
Jadi pemeran antagonis itu tidak di sukai banyak orang. Mulut yang terlalu berkoar-koar, menunjukkan dia lebih berkuasa di atas segalanya. Ini bukan tentang tingkatan hidup, atau status tinggi sehingga bisa menjatuhkan sesama manusia.
Permainan meminta pada sesama manusia. Dukun sakti sekalipun tidak dapat membunuh nyawa manusia. Jalan yang di tempuh Sams demi menghidupkan bayi yang tidak berdosa. Dia menggantikan nyawanya, namun tidak ada yang mengira kematian yang dia palsukan demi menjaga agar bayi yang dia beri nama Remoy agar tetap aman.
Nama yang tertulis di selembar kertas itu dia temukan di balik selipan buku usang. Ayah kandung sebenarnya ingin membunuhnya. Mantra di dalam buku sebagai tanda dia akan di korbankan di makan setan.
Tangan Rem bergetar, dia menahan tangisan membongkar semua benda di dalam rumah peninggalan Sams. Dia menemukan alamat yang terlipat di kertas setengah hangus. Rem menyalakan mata memerah, meneruskan langkah mencari dimana lokasi tersebut. Perjalanan semakin jauh, dia menepikan kendaraan membeli sebotol air.
Air di teguk tidak terasa menghilangkan dahaga. Dia tidak lagi merasa tegukan, tetap saja dia merasa kehausan. Selama berjam-jam berdiri di depan gerbang yang menutupi akar menjalar. Rerumputan gersang, semak menutupi. Dari luar melihat bangunan megah yang terlihat
......................
Gege menjalani perjalanan teramat panjang. Di dalam lelap melihat sosok pria yang di sampingnya berubah sosok wanita kecil yang tuan berwajah mengerikan. Bagian pergelangan tangannya busuk, ada cacing tumpah berjatuhan memenuhi kursi. Ge melompat ketakutan, gerakan reflex menghentakkan tubuh terbangun melihat di sampingnya seorang pria tua yang tertidur memperlihatkan rahang terbuka.
Dia baru tersadar posisi duduknya membelakangi supir, Ge mengangkat tubuhnya lebih mendekati jendela. Dia mengusap kaca, di luar suasana kabut putih menutupi jalan. Ge menahan haus dan lapar, dia melihat jarum jam di tangannya mati.
“Hati ku tidak menentu, aku sangat mengkhawatirkan anak ku!” batin Kesya di dapur.
Jarinya teriris pisau, dia sedikit meringis mencuci luka. Tetesan betadin di tambal plester penutup luka. Dia menelepon Ge, akn tetapi nomornya tidak aktif. Berjalan ke dalam kamar, di atas meja belajar anak sulungnya yang tampak rapi memudahkan dia mencari buku khusus kontak nomor telepon.
Dering telepon memanggil setiap nomor di teman-temannya. Ada dua orang yang tidak ikut pergi. Salah satu teman anaknya yang bernama Kokom memberikan alamat yang dan wilayah gunung yang di daki.
Dia mengusap kepalanya yang mulai berkeringat. Setelah menutup telepon, Kesya memberitahu suaminya agar segera pulang. Dia menuju ke dapur, memasukkan kembali bahan makanan yang tiidak jadi di masak. Membereskan semua benda yang akan di bawa, sebuah koper berada di bagian ruang tamu.
__ADS_1
Mimpinya mengenai anaknya yang berdiri di tengah kabut putih pekat.
Pencarian orang-orang hilang, para pendatang memasuki wilayah kaki bukit di perkampungan. Bahkan para aparat kepolisian dan Tim SAR ikut menghilang. Selain memiliki pesona keindahan dan daya magis yang kuat. Gunung Keramat mengambil banyak nyawa, kabar kematian di dalam sana bukan menjadi hal tabu di perbincangkan.
Tidak untuk pergi mengantarkan nyawa, suaminya bersikeras meminta dia tenang. Mengutus beberapa tim pencari, kabar mengejutkan dari seorang pria yang memberi kabar di surat kabar mengenai penemuan pendaki di tepi jalan dekat perkotaan.
