
Dia itu wanita penyembah berhala. Hamza tidak tau dima memiliki saudara jauh dari pihak ibunya. Tidak pernah dia mendengar nama Zaqum. Menepis keraguan karena benar-benar melihat air mata yang terlihat tidak ada kebohongan sama sekali. Dia juga ikut prihatin dengan penyakit kanker kronis wanita yang membasuh air mata yang tidak berhenti.
......................
Kesungguhan jiwa yang membentang alam tidak kasat mata. Manusia yang tampak baik-baik saja. Kemuning belum mengetahui niat busuk mereka semua. Surat keterangan mengidap penyakit kanker hanya tipuan yang di buat demi mengelabuinya. Kenzi tidak tenang mencari dimana alamat Kemuning, dia terkejut mendengar kabar Kemuning yang mendaki ke Gunung setelah semua insiden yang terjadi.
Di dalam perjalanan panjang, mereka membuat kesepakatan tanpa sepengetahuan Kemuning melancarkan aksinya. Setengah perjalanan terhenti, pemuda yang membawa kemudi gusar keluar pintu sambil menendang ban mobilnya. Gerutu, amarah, omelannya ketidak sukaan dan semua tumpahan emosi.
“Kenapa Tong?”
“Gawat! Minyak kita habis!”
“Duh gimana sih! Kenapa nggak isi bensin dulu sih!”
__ADS_1
“Jadi gimana dong?”
Semua amarah terhenti dengan keputusan otong menyuruh mereka berjalan dengan membawa barang bawaan masing-masing. Sebagai pemandu jalan, dia berada di barisan paling depan. Tiba-tiba Kenzi tersandung batu. Dia meringis menopang batang pohon. Kemuning mengambil obat luka. Tangannya di tolakkan seorang wanita berambut pirang. Pakaian seksi memamerkan pahanya yang mulus. Lisptik berwarna hitam.
“Biar aku ajah” nada bicara ketus, mata tajam mengusirnya.
Kemuning tidak mau membalas perlakuan kasarnya. Bisa jadi wanita di hadapannya adalah pacarnya Kenzi. Dia menunggu di bagian sisi jalan seberang, Kenzi Nampak akrab memainkan ranting pohon mengganggu wanita tersebut. Meneruskan perjalanan kembali, tanpa melihat peta, kompas atau petunjuk arah. Tong seolah menghafal jalan pintas memasuki sebuah desa di kaki bukit.
“Yakin disini tempatnya?” gumam Kemuning merasa aneh pada tatapan para penduduk.
Semua orang yang melihat mereka berlari masuk ke dalam rumah. Tidak ada satu pun obor yang di nyalakan. Otong berjalan menyorot senter ke sebuah gubuk di dekat bagian ujung perumahan. Kenzi berbisik pelan, manik mata melihat kemuning lalu menganggukkan kepala.
“Kita bermalam di tempat ini saja ya.”
__ADS_1
“What? Kamu bilang kita mau ke Vila! Gimana sih Ken?” ucap Siy berjalan menjauh.
“Kita nggak ada pilihan lain Siy!”
“Siy tunggu!” Otong mengejar di ikuti Kemuning.
Mereka menghilang di dalam pepohonan, langkah Kemuning terhenti di kejutkan melihat pohon beringin yang di bawahnya terdapat sesajian. Dia tau pohon itu menandakan awal masuk hutan mendaki gunung. Kalau di hitung dari perkiraan perkampungan jaraknya masih sangat lah jauh. Suara panggilan Ayu, dia menunjuk ke gunung Keramat. Tiba-tiba Ayu menghilang, kedatangan Kenzi bersama sosok lain yang bersembunyi di belakangnya. Terpaksa Ayu merasuki Kemuning, demi menjaga keselamatan sahabatnya.
“Ayo, ngapain diam disitu?” ucap Kenzi berjalan mendahuluinya.
Kemuning tidak menjawab, di dalam tubuh ada Ayu berjaga-jaga melindungi sahabatnya dari gangguan jin merah. Tertinggal dari langkah Kenzi, tepukan Pundak Otong menyorot senter ke wajah Kemuning yang memucat.
“Kamu lagi sakit ya?” Otong menarik tangannya.
__ADS_1
“Tong! Kok kamu pegang tangan Kemuning sih!” bentak Nangah memukul keras tangan keduanya.
Seketika Kemuning tidak sadarkan diri, sosok Ayu keluar dari tubuhnya. Dia di rebahkan di atas bangku kayu panjang.