Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Nyawa di ujung tanduk


__ADS_3

Para penyembah setan tidak sadar menjerumuskan diri dalam lubang kehancuran.


Hubungan ibu dan anak yang tidak pernah harmonis karena bertentangan dengan hal-hal klenik yang di lakukan Hendro di tentang mentah-mentahan oleh Mindun. Dia tidak mau mencap anaknya sebagai anak durhaka, semula dia hanya mempelajari ilmu kejawen, tapi keserakahan ingin mendapatkan ilmu lebih sakti maka dia menggabungkan ilmu hitam dan melakukan persemedian ghaib. Hendro mendapatkan ilmu hitam sampai tubuhnya di duduki jin.


Antara ilmu hitam dan ilmu putih itu tidak bisa di gabungkan. Hitam tetaplah menjadi hitam dan putih tetap putih, jalan lurus dapat di lalui walau banyak rintangan menghadang. Celah batu, badai dan gangguan tidak bias menghentikan langkah tanpa hambatan buntu. Berbeda dengan jalan hitam yang memiliki buntu di dalam kesesatan. Orang yang melewati akan berhenti tidak mendapatkan titik penerangan.


Sepeninggal ibunya, Hendro tidak berhenti dari kebiasaan buruknya. Dia merasa mula mencari cara agar bias menghidupkan ibunya kembali dengan ilmu yang dia miliki agar bias meminta maaf dan memohon ampun. Kepergian mencari ilmu hitam dan benda ghaib di gunung keramat belum membuahkan hasil. Dia tidak akan mengira anaknya ada di daerah yang sama. Pandangannya buyar merasakan kalung yang telah dia isi dengan ilmunya berada di dekatnya.


“Kalung bandul hitam sebagai jimat penjaga anak ku, kenapa kekuatannya bias aku rasakan? Ada apa?” gumam Hendro menghentikan persemedian.


Di atas gua bebatuan, dia merasakan kekuatan yang sangat besar. Ada manusia jelmaan iblis yang ingin dia taklukkan menggunakan badan halusnya. Pandangannya terhentak melihat sosok yang menyerupai wujud ibunya.


“Ibu? Itukah engkau bu?” tanyanya dengan mengerutkan dahi.


Sosok itu menghilang, dia melihat Tama di kerumuni hewan-hewan melata masuk ke dalam rongga hidung, telinga dan mulutnya. Tama gagal melawan berbagai godaan jin, tubuhnya juga tidak kuat menerima kekuatan hitam yang menerjang masuk ke tubuhnya.


“Aku tau kenapa kau bisa tumbang, sebelumnya kau memakan sesuatu dari pasar hantu itu” ucap Hendro melanjutkan persemediannya.


......................


Empat sekawan itu tidak punya pilihan lain selain beristirahat di dalamnya, Bambang membentang karpet plastik yang dia bawa. Pintu peristirahatan sengaja di buka agar udara di dalamnya tidak terlalu menyengat bau amis.


Nyawa bakaran api di bagian depan perlahan padam terkena siraman air hujan. Hembusan angin dan suara petir kembali terdengar. Bambang ketakutan memeluk Bob, dia di sikut membuat Bob merasa rishi. Mengambil tempat posisi tidur di latar depan. Bob terkejut melihat ada bayangan orang berjalan di sampingnya.


“Siapa disana?” ucap Bob memeriksa, lampu senter yang padam semakin meyakinkannya kalau dia mulai di ganggu makhluk halus.

__ADS_1


“Jangan di hiraukan, anggap saja dia tidak ada” ucap Kantil menariknya masuk.


Kantil berdiri di luar, dia mendongakkan kepala membiarkan air hujan membasahi tubuhnya. Dia menatap langit, menghentakkan kaki sebanyak tiga kali ke tanah. Sosok makhluk yang mengganggu tiba-tiba menghilang. Hujan reda, ketika temannya melihat Kantil memakan bunga yang dia ambil dari sakunya.


Malam tenang tanpa gangguan apapun, Kantil bertingkah seperti dukun menjaga mereka hingga pagi. Bambang berpikir bunga kanti yang di bawa Kantil temannya memiliki kekuatan. Dia yang tidak tau bahwa pak Hendro adalah seorang dukun sehingga berpikir Kantil mendapatkan benda yang menjaga dirinya selama mendaki gunung.