Rumah sakit ramai beberapa wartawan yang mengambil berita. Teriakan histeris Kesya melihat kaki anaknya putus. Dia mendengar dengan jelas kronologi kejadiannya. Ge enggan mengucap sepatah kata, dia menyesal tidak mendengar nasehat sang ibu.
Selama berhari-hari dia tidak mau makan dan minum. Hanya jarum infus sebagai penambah tenaga. Pint terbuka, terlihat kedatangan Totom dan Kiki membuatnya merasa malu akan keadaannya.
Tambahan tamu lain, Tuti yang masuk menggendong anaknya. Sosok anak kecil menunjuk, ke arah Gege yang membelakangi. “Kakek..” ucapan terbata anak berusia lima tahun ketakutan menunjuknya.
“Bawa saja Cika ke keluar bu” ucap Kiki melihat anaknya tampak gelisah.
“Tidak usah Ki terimakasih. Untuk saat ini, aku hanya ingin sendiri”
“Semua yang terjadi jadikan sebuah pelajaran berharga. Yang penting sekarang kamu selamat” kata Totom.
“Ya benar Ge, tapi dimana Sotoy dan Ruben?”
“Aku tidak tau, ingatan ku seperti terhapus, hanya mengingat tersadar di rumah sakit. Tapi penampakan hantu itu tetap membayang di alam tidur dan ketika aku membuka mata”
“Kami menghubungi para tim pencari. Menurut informasi, kabut tebal menutupi gunung.”
__ADS_1
“Aku juga mencari tau pada sanak saudara yang tinggal di kaki bukit, aku mendengar ada pria yang tersesat. Semoga saja dia salah satu dari sahabat kita” ucap Totom mengusap dagunya.
......................
Memperkirakan perputaran hari di kaki gunung seperti pemndangan sore yang menunjukkan pergerakan malam. Seorang wanita tersesat di tengah rute pepohonan pinus yang mengapit antar Villa dengan perkampungan di kaki bukit. Dia mengira jalan lurus sama seperti memasuki jalan menuju ke Villa.
“Loh! Kok jalannya berubah? Apa karena aku terlalu senang mendengarkan musik?”
gumamnya melingak-linguk menghafal awal dia meneruskan perjalanan.
Dia kesulitan melihat sekeliling, suara lolongan anjing mulai tertengar menakuti. Iyem tidak sadarkan diri. Tubuhnya di seret masuk ke dalam sebuah rumah yang letaknya beberapa jarak di dekat Villa.Tedi mencari Iyem, dia bersama Beto menyorot senter sambil memanggil namanya.
“Gimana ini Ted? Hari makin larut” Beto berjongkok mengusap keringat.
“Eh bentar, ini syal milik Iyem. DIa pasti tidak jauh dari sini..”
Meneruskan langkah sampai melihat sebuah rumah bercahaya lampu redup. Berto menutup mulut Tedi yang berteriak memanggil nama Iyem. Dia menggiringnya bergerak mengendap bersembunyi antara sela pagar. Teriakan Iyem terdengar dari luar, Beto menahan Tedi untuk masuk.
“Tunggu Ted, lihat ada pria membawa pisau! Kita mencari senjata sebelum masuk ke dalam. Kita juga tidak tau ada berapa orang__” perkataan Tedi terhenti.
Suara serak Iyem mereka ikuti dari arah belakang bagian rumah. Pintu mudah terbuka, mereka mendorong pintu. Dari luar, rumah itu tidak terlihat seperti rumah yang tidak berpenghuni. Pada bagian belakang, bangunan banyak yang keropos, mereka berpencar mencari Iyem. Pada sebuah ruangan beralas tanah, Tedi tersenyum menemukannya. Tetapi dari belakang, seorang pria yang mengetahui kedatangannya memukul dari belakang menggunakan balok kayu.
“Mas Tedi! Hiks!”Iyem berteriak dalam tangisan.
__ADS_1
Beto memukul kepala pria berbaju hitam itu menggunakan batu. Pukulan teramat keras sampai tidak sadarkan diri. Dia melepaskan ikatan yang mengikat Iyem dan membantu Tedi berdiri.