Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Menghalau iblis berujung derita


__ADS_3

Lima hari terlewati tanda kabar dari detektif dan pendampingnya. Edi mengutus beberapa orang untuk mencari akan tetapi sampai kini berita itu lenyap bagai di telan bumi . Ruang kerja ramai di masuki para pekerja yang antri menunggu gaji. Mena duduk di sampingnya, dia memegang boneka memperhatikan kegiatan ayahnya. Wajah ketakutan pak Jumani melihat Mena, menundukkan wajah yang ketakutan posisi jarak jauh dari meja.


“Pak, bapak baik-baik saja?”


“Ya Tuan, saya mau minta ijin pulang kampung. Saya mau berhenti bekerja.”


“Ada masalah apa pak? Bukannya bapak mengatakan kalau bapak sudah tidak memiliki sanak saudara? Mhhm, kalau bapak ada masalah katakan ke saya. Jangan berhenti bekerja pak.”


“Saya..”


Jumani melihat tatapan mata Mena. Dia ketakutan tidak berani menjawab yang sesungguhnya. Teringat kejadian kemarin, tangannya yang dingin hanya berani menunduk menerima gaji. Karena alasan yang tidak masuk akal, Edi tidak mengijinkannya berhenti bekerja. Dia di beri tips dan uang tambahan, Jumani mengucapkan terimakasih lalu segera pergi.


“Jumani, aku tau kau pria yang suka bermain dengan banyak wanita.”


Kepala Mena berputar ke belakang melihatnya. Tangannya memegang bangkai seekor ayam, sekitar mulutnya di penuhi darah. Dia melepeh potongan cakar ayam, gerakan cepat Mena memasukkan cabikan daging ke dalam mulut pria itu.


Jumani terbangun memukul jantungnya yang terpompa sangat cepat. Dia memuntahkan daging, di bagian dinding dekat meja ada Mena memegang ayam.


“Jumani, kau tidak boleh melupakan masa lalu mu. Kau tidak lebih dari seorang pria cabul”


“Tidak! Pergi kau anak setan! Ahh!”

__ADS_1


Suara ketukan pintu terdengar keras, para pekerja lain menggedor membangunkannya. Jumani mengusap wajahnya. Dia juga mencari bekas muntahan di bawah kasur. Penampakan Mena sangat nyata, anak kecil itu hari ini memakai baju yang sama.


Tahun yang terbuang di bayangi sisi hitam sisi hitam. Seorang pria yang menghabisi wanitanya karena tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Sari terbunuh di saat dia sedang mengandung, Jumani meninggalkannya begitu saja di dalam sebuah gubuk yang tidak jauh dari persawahan. Semenjak itu dia meminta perlindungan dari Capit agar di ganggu sosok Sari.


Jimat, benteng pertahanan tubuh, sosok jin pendamping dan ritual setan yang setiap malam dia lakukan di sungai. Malam jumat ini Jumani melakukan ritual di sungai di selimuti ketakutan. Penampakan Sari berbaju putih, kakinya tidak terlihat saat dia terbang pindah ke bebatuan yang lebih dengan posisi persemedian. Tawa lain berasal dari Mena membawa boneka kesayangannya menggerakkan tangan mendekatkannya ke Sari. “Ampun Sari, Mena jangan kau lakukan ini. Ahh!”


Sedetik kedipan mata, Jumani ada di sebuah tempat mirip lorong panjang berisi susunan api-api terbang tanpa ada yang membakarnya. Di ujungnya ada dua orang Capit yang berpostur tubuh oria dewasa dan satunya lagi anak-anak. Dia mencekiknya, mencabik tubuhnya setelah itu mengambil semua organ tubuh miliknya.


Rasa sakit terasa nyata, dia sekarat berlari minta tolong.DI belakangnya Mena mengejar memutar lehernya tanpa mengeluarkan retakan suara. Nafas Jumani hampir berhenti, dia membuka mata melihat tubuhnya masih utuh.


Mencari cara supaya bisa keluar dari rumah itu, Jumani sembunyi-sembunyi membawa tas keluar dari jendela di pergoki Mena yang tersenyum diluar halaman.


“Jumani, kau sangat ketakutan! Ahahah!” Mena menarik kedua bola matanya.


