Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Risau


__ADS_3

Penelitian di wajibkan sesegera mungkin. Pon memberikan batas waktu lebih cepat, dia tidak memperdulikan keterbatasan kondisi dan semua resiko yang di tanggung para pekerja. Tawa lega Pon berganti teriakan melihat dua wanita yang tidak sabar dia bawa tidak lagi bernyawa. Organ tubuhnya hilang, darah tidak henti mengalir seperti air hujan membanjiri tanah sekitar.


Tenda basar, darah tersiram di bagian mata yang terlepas bergerak mendekati Pon. Dia berlari meminta tolong, memerintahkan para karyawan membakar tenda. Kobaran api semakin merebak, Pon menarik derigen berukuran sedang dari tangan pekerja.


“Pak, bukankah ada dua orang wanita di dalam sana? Kenapa bapak membakarnya?”


“Diam kau. Kalau kau buka mulut berarti kau tidak sayang nyawa mu!” bentaknya menarik jauh di balik pohon.


......................


Suara teriakan satu kampung terdengar kuat. Matanya sulit terbuka, dia berdiri melihat sang nenek tersenyum mengusapkan kedua telapak tangannya. Pesannya sebelum bangun di beri pesan agar jangan pernah mempercayai siapapun di hutan selain Ayu. Nenek juga menitipkan pada si hantu pendaki agar menjaganya.


“Nenek, jangan pergi! Tujuan terbesar Kemuning kembali ke hutan berharap ketemu nenek. Hiks, hiks”

__ADS_1


“Kemuning cucu ku, ada hal yang tidak manusia ketahui. Nenek berharap kamu selamat dimana pun melangkah pergi. Nenek akan datang, tapi tidak bisa sesering dulu, Saat nenek menjemputmu..”


Nenek mengarahkan Kemuning untuk duduk meluruskan kaki. Kemuning merintih kesakitan dan menangis. Kenzi meletakkan lagi dua selimut dan jaket miliknya. Letak tenda yang jaraknya dekat kobaran api membuatnya tidak tenang. Para karyawan berlari membawa air di wadah besar.


“Kemuning bangun!” ucap Ken.


Dia mengangkat Kemuning keluar tenda. Mastur mengarahkan jalan yang di tunjuk Pon ke sebuah rumah di tengah hutan. Tidak ada bangunan tegak mewah berdiri selain si pemilik Vila penyembah setan jin merah. Pintu terbuka sebelum Mastur menekan bel. Dia melihat Kenzi masih mengangkat Kemuning, tangannya di tepis gerakan Ken yang meletakkannya sendiri di sofa.


“Semuanya beres secepat kilat pak Ken. Pak Pon lagi ada urusan, lebih tepatnya mencari daun muda di kaki gunung. Heheh”


“Aku jadi hilang semangat meneruskan proyek ini. Tur, kamu jaga bu Kemuning. Tapia was ya kamu jangan macam-macam. Saya mau ke toilet”


“Beres pak! Heheh”

__ADS_1


Menunggu Kenzi berjalan menjauhi ruang tamu, dia mulai menyentuh wajahnya. Kelakuan aneh, pria itu mulai tersenyum memandangi tubuhnya. Si hantu penjaga datang menembus dinding, dia masuk ke dalam tubuh Kemuning. Matanya tiba-tiba terbuka melotot, tangan mencekik, tubuhnya terangkat ke atas sampai Mastur meronta-ronta.


Kemuning membanting ke lantai. Kakinya yang di perban berdiri tegak menendangnya ke ruangan lain. Dia meminta ampun, Kenzi berdiri tepat di bawah kakinya Nampak kebingungan melihat apa yang terjadi.


“Pak tolong saya. Bu Kemuning mau membunuh saya pak!”


“Dia sudah sadar? Kenapa dia bertindak seperti ini pada mu? Lihat lah kepala mu terluka..”


“Arghh! Argh! Sialan!”


Mastur berlari keluar mencari salah satu pekerja untuk membawakannya kotak P3K.


Di atas sofa, Kemuning masih pingsan. Ken menyentuh dahinya, panasnya hilang. Dari belakang sofa terlihat bayangan orang memakai tas langsung menghilang. Kemuning terbangun, nafasnya serasa renggang. Dia melihat ke langit-langit kemudian Kenzi yang duduk di sebelahnya.

__ADS_1


__ADS_2