Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Pencarian ke Gunung Keramat


__ADS_3

Sampai saat ini banyak aliran sesat yang berselubung kebaikan atau mengunakan berbagai cara menipu agar masuk ke dalam lingkaran iblis. Pembantu kaki tangan iblis meluas, bisikan merayu dalam godaan yang datang silih berganti.


Udin terjerumus berpikir sosok yang mengaku-ngaku bisa membantunya itu dapat memberikan semuanya. Dia di ajak masuk ke dalam pohon, di bawahnya menebar darah hewan. Udin bukannya mendapatkan kemewahan atau kesenangan lainnya, namun malah mirip orang gila yang tinggal di hutan. Mencari makanan seperti hewan memangsa, tidak melakukan aktivitas wajar sebagaimana manusia normal lainnya.


Di dalam pos tidak ada bu Yahya maupun semua barang-barangnya. Kemuning berlari sambil memanggilnya, sosok hantu muncul di setiap rute menunjukkan jalan. Sesampainya di pos tiga, kemunculan sang nenek menghentikan langkahnya.


“Kemuning, jangan di cari. Wanita itu telah berpaling ke dalam kesesatan. Ingat la cucu ku, setiap kali engkau melewati jalur berlumut dan kabut. Maka langkah harus berhenti dan bersembunyi.”


Suara nenek terdengar semakin parau, nenek tidak rajin dahulu menemaninya mendaki. Dia lebih sering menghilang dan muncul saat malam hari. Hanya hantu Ayu yang menjaganya dan memperingatkannya.

__ADS_1


Kepulangan Kemuning kali ini di ikuti beberapa makhluk di gunung Keramat. Sosok Ayu juga ikut, dia memasang posisi berjaga melihat Kemuning setiap saat. Di kaki gunung, sosok manusia yang telah kerasukan itu akan memangsa. Udin mulai mengincar, dia melompat dari atas pohon. Nek Mindun hadir menampar wajahnya. Kemuning melihat jelas bagaimana sang nenek menghajarnya hingga babak belur.


Semula Kemuning meminta sang nenek mengasihaninya, tapi ketika nenek menghilang. Pria itu menindih tubuhnya, Kemuning merasa kesakitan. Dia meneteskan lender, mengarahkan giginya ke lehernya. Telapak tangan nenek yang tertancap kuat digigitnya.


“Udin, jangan sakiti anak itu Din. Sadar!” Manto ketakutan menyentuh tangannya.


“Lari Man!” teriak Beni meninggalkan kaki gunung.


......................

__ADS_1


Waktu berputar, kenangan, perjalanan hidup, perseteruan dunia lain. Kemuning seolah tetap melalang buana mengarungi dua alam ke alam gunung keramat. Kabar yang di terima bu Danang mengakibat penyakit lamanya kambuh. Dia yang memiliki riwayat lemah jantung jatuh terkulai lemas tidak berdaya.


“Bu Danang, ibu kenapa bu” salah satu baby sister menemukannya pingsan.


Anak dan menantunya menghilang di gunung, kelima cucunya menjadi yatim piatu. Setelah siuman, dia tetap tidak patah semangat melakukan pencarian meminta kepada pihak yang berwajib, detektif dan para tim pendakian. Mendengar kabar ibunya menghilang, Sintya pulang dari luar kota menanyakan dimana alamat gunung yang di daki orang tuanya.


Surat cuti panjang dan persiapan mendaki gunung maksimal, dia hanya menunggu alamat dari neneknya. Danang tetap bersikeras tidak mengijinkan cucunya pergi.


“Nek, walau dia ibu tiri ku. Tapi dia telah berjasa merawat ku dan menyekolahkan ku nek. Terlebih lagi aku harus bertanya pada ayah, dimana ibu sekarang berada”

__ADS_1


Wajah harapan Sintya membuat Danang merasa kasihan. Dia setengah hati memberikan alamat di dalam sobekan selembar kertas. Sebelum pergi, dia meminta Sintya membawa gunting hitam miliknya. Sintya tau gunung itu banyak menyimpan tragedi. Dia menetapkan hati dan pikiran untuk mencari kedua orang tuanya.


__ADS_2