Pria itu di lempar masuk ke dalam kamarnya, dia menggerakkan batang pohon yang besar membunuhnya. Jeritan pekerja heboh ketakutan melihat mayatnya. Kematian Jumani menakuti semua pekerja. Mobil ambulan yang membawa jasadnya mengalami kecelakaan lalu lintas. Kendaraan itu jatuh terguling mengeluarkan jasad Jumani dari dalam.


Si anak iblis tertawa melihat dirinya yang masih menderita walau telah menjadi mayat. Sementara di sisi lain Edi memijat dahinya memikirkan kematian Jumani yang tampak tidak wajar. Dia juga mengaitkan semua orang di sekeliling menghindar. Para rekan kerja, sahabat dan pekerjaannya. Mila yang begitu perhatian seolah berharap lebih padanya tiba-tiba saja hilang tanpa ada kabar. Dua bulan berlalu, kedatangannya kembali mengejutkannya. Mila tersenyum dengan penampilannya yang berbeda meminta dia segera melamarnya.


“Kemana saja kau? Aku sadar Mena butuh sosok ibu, lusa kita akan segera melangsungkan pernikahan Mila” ucap Edi.


Dia terhipnotis akan kecantikan wanita itu, setelah insiden kecelakaan dan pembunuhan berencana dari sosok setan kecil berwujud manusia yang mau membunuhnya. Dia mencari ilmu mempersiapkan diri membalas perbuatannya.

__ADS_1


“Ya mas, aku akan sabar menunggu. Halo Mena, kenapa engkau murung? Mulai sekarang ibu akan ada di samping mu” ucapnya sambil mengusap punggungnya.


Di dalam kamar Mila, udara aroma lilin terapi berubah tercium sangat busuk. Mila tau ada sosok lain yang masuk ke dalam kamarnya. Dia menahan rahang Mena yang tiba-tiba hadir menindih tubuhnya. Tenaga yang keras, tangan kanan Mila menusuk kepalanya dengan keris yang sangat tajam. Suara mengerang kesakitannya menarik keris yang tertancap berlari pergi.


“Aku tau siapa ibu mu, wanita iblis di gunung keramat” gumamnya menahan luka cakar di tangan.


Mena kembali ke dalam kamar menekan luka di kepalanya. Darah hitam yang keluar menggenang keluar kamar. Bi Tang tang terkejut lalu berlari memanggil Edi. Dia segera mengangkat anaknya masuk ke dalam mobil membawanya ke Rumah Sakit.


Tubuh anak kecil itu di isi sosok iblis, darahnya sejak lahir berwana hitam. Kalau menurut medis disebut Ketidak kenormalan pada darah yang kurang mengandung oksigen akan mempunyai warna yang lebih gelap. Kelainan pembuluh darah, sementara sebagian lainnya timbul karena penimbunan pigmen atau zat warna pada kulit. Namun di dalam dunia mistis itu di kaitkan dengan tanda kematian, aliran setan dan ghaib lainnya.


Edi masih ingat jelas bagaimana dia membawa Mena atas persetujuan Mila. Dia tau keanehan dan kebiasaan Mena tidak lazim. Begitu juga kematian Jumani, sebelum menutup mata dia menulis nama Mena dengan darahnya sendiri di ubin.


......................


Semua yang tidak tampak tidak akan terbuang begitu saja. Kegelapan bersemayam di balik jarum jam waktu. Kesengsaraan memaksa kehendak keinginan menggunakan jalur mistis. Terkadang Mila menjadi setengah gila setelah melakukan ritual menjaga benteng pertahanan mewaspadai di bunuh Mena.


Dia tetap berusaha tegak seperti sedia kala. Hari Pernikahan Edi dan Mila, kebahagiaan tiada tara bersinar di atas pelaminan Edi tidak mau melepaskan genggaman tangannya pada Mila yang semakin mempercantik dirinya dengan topeng palsu menggunakan susuk agar Edi semakin terpikat. Mila memahami sebab akibat semua kesesatan ini. Mimpinya tadi malam mengisyaratkan kematiannya yang semakin dekat.


Dia minta ijin pada Edi pergi ke kamar mandi, wajahnya mulai gatal-gatal melihat di cermin Nampak perubahan yang mengerikan. “Apa yang terjadi? Siapa yang menyalahi wajah ku? Arghh!”


“Mila, bagaimana permainan ku hari ini? Bagus bukan? Ahahah” Mena membanting pintu.

__ADS_1


__ADS_2