pak, ibu akan membawanya pulang..”
Bisnis yang berkembang menumbalkan staf pegawai dan karyawan berganti jadi tumbal pada anaknya sendiri. Keinginan iblis pemuja jin pesugihan yang mencium darah segar dari Desi, dia di bawa iblis di gunung keramat. Anak perempuan yang sangat mereka sayangi itu di rawat sebaik-baiknya di sebuah ruangan khusus yang di sediakan perawat pribadi dan kelengkapan lainnya.
__ADS_1
Wajah Desi tidak memperlihatkan wajahnya yang imut atau pipinya yang biasa merah merona dalam senyumannya yang selalu memeluk ibunya. Setelah pulang ke rumah dan membuka mata, tatapannya penuh amarah. Wajahnya lebih memucat dan tirus, lingkar menghitam, bibirnya menghitam pula. Perawat yang berjaga kali ini meminta ijin mengundurkan diri dari pekerjaannya. Mereka menahan bekas luka akibat di gigit Desi, luka yang semakin sakit mengeluarkan darah hitam. Saat berada di luar pintu untuk pergi, perawat baru itu meninggal dengan tubuh hitam legam.
“Ini bukan kasus pembunuhan manusia tapi tersangkanya adalah setan” bisik seorang pekerja.
“Jangan asal ngomong pak. Nanti kalau di dengar tuan bagaimana.."
Bisikan para pekerja yang sering membicarakan keanehan di tempat kerja mereka dan semua hal yang berkaitan pada keluarga Pudin. Fara mendengar pembicaraan mereka dari balik pintu. Dia berjalan memperhatikan apa yang sedang di lakukan ayah tirinya itu. Kegiatan yang tidak wajar Pudin mulai di amatinya. Dia bersembunyi selama berjam-jam di dalam lemari pakaian demi melihat kegiatan malam yang sering membuat bulu kuduknya berdiri.
Tepat di tengah malam, dia membuka sebuah pintu yang bersembunyi di balik lukisan besar. Gambar pajangan keluarga yang lengkap itu hanya sebagai pajangan belaka. Ada rahasia di balik dinding itu. Sebuah tempat yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
Masuk mengikuti lorong sempit kedala, tubuhnya hampir terjepit setiap dinding yang bergeser sendiri. Dia bersembunyi di antara tirai hitam yang membentang. Aroma menyengat hampir membuat dia bersin dan terbatuk. Mengatur pernafasan, menahan semua hal agar tidak ketahuan, Tubuhnya lemas melihat Pudin berlutut membenturkan dahinya di depan patung aneh yang berada di atas meja.
Benda mati itu mengeluarkan cahaya merah, ada hewan-hewan kecil menggeliat di bawahnya. Pudin mengambil seekor hewan, menelannya lalu mengeluarkan suara yang membuatnya ketakutan. Dia berbalik keluar, tangannya menabrak lampu meja. Jalan merangkak bersembunyi di bawah anak tangga.
“Sayang, kamu kenapa nak? Kenapa banyak sekali darah di tubuh mu”
Uli tidak melihat sedikitpun luka di tubuh anaknya.
Pudin mengangkat Desi ke dalam mobil di ikuti Uli sambil membawa tas dan bngkusan plastik. Karena terlalu panik, Uli tanpa sadar menjatuhkan plastik hitam. Fara mengambil lalu berjalan masuk ke dalam kamar. Pintu dan jendela terkunci, dia memastikan lagi tertutup rapat lalu membuka isi bungkusan. Baju kotor yang di pakai Desi, rambut yang terikat, foto dan boneka aneh yang tiba-tiba tersenyum melihatnya.
“Arghh!” teriak Fara berlari meninggalkan kamarnya. Semua pintu terkunci, sosok hitam mulai mendekatinya. Dia menjerit di tarik masuk ke dalam ruangan ritual yang berisi patung iblis di balik lukisan kamar orang tuanya.
__ADS_1
......................
Masuk kembali ke area kaku gunung keramat di malam hari seperti mengantarkan nyawa. Mereka mengalami kecelakaan seperti menabrak sosok wanita yang berdiri di depan jalan. Uli tercampak, tubuhnya luka-luka hingga Pudin tidak kuasa menahan tangisannya melihat kepala istrinya pecah mengeluarkan darah bagai genangan kolam kecil berwarna merah.
“Mas, aku sudah di jemput makhluk itu. Jaga anak-anak kita.”
Tatapan mata Uli menatap ke sosok makhluk yang berdiri di belakang Pudin. Tangan bergetar, pria itu mengeluarkan Desi dalam mobil membawanya berjalan masuk ke hutan. Berteriak memanggil nama Capit yang enggan memperlihatkan diri. Dia takut anaknya kehabisan darah, berjalan menuju lintas jalan sambil menggendong tubuh Desi yang semakin berat.
“Ayah..” suara Desi menghentikannya.
“Nak, sabar ya ayah akan membawa mu ke Rumah Sakit.”
“Nggak mau, aku mau main sama kakak yang disana..”
Desi melompat dari punggungnya, dia berlari menghampiri sepasang mata yang menyala di dalam gelapnya malam. Pudin mengejar, dia tidak memperdulikan gangguan dan suara mencekam di hutan. Langkah terhenti melihat Desi berdiri tersenyum di depan pohon beringin tua tempat dia meletakkan sesajian.
“Kenapa kesini lagi? Aku sudah memberi mu tumbal. Para pekerja itu telah mati di tangan mu. Jangan ganggu anak ku!” ucap Pudin.
Dia menyalakan pematik membakar pohon, tapi api merambat membakar dirinya sendiri. Malam itu suara teriakan dan kematian yang menghampirinya di saksikan seluruh penghuni makhluk tak kasat mata.
“Ayu, manusia itu terbakar. Aku harus menyelamatkannya” ucap Kemuning melihatnya dari atas tebing.
__ADS_1
Hantu Ayu menahan, dia melarang mendekati manusia yang menemui nasib kesialannya setelah bersekutu memuja iblis. Sosok mengerikan menarik sukmanya dari dalam, tubuh hangus pria itu menyisakan tulang tengkorak yang tersusun di dekat pohon.
“Jangan pernah dekati pohon itu Kemuning. Makhluk yang sangat ganas itu akan membunuh mu.”