“Dapat dari dukun mana tuh bunga kantil, jago banget!” gumam Bambang.


Mereka melanjutkan perjalanan sampai pada jembatan layang yang panjang. Melihat di bawahnya ada air jernih yang mengalir deras, Bambang memperhatikan Kantil melepaskan jaketnya, dia meraih jaketnya mengambil semua bunga Kantil di dalamnya. Total ada tiga lima bunga kantil yang dia curi, melihat sekitar tidak ada yang melihatnya. Dia memakan semua bunga, dia merasa mual sampai memuntahkannya.


“Rasanya getir, buat aku mual nggak berhenti memuntahkannya!” gumam Bambang berkumur-kumur di pinggir sungai.


“Bambang! Kamu dimana?” teriak Bob.


“Oi, gue di bawah. Sebentar lagi gue naik gais!” jawabnya.


Brughh_ “Aduh pantat gue!” ringis Bambang kesakitan.


“Bambang hati-hati dong kalau jalan. Kamu lihat bunga ku nggak?”


“Bunga apaan? Yuk naik ke atas, yang lainnya udah nungguin” ucapnya berpura-pura tidak tau.


Kantil melihat Bob dan Santi bersiap melanjutkan perjalanan, dia menoleh ke kanan dan kiri. Bambang menghilang tepat sebelum dia sampai.


“Loh Bambang kemana ya? Sebentar aku cari ke bawah”

__ADS_1


“Hati-hati, gue ikut deh!” ucap Santi berlari.


Bambang terbanting masuk ke dalam sungai, kakinya di tarik jin air masuk ke dasar. Dia tidak permisi memuntahkan benda mistis dan tidak pula permisi saat buang air kecil. Bunga kantil yang berisi jampi-jampi itu mengganggu ketenangan makhluk di dalamnya.


“Arghh! Bambang!”


“Kantil kamu kenapa?” Tanya Santi yang melihatnya menunjuk ke air.


Bob menyusul mendengar suara jeritan Kantil, mereka tidak melihat ada Bob di bagian sungai yang di tunjuk Kantil. Hanya Kantil yang bias melihat Bob di tarik jin masuk ke dalam air.


“Bambang meninggal, dia di ambil penghuni gunung! Kan aku udah bilang jangan ngikutin! Hiks” Kantil menyalahkan dirinya.


Di dalam benak, kalau teman-temannya tidak memaksa ikut pasti Bambang tidak meninggal. Bunga penjagaan ilmu dari ayahnya menghilang. Dia tidak tau lagi bagaimana meneruskan perjalanan tanpa benda itu. Yang tersisa tinggal kalung jimatnya, dia tidak mau Santi bernasib sama seperti Bambang. Santi adalah sahabat baiknya, dia meminta ketegasan agar Bob pulang sedangkan dia dan Santi melanjutkan pencarian sepupunya.


Kantil melepaskan jimat lalu mengalungkan ke Santi. Bob tidak menyetujui kemauannya yang terlalu memaksakan diri naik ke puncak.


“Kalian berdua wanita, jimat itu nggak bias buat jaminan kalian selamat dari hewan buas. Ya walau si Santi setengah pria tetap aja dia asalnya wanita!”


“Hei, kalau mau adu panco sekarang buat buktiin siapa yang laki disini?” ucap Santi menggulung lengan bajunya.


“Udah jangan rebut! Please Bob hargai keputusan aku!” ucap Kantil menarik Santi pergi meninggalkannya.


Bob mengikuti mereka dari jarak jauh, dia tidak sanggup meninggalkan mereka di hutan belantara. Gunung keramat terkenal keganasannya, dia rela kehilangan nyawa asal tetap melihat mereka selamat. Santi tau kalau Bob mengikuti mereka, tepat melewati pos dua. Suasana berubah ramai, para pendaki hantu muncul melakukan kegiatan perkemahan. Sosok wanita berwajah pucat tanpa bola mata menawarkan berbagi tenda dengannya.


“Ayo gabung di tenda ku..” ucapnya bernada menggema.

__ADS_1


“Nggak terima kasih kak, kami mau naik ke puncak. Kami permisi ya..” ucap Kantil sambil cengengesan.


__ADS_2